Tafsir Sufi: Melihat Tuhan dengan Berimajinasi (1)

Oleh: Ammar Fauzi, Ph.D

(Founder Indonesia Berfilsafat dan Pengajar di Nuralwala)

Setelah kita diskusikan seputar Kenal Diri Kenal Allah yang terdiri dari beberapa sesi, sekarang kita akan membincang daya imajimasi sebagai pendekatan untuk mengenal Allah swt. Imajinasi adalah daya pengetahuan manusia yang aktif setelah mendapatkan informasi dari indra. Saat kita melakukan kontak dengan objek yang ada di luar itulah yang disebut pengetahuan indrawi al-idrak al-hiss, tetapi ketika kontak indra kita terputus karena memalingkan wajah atau karena kita menutup mata, telinga dsb, maka saat itu kita tidak ada lagi kontak dengan dimensi di luar (indrawi). Pun demikian masih ada bekas dari peristiwa kontak dengan objek luar tersebut. Bekas itu berupa gambaran yang ada dalam benak/pikiran. Ranah pikiran itu bukan pada tingkat indra, tetapi berada pada tingkat imajinasi. Artinya kita merekam dari hasil kontak diri kita, kemudian ditempatkan di satu daya yaitu daya imajinasi. Di situlah imajinasi sebagai wadah yang menampung gambaran-gambaran indrawi.

Pada tahapan berikutnya yaitu tahapan berpikir, mengolah data-data dari cerapan indrawi melalui imajinasi untuk kemudian menghasilkan hukum-hukum—yang umumnya bersifat universal atau bersifat umum berlaku lebih dari satu objek.

Sekarang kita akan fokus mengenal diri kita untuk mengenal Allah swt. dengan merenungi pengalaman kita berimajinasi. Bagaimana kita memperlakukan gambaran-gambaran indrawi yang ada di imajinasi?

Ketika seorang arsitek ingin membangun, merancang bangunan maka dia akan himpun semua pengalaman-pengalaman sebelumnya kemudian dirangkai, dibayangkan untuk mengkonstruksi sebuah bangunan yang terbaik, terindah, dan terkokoh. Selanjutnya dia akan pilih beberapa elemen, material-material untuk kemudian disusun seindah mungkin di dalam daya imajinasinya. Jadi apa yang tertuang dalam maket (bentuk tiruan gedung, kapan, pesawat dan sebagainya dalam tiga dimensi) sebetulnya itu bentuk konkret dari bentuk abstrak yang ada dalam imajinasinya, dan imajinasi itu menjadi sedemikian indahnya karena dia mengolah data yang diperoleh sebelumnya melalui indra ataupun melalui pengalaman pengalaman indra lainnya. Daya indra adalah daya yang sangat kreatif, sangat mencipta. Jadi kalau kita ingin menyadari seberapa hebatnya kita mencipta itu tinggal merujuk kembali kepada daya khayal kita, karena di dalam daya khayal itu kita memiliki kemampuan mencipta semua ciptaan apa saja.

Baca Juga:  Pergulatan Kaum Sufi dalam Menyingkap Makna Batin Al-Qur'an

Daya imajinasi itu bersifat kreatif, sangat produktif, menciptakan suatu hal yang baru bahkan sesuatu yang mungkin dalam hitungan indra kita itu mustahil untuk terjadi. Daya imajinasi juga sangat liar, maksudnya liar tidak dibatasi oleh pertimbangan-pertimbangan lain dia bisa merangkai apa saja. Sebagai contoh patung Spinx di Mesir ialah patung besar yang bertubuh singa dan berwajah manusia, ataupun kreasi-kreasi lainnya seperti wujud putri duyung. Ada atau tidaknya semua yang jelas itu merupakan kreasi daya imajinasi manusia yang menggabungkan makhluk yang bertubuh ikan dan berwajah manusia. Daya imajinasi yang liar bisa kita jumpai pada diri kita sendiri. Hemat saya tidak keliru  seorang filsuf Muhammad Taqi Misbah Yazdi menyebut bahwa salah satu keunikan manusia sebetulnya bukan hanya pada tahapan dia berpikir dan menggunakan akalnya, bahkan sebelum dia berpikir, dia berimajinasi dan imajinasi itu sendiri sudah merupakan ciri khas manusia.

