Bagaimana Doa di Saat-Saat Tertentu Bisa Mengubah Takdir?

Saya menduga saja, malam Nishfu Sya’ban, juga bulan Sya’ban, Malam Laylatul Qadar dan bulan Ramadhan, juga Hari ‘Arafah, dan hari-hari lain yang doa-doa dipanjatkan di dalamnya itu maqbul, adalah semacam musim spiritual, sebagaimana di dunia ini juga ada musim-musim material.

Sesungguhnya, semua yang di dunia ini adalah cermin yang ada di alam spiritual. Tak ada apa pun—sesuatu ciptaan atau peristiwa di dunia ini, atau di lapisan alam yang lebih rendah, yang tak ada asalnya di alam yang lebih tinggi.

Tajalliy, sebagai manifestasi (penampakan/pelahiran) apa-apa yang tadinya tersembunyi (batin), itu tak lain adalah perincian (tafshil) dari yang global (ijmal). Dari yang paling pejal tak berongga (mushmat atau shamad), yang simpel (basith) dan tak terbagi, sampai yang paling terurai. Dari yang terikat waktu dahr (perpetual), hingga yang disimpan dalam waktu zaman (linier). Demikianlah halnya dengan takdir: Ketetapan, yang berasal dari qadha permanen yang terurai di waktu dahr, yang hanya bisa diubah dengan doa—selain dengan sedekah, atau perbuatan welas asih kepada sesama.

Maka, malam Nishfu Sya’ban—seperti juga saat-saat lain yang di dalamnya kita berdoa dengan harapan Allah mengubah takdir kita yang buruk—tampaknya adalah semacam titik-titik, untuk tak menyebut waktu-waktu non linier, yang di dalamnya terletak asal dari semua yang terjadi di dunia ini, termasuk yang terjadi kepada kita.

Doa-doa kita adalah cara kita mencoba menggerakkan (asal) segala kejadian di alam amr (spiritual) agar berubah apa-apa (cerminannya) yang ada di alam khalq (material) ini. Mudah-mudahan doa kita semua di malam Nishfu Sya’ban ini diijabah oleh Allah Swt.[]

Baca Juga:  Refleksi Pendidikan ala Pesantren (1)
8 Shares:
You May Also Like
Read More

Historisitas Khittah NU

Berawal dari teman-teman Gusdur (K.H. Abdurrahman Wahid) yang banyak mengatasnamakan diri sebagai pencinta NU (Nahdlatul Ulama). Kendati demikian,…