Ummu Jamil: Penghasud Sejati dan Potret Buram Seorang Istri

Sudah jamak diketahui, bahwa nama seperti Qabil, Kan’an, Azar, dan Abu Thalib adalah nama-nama poluler yang sering kita dengar, bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat disayangi Nabi. Qabil disayang Nabi Adam, Kan’an oleh Nabi Nuh, Azar oleh Nabi Ibarahim, dan Abu Thalib adalah orang yang sangat disayangi Nabi Muhammad Saw.

Namun, semuanya tidak memperoleh cahaya hidayah dari Allah Swt. Sehingga, meskipun kebenaran tampak jelas di depan mata, namun mereka lebih memilih untuk mengingkarinya. Abu Thalib misalnya, tokoh yang selama hidupnya melindungi Nabi Muhammad Saw. dari kejahatan kafir Quraisy tidak mau menerima ajakan ponakannya untuk berislam.

Begitu pun juga dengan Kan’an, putra kesayangan Nabi Nuh yang menolak keras dan tegas seruan untuk beriman. Padahal, sesaat sebelum banjir bandang meneggelamkan dirinya, sang ayah, Nabi Nuh As., sudah menawarkan bantuan untuk segera naik ke atas perahu. Akan tetapi, karena kesombongan hatinya, Kan’an menolaknya dan akhirnya meninggal terseret banjir.

Rupanya, selain nama di atas, termasuk kesayangan Nabi juga namun tidak berhasil diselamatkan adalah: istri Nabi Nuh, Wa’ilah (istri Nabi Luth), Fir’aun (ayah angkat Nabi Musa), Abu Jahal dan Abu Thalib (paman Nabi), dan Ummu Jamil (bibi Nabi Muhammad). Namun kali ini, penulis akan fokus membahas sekelumit dan kisah singkat dari Ummu Jamil.

Penghasud Sejati dan Potret Buram Seorang Istri

Sama seperti suaminya, Abu Lahab, Ummu Jamil adalah salah seorang kesayangan Nabi Muhammad yang tidak berhasil diselamatkan. Wanita terkenal dengan nama Ummu Jamil binti Harb ini bernama asli Aura’ binti Harb bin Umayyah. Jadi, selain bibi ipar dari Nabi, ia juga memiliki garis keturunan yang dekat dengan beliau. Tak heran jika Nabi menganggapnya sebagai salah seorang yang patut untuk dihormati.

Namun, penghormatan Nabi itu tampaknya sia-sia. Pasalnya, Ummu Jamil tetap mengganggu dan menyusahkan Nabi dengan berbagai tipu daya, termasuk memasang duri dan kotoran di jalan yang akan dilewati Nabi. Bersama suaminya, ia sangat sering mengganggu bahkan menteror Nabi. Dalam surah Al-Lahab dikatakan: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa. Tidaklah berfaidah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak ia akan masuk kedalam api yang bergejolak. Dan begitu pula istrinya, pembawa kayu bakar, yang di lehernya ada tali dari sabut” (QS. Al-Lahab [111]: 1-5).

Baca Juga:  Jalaluddin Rumi: Puasa Wasilah Menyambut Hidangan Langit

Memang, sejatinya Ummu Jamil adalah perempuan terhormat. Bagaimana tidak! Ia berasal dari keluarga kalangan bangsawan yang dihormati masyarakat Quraisy. Namun, ia diibaratkan sebagai sosok yang matanya buta sebelah, karena ia membeci seluruh umat manusia. Kegemarannya hanyalah menyebarkan berita fitnah dan mengadu domba.

Sementara, puncak kebahagiaannya adalah jika ia berhasil menyalakan api permusuhan di antara orang-orang, sehingga mengobarkan api kebencian dan putusnya hubungan kekeluargaan di antara mereka. Bahkan, ia sangat sering gosip-menggosip, mengumbar kata-kata buruk di belakang orang lain, namun bermanis-manis di depannya.

Alkisah, suatu pagi, Ummu Jamil dan Abu Lahab dikejutkan oleh suara yang menyeru agar penduduk kota Makkah berkumpul. “Siapa orang yang menyeru itu, sehingga mengganggu orang tidur?” ucap Ummu Jamil. Ia lantas membangunkan suaminya agar datang melihatnya. Namun, sang suami hanya membalikkan badan. Ia merasa tubuhnya lemah karena semalam suntuk bermabuk-mabukan bersama temannya.

Sang istri tak putus asa. Berkali-kali ia membangunkan, tetapi ia tetap malas. Hingga akhirnya, dengan langkah berat, Abu Lahab keluar rumah menuju tempat seruan berkumpul. Siapa gerangan orang yang menyeru agar berkumpul? Ternyata, orang itu adalah Nabi Muhammad, keponakannya sendiri, anak dari Sayyidina Abdullah bin Abdul Muthallib.

Dua orang putra Abu Lahab telah mengawini dua orang putri Nabi Muhammad. Pastilah seruan Muhammad mengandung soal sangat penting. Abu Lahab lantas menghampiri Nabi yang sedang berdiri di Bukit Shafa, yang akan menyampaikan risalah Allah Swt. kepada seluruh umat manusia.

Nabi berseru kepada kaum Quraisy, “Hai kaum Quraisy, hai Bani Abdi Manaf, hai Bani Abdul Muthallib! Bagaimana pendapat kalian jika aku beritahukan bahwa ada serbuan pasukan berkuda dari lereng gunung itu. Apakah kalian akan percaya dengan kata-kataku?” Mereka dengan serentak menjawab, “Percaya. Kami belum pernah menyaksikan engkau berdusta sedikit pun, Muhammad.” “Baiklah, aku diutus Allah sebagai pemberi peringatan akan datangnya siksa Allah yang sangat pedih. Oleh karena itu, ikutilah aku dan berimanlah kepda Allah Tuhanku, Tuhan yang menguasai hari pembalasan.” Tegas ajakan Nabi Muhammad Saw.