Kita bisa bayangkan jika tidak ada imajinasi apakah akan ada peradaban umat manusia? Kemajuan-kemajuan fisik pada satu negeri itu menunjukan mereka mempunya daya kreasi yang begitu luas yang tidak bisa dibatasi oleh indra, kemudian manusia terus mengembangkan peradabannya. Inilah yang membedakan manusia dengan hewan.

Kita tidak menemukan peradaban pada hewan. Hewan dari awal sampai akhir hidup dengan cara yang sama. Burung dari dulu menciptakan sarangnya seperti itu, lalu semut menciptakan rumahnya di tanah dengan cara yang sama dari generasi ke generasi, tapi manusia bisa menciptakan peradabannya di angkasa dan di bumi dengan cara yang sangat unik dan sulit kita prediksikan. Manusia pada jaman dahulu membangun peradaban penuh kaya makna bahkan kita tidak bisa membayangkannya, orang Yunani membangun satu keindahan akustik dan mereka menciptakan satu gema suara dari pola pengaturan ruang, sehingga tidak perlu lagi pengeras suara. Itu semua tercipta karena ada daya imajinasi. Jadi, imajinasi ini sangat hebat sekali, luas, kreatif dan liar.

Baca Juga:  Menyelami Samudra Alif Lam Mim (Bagian 2)

Jika kita masuk ke alam imajinasi, maka apapun yang akan kita lakukan bisa dilakukan tanpa memerlukan waktu. Coba Anda berpikir apa saja dan menghayal apa saja, pada saat yang sama Anda bisa hadirkan dan kapan saja hayalan itu dan pada saat Anda ingin ditiadakan imajinasi khanyak Anda maka saat itu juga akan tiada. Di alam imajinasi kemampuan dan kekuasaan ada sepenuhnya dalam kendali kita, gambaran-gambaran yang ada dalam pikiran tidak sedetikpun dia keluar dari kendali kita, sepenuhnya berada dalam kekuasaan kita. Jadi, di alam realitas kalau ada orang yang paling kita cintai tapi dia tidak menyukai kita, dalam imajinasi dia akan patuh pada kita bahkan sampai ia menjawab cinta kita pun bisa terjadi.

Pendekatan inilah yang dilakukan  oleh Thaba’tabai—saya kira juga berasal dari Ibn ‘Arabi dalam Al-Futuhat al-Makiyyah—untuk kita bisa melihat betapa kuasanya Allah pada diri kita, sehingga kita tidak ada apa-apanya;

وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۖ

 “Dan kamu (manusia) tidak menghendaki (sesuatu kapan dan di mana pun), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana” (QS. Al-Insan [76]: 30)

Kita di hadapan Allah seperti gambaran yang ada dalam imajinasi kita yang tidak ada apa-apanya. Kapan pun Allah menghendaki untuk dihancurkan, maka saat itu pula kita tiada, seperti saat kita ingin meniadakan gambaran  yang ada dalam pikiran kita saat itu juga bisa terjadi secara konstan tanpa perlu waktu.

Semoga kita bisa lebih mudah dalam menyerap atau menyadari kehadiran Allah dalam diri kita melalui imanjinasi kita.

(Keterangan: Tulisan ini hasil transkip dari video berjudul Pengantar Tafsir Sufi 06 oleh Ammar Fauzi, Ph.D di kanal Youtube Nuralwala dan telah disesuaikan oleh tim Nuralwala)

Baca Juga:  WAHYU ALLAH: ANTARA "AL-QUR'AN" DAN "AL-FURQAN"

 

9 Shares:
You May Also Like