Risalah Pendek tentang Dosa

Dosa itu berelasi ontologis, menurunkan atau setidaknya menahan posisi kita dalam hirarki keberadaan. Menghalangi perjalanan naik kita, bahkan membuat kita turun ke tingkat lebih rendah: tingkat  hewan ternak, atau batu yang “mati”, bahkan lebih rendah lagi. Kecuali jika termaafkan, dia menjadi baggage yang memberatkan perjalanan naik kita menuju Allah Swt. Menghalangi kita sampai kepada-Nya. Menyisakan jarak antara kita dan Dia.

Makin besar dosa, makin berat baggage, makin terhambat perjalanan kembali kita kepada-Nya, dan makin jauh jarak antara kita dan Dia. Inilah siksa: penderitaan akibat keinginan tak sampai, rindu tak terpuasi, yang meronta-ronta, akibat tinggal terpisah dari apa yang kita dambakan, belahan hati yang nun jauh di sana, tak teraih, yang semestinya meniadakan diri kita, dalam kebersatuan, meleburkan kejamakan. Dosa melemparkan kita pada kegelisahan yang menyengsarakan, menenggelamkan kita dalam panas, yang membakar ketenangan dan kedamaian kita, memasukkan kita ke neraka.

Dosa secara umum bekerja seperti prinsip karma. Selalu bersama kita, “mengganggu” kita, mendorong kita untuk suatu saat melakukan sesuatu yang memukul balik diri kita sendiri. Dosa yang kita lakukan akan secara karmaik kembali kepada kita dalam bentuk keburukan yang menimpa dan merugikan kita.

Tapi dalam Islam, ada mekanisme yang bisa membelokkan prinsip karma itu. Yaitu pengampunan, yang bisa membersihkan diri kita dari dampak karmaik dosa itu. Pengampunan memotong rantai karma itu. Karma adalah hasil operasi nama “keadilan” Allah (al-‘adl). Tapi ada nama kasih sayang atau kelembutan Allah juga (al-fadhl). Dan, dalam pertelingkahan nama-nama Allah, fadhl pada puncaknya lebih dominan dari ‘adl. Dan di antara kelompok nama Allah al-fadhl ini adalah al-ghafur atau al-ghaffar (Maha Pengampun). Maka, jika kita berdosa—kenyataannya kita malah penuh dosa—hendaklah kita membiasakan diri selalu beristigfar. Dilandasi penyesalan dan disokong oleh niat keras untuk menghindari dosa di masa yang akan datang, istigfar ini penyelamat kita dari dampak-dampak karmaik dosa-dosa kita.

Baca Juga:  Pemikiran Tasawuf Tuan Guru Umar Kelayu
1 Shares:
You May Also Like