Syekh Abdul Karim al-Bantani: Guru Sufi dan Dalang Perlawanan Petani Melawan Belanda

Syekh Abdul Karim al-Bantani lahir di desa Lempuyang, Serang, Banten pada tahun 1840 M. Silsilahnya tersambung dengan Sultan Maulana Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati. Setelah menerima pendidikan keagamaan di tanah kelahirannya, ia kemudian belajar ke Makkah dan bertemu dengan Syekh Nawawi al-Bantani, Kiai Kholil Bangkalan, Syekh Mahfudz Tremas dll.

Di kota Makkah inilah Syekh Abdul Karim berguru secara intens kepada Syekh Ahmad Khatib Sambas. Ia menjadi seorang ulama asal Banten yang berhasil mendapat predikat Khalifah Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) di Asia Tenggara dan Makkah sepeninggal gurunya Syekh Ahmad Khatib Sambas wafat.

Setelah men-download ilmu di Makkah, Syekh Abdul Karim kembali ke Banten dan mendirikan pesantren untuk mentransfer ilmu dan semangat juang anti kolonial.  Melalui Syekh Abdul Karim TQN tersebar luas di Nusantara. Bahkan jejaring tarekat Abdul Karim juga terkenal karena sebagian besar murid terdekatnya dihubungkan dengan perlawanan petani melawan Belanda tahun 1888 yang dikenal Geger Cilegon.

Di antara murid-murid Syekh Abdul Karim yang mempunyai peranan penting dalam perlawanan Banten antara lain: H. Sangadeli dari Kaloran, H. Asnawi dari Bandung, H. Abu Bakar dari Pontang, H. Tubagus Ismail dari Gulacir, Kiai Marjuki dari Tarana dan Kiai Wahid dari Beji.

Berkat tokoh-tokoh tarekat tersebut Banten di abad ke-19 banyak terjadi perlawanan menentang Belanda. Tidak ada satu pun di daerah Banten yang sepi dari perlawanan rakyat yang menentang penjajahan Belanda.

Selain di Banten, pertempuran lain melawan penjajah yang dimotori oleh pengikut tarekat juga tercatat pernah meletus di Kalimantan Selatan (1860-an), dan Lombok (1891) dll.

Potret di atas menunjukkan jika ada yang mengatakan kaum sufi pekerjaannya hanya memutar tasbih dan wiridan saja, maka anggapan itu salah. Kaum sufi juga layaknya manusia pada umumnya, bekerja mencari nafkah, bersosial, berpolitik, bahkan juga mengangkat senjata jika diperlukan.

Baca Juga:  Belajar Pluralisme dari Al-Qur'an

Sumber: Diringkas dari buku Masterpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama Santri (1830-1945) karya Zainul Milal Bizawie.

0 Shares:
You May Also Like