Baca Juga:  9 Jalan Cinta Haidar Bagir

Mendengar kata-kata itu keluar dari mulu Nabi, Abu Lahab sangat marah dan kecewa. Ia mengira seruan itu akan mendatangkan keuntungan materi baginya. Padahal, yang diserukan Nabi adalah suatu hal yang sangat dibencinya. Maka, berkobarlah api kemarahan di dadanya. Rasa dengkinya telah sampai ubun-ubun, dan ia pun berteriak, “Celaka, engkau Muhammad! Apakah hanya untuk ini kamu mengumpulkan kami?” Setelah berkata demikian, ia bergegas meninggalkan tempat itu.

Ummu Jamil yang menunggu kedatangannya di rumah terus berharap bisa mendengar kabar baik dari suaminya. Ia bertanya pada suaminya, “Berita baik apakah yang engkau bawa suamiku?” Abu Lahab menjawab, “Celaka! Ternyata keponakanku itu mengajak agar kita mengikuti seruannya.” “Apa? Ia mengajakmu untuk mengikutinya? Sejak kapan kita jadi pengikutnya? Kalau harus dianut, engkaulah yang paling berhak menjadi panutan, bukan Muhammad.” Ujarnya dengan penuh kegeraman.

Dengan marah, mereka lalu masuk rumah sambil membanting pintu. Mereka duduk termenung dan bingung memikirkan rencana busuknya. Tujuaannya hanya satu, yaitu mengahancurkan dan menggagalkan rencana dakwah Nabi Muhammad Saw.

Apa yang menjadi topik pembicaraan di Makkah bahwa Allah telah memilih Muhammad sebagai rasul-Nya tidak menjadi persoalan rahasia. Seruan Nabi Muhammad agar masyarakat meninggalkan praktik penyembahan berhala, dan mencampakkan segala macam patung sudah menjadi terang-terangan. Bahkan, dakwah Nabi Muhammad dilakukan secara intens.

Demikian halnya dengan budak laki-laki dan perempuan yang semula mengikuti Nabi Muhammad dengan sembunyi-sembunyi, sekarang juga sudah mulai berani memperlihatkan keimanan mereka. Kini, Nabi Muhammad Saw. sudah melangkah lebih jauh lagi, dalam hal ini mengajak seluruh umat untuk kepada Allah Swt. dan mengikuti ajarannya.

Masih tentang Ummu Jamil. Ia adalah pendengki yang tidak henti-hentinya bertindak memusuhi Nabi dan kaum muslimin. Setiap hari, ia tetap mencari dan mengumpulkan duri-duri dan menyebarkannya di jalan yang akan dilalui Nabi. Pendek kata, ia tak pernah lelah berusaha untuk mencelakai Nabi.

Baca Juga:  Gus Ulil:Iman Tanpa Syarat

Di kisah yang lain, suatu pagi, Ummu Jamil terbangun dari tidurnya dengan tubuh yang terasa letih dan lemas. Sehingga, ia marasa tak mampu untuk pergi keluar rumah. Pikiran-pikiran jahatnya terus berkecamuk. Bagaimana ia dapat duduk tenang dan beristirahat jika duri-duri belum ditabur di sekitar Nabi.

Pikiran jahat itu terus menyerang wanita ini. Dengan pikiran jahatnya ia berangkat keluar rumah dan kembali mengumpulkan duri-duri. Setiap kali ia membungkuk memungut duri, tiap kali itu pula ia merasakan kakinya terasa berat untuk melangkah. Akhirnya, wanita itu duduk di pinggir jalan untuk melepas lelah sejenak. Setelah itu, ia akan melanjutkan lagu usahanya yang penuh dengan kagagalan.

Nah, pada saat itulah, tiba-tiba Ummu Jamil merasa lemas di tubuhnya. Saat itu juga, sejatinya malaikat maut mau mendatanginya. Akhirnya, tibalah sakaratul maut baginya. Kehidupannya berakhir di pinggir jalan dengan kedengkian yang masih membara terhadap Islam dan Muhammad sang utusan Allah.

Sebenarnya, kisah Ummu Jamil tentu memiliki kesamaan dengan istri Nabi Luth maupun Nabi Nuh. Meski Ummu Jamil melihat kebenaran secara nyata ada di depannya, ia memilih untuk mengingkarinya. Padahal, ia tahu secara pasti bahwa kebenaran itu disampaikan oleh keponakannya sendiri, Muhammad, sosok manusia suci yang perkataannya tak pernah mengandung kebohongan.

Tak hanya itu, Ummu Jamil merupakan potret buram seorang istri. Pasalnya, sebagai istri, ia tidak mampu menjadi “rem” bagi suaminya saat sang suami kehilangan arah. Seorang istri yang baik adalah ia yang mengetahui segala suatu kesesatan suaminya, bukan sebaliknya.

Dengan demikian, seharusnya, ia memberikan nasehat agar sang suami mau kembali kepada jalan kebenaran. Akan tetapi, Ummu Jamil tidak melakukan hal itu. Justru sebaliknya, ia malah memprovokasinya. Karena itu, tak heran jika kebencian di dalam pasangan suami istri itu kepada Nabi Muhammad saw. semakin menjadi-jadi tak berkesudahan sepanjang hayatnya. Wallahu a’lam bisshawab.

*)Salman Akif Faylasuf. Alumni Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Sekarang Nyantri di Ponpes Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

0 Shares:
You May Also Like
Read More

ZIARAH (6)

Baru di hari pertama konferensi, yakni di malam Welcoming Reception itu, saya sudah berbesar hati mendengar Sayed Ammar…