Ayo Bertasawuf

Oleh: Darmawan

Ketua Program Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf

Apa itu tasawuf? Apakah tasawuf merupakan bagian dari ajaran Islam? Kenapa kita diajak untuk bertasawuf bukan berakhlak? Alquran dan Hadis menganjurkan, “Jangan berbohong, jangan sombong, jangan mencaci, jangan menghina, jangan berbuat curang dan jangan buruk sangka.” Kalau begitu kenapa kita tidak berpegang pada Alquran dan Hadis saja, sehingga kita akan memiliki akhlak yang baik? Inilah beragam pertanyaan untuk mengawali pembahasan ini.

Menjawab pertanyaan di atas, kita harus membedakan terlebih dahulu apa itu akhlak dan tasawuf? Akhlak yang baik diidentikkan dengan sabar, berperasangka baik, berbudi luhur, jujur, amanah, dan lain sebagainya. Itu semua adalah hasil dari proses yang sangat panjang. Pertanyaannya adalah bagaimana supaya kita memiliki hasil tersebut (akhlak mulia)?

Ada sebuah analogi menarik yang disampaikan oleh Pak Haidar di chanel Youtube Nuralwala. Katanya, “Menjadi kaya itu sangat mudah. Cukup dengan memiliki uang sebanyak mungkin. Pertanyaannya ialah bagaimana agar kita memiliki uang tersebut? Ya, tentu ada ilmu dan cara-caranya. Ilmu agar kita kaya ialah ilmu bisnis. Siapa pun yang bersungguh-sungguh untuk menjalankan dengan penuh perjuangan dalam berbisnis, maka dipastikan ia akan menuai hasil yang maksimal. Pada posisi ini ia diatributkan sebagai orang kaya. Seperti itulah akhlak dan tasawuf. Akhlak adalah hasil dan tasawuf ialah ilmu untuk menggapai akhlak tersebut.” Artinya akhlak yang baik itu adalah hasil dari upaya bertasawuf.

Tasawuf sebagaimana asal katanya yaitu ash-shafa (kesucian), maka bisa didefinisikan dengan kegiatan berusaha menyucikan jiwa/hati. Dalam doktrin tasawuf penyucian jiwa/hati (tazkiyah al-nafs) dari sifat-sifat tercela diistilahkan dengan takhalli. Pada tahapan ini manusia diajak untuk menahan diri dari hawa nafsu, syahwat, amarah dan mengosongkan diri dari sifat-sifat yang merusak  jiwa (sifat al-muhlikah). Sebagaimana al-Quran ungkapkan “Sungguh, telah beruntunglah siapa yang mensucikannya (jiwa itu dan mengembangkannya), dan sungguh, merugilah siapa yang memendamnya (yakni menyembunyikan kesucian jiwanya dengan mengikuti hawa nafsu dan godaan setan, atau menghalangi jiwa mencapai kesempurnaan dengan membuat maksiat). (QS. Asy-Syams 91: 9-10)

Baca Juga:  Iktikaf ke Iqra': Dari Ritual ke Zikir Sosial

Tahapan selanjutnya ialah tahalli berarti berhias. Artinya adalah membiasakan diri dengan perangai dan sikap serta pebuatan yang baik seperti zuhud, sabar, tawakal, syukur, ridha, ikhlas, mahabba dll.  Setelah seseorang melalui dua tahap tersebut, maka tahap ketiga yakni tajalli. Pada tahapan ini seseorang hatinya sudah terbebaskan dari tabir (hijab) yaitu sifat-sifat yang merusak. Tajalli bermakna pecerahan atau penyingkapan. Pada fase ini manusia dalam tindak-tanduknya selalu dipenuhi dengan akhlak yang baik. Pada saat yang sama, ia sebagai manifestasi asma’ dan sifat Allah yang penuh dengan welas asih, kedamaian dan kelembutan.

Dengan demikian tasawuf dan akhlak tidak bisa dipisahkan. Keduanya terkait sangat erat. Tasawuf itu ialah proses. Akhlak merupakan hasilnya. Oleh karenanya, para ulama merumuskan dan mengajarkan ilmu tasawuf tidak lain ialah untuk memastikan manusia, agar sukses di dalam memelihara kebersihan hatinya, sehingga bisa merahi kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Maka dari itu, ayo kita bertasawuf sedini mungkin, agar mampu merahi kebahagiaan dan kesuksesan. Bukankah  kunci kesuksesan manusia terletak pada kebersihan dan kesucian hati dan jiwanya? Dan dengan kebersihan hati pula akan berefek pada lahirnya akhlak yang baik. Rumi dalam syairnya berkata, “Hanya cermin yang bersih yang mampu memantulkan cahaya”.

0 Shares:
You May Also Like
Read More

Asupan Cinta

Oleh: R. Sunarto Penikmat Sastra, Filsafat, dan Tasawuf Adakah Aku? Pertanyaan ini bisa menyerang pikiran manusia. Seperti yang…