Tasawuf: Asketisisme, Mistisisme dan Pandangan Dunia Islam

Manusia punya banyak cara untuk bisa bertahan hidup, menghindari musibah dan keputusasaan, dan akhirnya bahagia dan puas dengan kehidupannya. Agama adalah salah satu di antara mekanisme kompleks yang manusia punya untuk bertahan dalam hidup.

Pada umumnya, manusia lahir tanpa membawa pengetahuan bawaan di otak, sehingga kebudayaan orang tua dan masyarakatnya ia ambil begitu saja sebagai kebenaran. Agama adalah salah satu di antara kebudayaan yang diwariskan tersebut.

Meski tidak tampak secara nyata, agama itu hidup bagaikan organisme, yang bergerak, mencari saluran dan tempat yang tepat untuk bisa terus bertahan. Sepanjang sejarah umat manusia, sejak kita mengenal agama, belum satu kali pun kita semua berikrar bosan dengan agama, dan akhirnya meninggalkannya. Beberapa model agama tertentu mungkin tak lagi bertahan, tapi ide dan perasaan keagamaan terus hidup dan menghasilkan agama-agama yang baru.

Islam sebagai sebuah agama yang khas juga menggunakan beberapa saluran untuk menemukan tempat yang tepat agar bisa terus bertahan. Sadar atau pun tidak, para penganut agama Islam menggunakan beberapa cara—bukan hanya satu cara—untuk mempertahankan perasaaan keimanannya pada Islam.

Lewat akidah dan teologi, pokok-pokok keimanan dalam Islam terus disalurkan. Fikih menjadi tempat bagi etika normatif, tata cara beribadah, dan hukum halal dan haram dipertahankan. Dan tasawuf menyediakan ruang bagi Anda untuk bisa merasakan sebuah pengalaman mistik berada dekat dengan Tuhan.

Bagaimana Tasawuf Bermula

Salah satu hal yang paling menakjubkan dari perilaku manusia adalah berbeda dan beragamnya hal-hal yang disukai dan digemari oleh mereka. Jika Anda seorang penggemar musik klasik, jangan Anda kira bahwa itulah satu-satunya jenis musik yang pantas untuk digemari semua orang. Pada abad ke-8 dan ke-9 masehi, saat-saat dunia Islam berhasil membangun kerajaan dan membentuk peradaban besarnya, model keagamaan yang digemari di sana tidak hanya satu.

Perhatian mayoritas umat Islam saat itu, termasuk keluarga raja dan kaum ulama, adalah menyusun sebuah ajaran hukum Islam, sehingga orang-orang bisa diatur di bawah payung ajaran hukum yang sama. Kerja-kerja ilmiah yang paling sibuk terjadi di masjid, di madrasah, dan di atas kitab-kitab yang ditulis para fuqaha (ahli ilmu fikih). Jika hari ini kita melakukan survei, barangkali kita akan mendapati bahwa jumlah jilid kitab yang ditulis dalam tema fikih—sepanjang sejarah Islam—jauh lebih banyak dari tema di luar fikih.

Baca Juga:  PERTAMA KALI TERJAGA TENTANG KESATUAN TRANSENDENTAL AGAMA-AGAMA

Secara alami, aliran-aliran pemikiran yang paling subur mengalami pertumbuhan adalah aliran-aliran fikih. Sampai-sampai muncul anggapan—yang kemudian menjadi keyakinan—bahwa ilmu fikih (nama lainnya: ilmu hal) adalah ilmu yang paling penting, berstatus fardhu ‘ain, dan tempat bergantungnya keselamatan hidup dunia dan akhirat seseorang. Sejak saat itu, syariah diidentikkan dengan fikih. Syariah Islam adalah fikih. Muslim yang syar’i (yang hidup sesuai syariah Islam) adalah yang paling tahu dan ketat dalam soal fikih.

Tapi, hanya karena Anda menggemari fikih, bukan berarti itu adalah satu-satunya benda yang harus digemari oleh semua orang. Pada abad ke-8 dan ke-9 masehi tersebut, meski tidak sebanyak jumlah penggemar ilmu fikih, mulai bermunculan orang-orang Muslim yang punya kegemaran lain yang berbeda dari fikih.

Orang-orang ini bertanya: Apakah kesalehan dan keimanan itu terletak dalam pengamalan fikih? Mengapa saya tidak merasakan apa-apa di hati saya, selain perasaan bahwa saya sudah menunaikan kewajiban fikih? Apakah saya tidak bisa merasakan hangatnya berhubungan dengan Tuhan, dengan Allah?

Tak butuh waktu lama, orang-orang ini pun menjadi satu gerakan kebudayaan dan kemasyarakatan yang luar biasa, yang disebut dengan kaum sufi (pengamal ilmu tasawuf). Penelitian-penelitian sejarah menunjukkan bahwa pada mulanya mereka tidak disebut sufi, melainkan disebut zahid (jamaknya: zuhhad), yaitu orang-orang asketik, yang meninggalkan urusan dunia, dan fokus kepada ibadah dan olah ruhani. Karena kezuhudan mereka, mereka lebih memilih pakaian dari kain wol (shuf) yang sederhana, daripada pakaian yang mewah.

