Tanggapan atas Pertanyaan Artikel Akhirat Bukanlah “Kelak”, tapi Selalu Sekarang

Ada pertanyaan—yang tentu sangat wajar/natural—sehubungan dengan artikel saya yang berjudul  Akhirat Bukanlah “Kelak”, tapi Selalu Sekarang. Tuhan Tak Memberi Pahala Kelak, tapi Sekarang. Dan Selalu saja Begitu. Begini:

Bagaimana dengan ayat: Walal akhiratu khairul laka minal ula (dan sesungguhnya akhirat—yang belakangan—itu lebih baik dari yang awal)? (QS. Ad-Duha [93]: 4). Bagaimana menjelaskan bahwa kehadiran dunia dan akhirat itu bukan sequensial?

Waktu itu, menurut Al-Qur’an dan hadis—yang lalu ditafsirkan para ‘urafa’—ada tiga: zaman (linier), dahr, dan sarmad (waktu Allah, yang bukan waktu). Nah, yang saya sebut di dalam artikel, bahwa makna “kelak” (di waktu yang datang belakangan itu, yakni akhirat) sebagai bersifat i’tibari.

By the wayi’tibari adalah salah satu prinsip dalam bahasan Ibn ‘Arabi. Sebagaimana ketika Allah mengatakan dalam hadis qudsi: Kuntu (kaana Ana) [yang bermakna “dulu Aku”] kanzan makhfiyan, dan seterusnya.

Ada juga hadis qudsi yang di dalamnya Allah mengatakan, “Aku dulu ada ketika tak ada/belum ada sesuatu yang lainnya”.

Saya berpikir bahwa gagasan tentang dulu, sekarang, dan nanti itu adalah dalam makna itu, yakni bukan dalam makna waktu serial. Yang saya sebut i’tibari itulah.

Ada suatu ucapan Imam Ja’far, yang sedang saya pastikan akurasinya, yang berbunyi: “Bukan dari kita, orang yang meyakini bahwa kiamat itu nanti”.

Dan, ada satu hal lagi, mengatakan bahwa dua hal bersifat sekuensial—yang satu mendahului yang lain—hanya bermakna jika keduanya sama-sama terikat oleh waktu linier. Bagaimana halnya jika yang satu tak terikat waktu linier alias tak mengenal masa lampau, sekarang dan kelak—sebagaimana keberadaan akhirat?

“Inilah Sekarang. Sekarang adalah, semua yang ada. Jangan menunggu untuk Kemudian; pantik percikan, nyalakan apinya”—Rumi.

Baca Juga:  Semua Tajalli Allah itu Pasti Menakjubkan

Bukankah keberadaan akhirat terikat oleh waktu dahr. Jadi, yang mungkin benar adalah bahwa yang linier harus tercakup oleh yang perpetual siklikal. Itulah yang saya maksud, dan begitulah pandangan para ‘urafa’ sehubungan dengan kaitan antara waktu linier dan perpetual-siklikal. WalLaah a’lam…

0 Shares:
You May Also Like