Dalam beribadah, tentu saja mereka menggunakan fikih. Tapi, jika fikih mengajarkan dua rakaat shalat Sunnah, para sufi akan melaksanakan lebih banyak rakaat. Kenapa demikian? Mereka berusaha supaya setiap rakaat yang mereka kerjakan membawa perasaan mendekat kepada Tuhan. Besarnya dorongan untuk mendekati Tuhan menjadi alasan logis mengapa para sufi begitu berani menciptakan bentuk-bentuk ibadah yang tidak umum, dan merangkumnya dalam tarekat-tarekat.

Baca Juga:  MURSYID PERSPEKTIF PSIKOLOGI

Bagi kaum zahid dan sufi, agama bukan sekadar fikih yang harus digugurkan kewajibannya. Mereka melihat fikih sebatas metode ibadah, hanya salah satu metode, dan mereka berhak menambah apa pun atasnya dalam rangka mendekatkan dirinya dengan Tuhan. Setelah kemunculan tasawuf, fikih mendapat tantangan. Fikih percaya bahwa Tuhan adalah pemberi hukum, yang maha adil, dan akan membalas semua kesalahan Anda. Tasawuf lebih percaya bahwa Tuhan adalah kekasih yang maha pemurah, penyayang, dan pemaaf.

Dari Asketisisme menjadi Mistisisme

Apakah tasawuf berevolusi dari sebuah gaya hidup asketik menjadi aliran mistik yang eksotik? Tidak ada yang tahu secara persis. Namun, sejarah bisa membantu kita memahami bagaimana tasawuf terbentuk lewat balutan rasa rindu manusia akan kehidupan asketik yang lebih luhur, dan rasa rindu akan realitas Tuhan yang lebih sejati. Para sufi menyandarkan gaya hidup keagamaannya kepada, pertama, Nabi Muhammad, dan kedua, sahabat-sahabatnya yang bersahaja.

Salah seorang sahabat itu adalah Abu Dzar al-Ghifari. Di antara pengikut pertama Nabi, sosok ini adalah sosok yang hidup sangat sederhana, menghindari lingkaran penguasa politik, dan fokus ke dalam ibadah dan pertobatan. Di kemudian hari, gerakan oposisi Hasan al-Basri terhadap Bani Umayyah, dan gerakannya yang berupa majelis ilmu dan zikir, sering dikaitkan dengan asketisme awal Abu Dzar al-Ghifari. Hasan dan rekan-rekannya muak dengan hedonisme kerajaan Umayyah, dan berusaha melawan arus tersebut dengan asketisisme Islam.

Di abad-abad selanjutnya, para sufi lebih sering menyebut diri mereka sebagai faqir (kaum fakir), untuk menunjukkan bahwa mereka itu miskin di dunia, sebab yang mereka rindukan adalah semata-mata Tuhan dan kebenaran, bukan harta dan kedudukan. Akan tetapi, asketisisme bukan satu-satunya dimensi dalam tasawuf. Ada dimensi lain yang juga sangat penting, dan justru menjadi alasan mengapa para sufi menjadi asketik dan menjauhi kesenangan material di dunia. Dimensi itu adalah mistisisme.

Baca Juga:  Teladan Komunikasi dari Kisah Nabi Ibrahim

Jika Anda bertanya kepada orang-orang Islam secara umum hari ini, mungkin mereka akan heran dengan apa itu mistisisme. Terlepas dari kontroversi seputar istilah asing yang berasal dari bahasa Yunani myein (misteri) ini, tasawuf secara obyektif mengandung dimensi mistik. Mistisisme itu terletak pada Tuhan, misteri sesungguhnya, sekaligus kekasih manusia satu-satunya. Mengapa sufi menjauhi dunia dan menjadi asketis? Karena mereka jatuh cinta pada Tuhan yang mistis.

Tuhan bagi kaum sufi adalah kekasih, cahaya, dan tujuan yang paling dicari. Meski begitu, meski Tuhan itu disebut dengan nama-nama yang indah bagaikan kekasih yang bisa Anda peluk dan cium, Dia sama sekali tidak mungkin dipahami. Di sinilah mistik dan misteri dalam tasawuf dimulai. Mistik menjadi alasan mengapa cara tasawuf mengungkapkan emosinya adalah lewat puisi.

Dalam penilaian sufi, tak ada penalaran logis dan ilmiah yang bisa menjelaskan Tuhan dan menunjukkan jalan menuju Tuhan. Semua itu tidak bisa diketahui oleh akal manusia. Seperti halnya myein yang berarti menutup mata, seorang sufi akan menutup matanya, menjalani ritual yang diajarkan gurunya, menerima itu semua dengan sukarela, dan percaya bahwa itulah jalannya menuju Tuhan, kekasihnya. Mereka tak mau bertanya, seperti para filsuf selalu saja bertanya. Jika sudah cinta, apalagi yang harus ditanyakan?

Penutup

Dengan adanya saluran bernama tasawuf, menurut beberapa ilmuwan, hakikat sejati agama Islam masih bisa terus terjaga. Menurut ilmuwan seperti Nurcholish Madjid, Naquib al-Attas, Hossein Nasr, dan Ali Allawi, pandangan-dunia (worldview) Islam selama ini dijaga dalam tradisi tasawuf. Akidah dan fikih jelas melestarikan asas-asas keyakinan dan norma perilaku dalam Islam. Namun, seperti perkataan para sufi, Islam adalah satu realitas yang harus dirasakan dan dinikmati, bukan dilaksanakan hanya karena takut dihukum setelah mati.

6 Shares:
You May Also Like
Read More

SASTRA DAN SUFISME

Haidar Bagir Dewan Pembina Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf Dalam sufisme, puisi lebih sering lahir dari kecintaan…