Tafsir Sufi: Kenal Diri Kenal Allah (2)

Oleh: Ammar Fauzi, Ph.D

(Founder Indonesia Berfilsafat dan Pengajar di Nuralwala)

Sebelumnya telah dikaji sekilas makna firman Allah swt.

سَنُرِيْهِمْ اٰيٰتِنَا فِى الْاٰ فَا قِ وَفِيْۤ اَنْفُسِهِمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَـقُّ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran Kami di cakrawala di penjuru-penjuru dunia bahkan dalam diri-diri mereka sampai tampak jelas pada diri-diri mereka bahwa sesungguhnya Dia adalah al-Haqq” (QS. Fushilat [41]: 53)

Kebanyakan mufasir menafsirkan yang di maksud dengan al-haqq itu sebagai Al-Qur’an. Namun, tampaknya juga tidak keliru jika para sufi menerjemah al-haqq sebagai Allah swt. yakni sampai tampak jelas bahwa Dia-lah al-Haqq (Allah swt). Al-Haqq di sini bukan semata-mata benar atau mengandung kebenaran/nyata, dalam bahasa Arab al-haqq juga berarti yang ada dengan sendirinya dan mengadakkan yang lainnya (al-tsabit bi nafsihi wa al-mutsbit li ghairih) artinya yang tetap ada pada diri-Nya sendiri dan menjadikan yang lainnya menjadi tetap ada, maka Dia sebetulnya ada dan keberadaan-Nya ada pada diri-Nya sendiri, lalu Dia mengadakan yang lain.   

Di dalam Al-Qur’an kita akan menemukan berupa penekanan-penekanan bahwa kita akan menjumpai Allah di segala tempat seperti ayat

وَفِى الْاَ رْضِ اٰيٰتٌ لِّلْمُوْقِنِيْنَ

“Dan di bumi, terdapat tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah swt.) bagi orang yakin” (QS. Al-Dzariyat [51]: 20).

Kita telisik lebij jeli ditemukan sebelumnya pada ayat tersebut menjelaskan tentang sikap dan sifat orang-orang yang bertakwa/beriman. Lalu, terkait kualitas orang bertakwa itu menjadi muqin yakni mereka orang-orang yang yakin sepenuhnya. Mereka diberi sifat oleh Allah swt. sebagai orang-orang yang yakin dan mendapatkan petunjuk dari tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di bumi. Di surat Al-Jatsiyah Allah swt., juga mengingatkan kita bahwa tanda-tanda-Nya bertebaran bukan hanya di bumi tapi di seluruh alam.

Baca Juga:  Tafsir Sufi: Melihat Tuhan dengan Berimajinasi (2)

اِنَّ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۗ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit-langit dan bumi terdapat tanda-tanda kebesaran Allah swt. bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 3). 

Di ayat lain Allah berfirman:

وَفِيْۤ اَنْفُسِكُمْ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ

“Dan pada diri kamu (hai manusia). Maka, tidakkah kamu melihat?” (QS. Al-Dzariyat [50]: 21)

Ayat ini menyadarkan kadang-kadang kita lupa dengan diri kita sendiri, kita selalu mempersepsi, menganggap bahwa alam itu hal di luar diri kita. Ketika Allah menyebutkan langit dan bumi seakan-akan diri kita tidak menjadi bagian langit dan bumi, karena itu Allah swt. dalam beberapa ayat mengingatkan supaya kita merujuk pada diri kita sendiri, konsentrasi dan fokus bagaimana keaadaan kita dan bisa membaca kebesaran Allah dalam diri kita. Dikatakan  “Dan pada diri kamu (hai manusia). Maka, tidakkah kamu melihat (Mellihat Allah swt)?” (QS. Al-Dzariyat [50]: 21)

Jadi, Allah sendiri—seakan penuh keheranan—kenapa kita tidak bisa melihat kebesaran-Nya dalam diri kita sendiri? Di dalam surat Al-Rum pada ayat ke-28, ketika Allah swt. sebelumnya telah memberikan berbagai banyak perumpamaan tentang kebesaran-kebesaran Allah dalam penciptaan alam, langit, dan bumi termasuk peristiwa-peristiwa di bumi yang berdekatan dengan kehidupan kita secara langsung atau tidak langsung, setelah itu Allah swt. meningatkan kepada kita semua;

ضَرَبَ لَكُمْ مَّثَلًا مِّنْ اَنْفُسِكُمْ

“Dan Allah telah membuat perumpamaan dari diri kalian sendiri” (QS. Al-Rum [30]:28)

Sesuatu akan disebut sebagai perumpamaan apabila ada kesamaan dengan yang diumpamakan. Jadi, kalau diri kita dijadikan oleh Allah sebagai perumpamaan, maka seharusnya diri kita ada kesamaan dengan Allah swt., sekalipun akan menyisakan beribu-ribu perbedaan dengan Allah. Titik kesamaan inilah yang akan menghantarkan kita untuk lebih mengenal Allah swt.

Baca Juga:  Mengenal Allah via Cermin Alquran

Karena itu, pertanyaan yang mucnul ialah kira-kira sisi apa yang menyamakan kita dengan Allah swt.? Kita seringkali mempersepsi Allah sebagai Yang Maha Pencipta. Ketika kita tempatkan Allah sebagai Yang Maha Pencipta, maka kita juga mengasumsikan Allah sebagai Yang Maha Kuasa. Penciptaan berarti satu kekuatan dan kekuasaan yang menampilkan kesempurnaan-Nya, kemudian ciptaan-Nya menunjukan kesempurnaan pencipta-Nya.  Di sini para mufasir menjelaskan lebih lanjut kira-kira sisi apa dari keunggulan, kesempurnaan kita yang bisa lebih mudah dipahami atas kebesaran Allah swt. melalui kesempurnaan yang kita miliki.

Tentunya ada dua bentuk kesempurnaan; ada kesempurnaan yang memang bawaan sejak awal kita diciptakan. Ada juga kesempurnaan yang bukan merupakan bawaan tetapi hasil ikhtiar, dan kesempurnaan inilah yang membedakan satu manusia dengan yang lain.

Ayat Al-Rum [30]:28 di atas ketika memerintahkan kepada kita semua untuk memikirkan diri supaya kita bisa menjangkau Tuhan.  Perintah tersebut bukan ditinjukkan bagi orang beriman, tetapi mencakup kepada semua orang baik yang beriman, tidak beriman, baik ataupun jahat. Artinya orang-orang yang belum menjangkau Tuhan bahkan belum mengenal Tuhan sekalipun seharusnya bisa menjadi fokus dari ayat ini. Karena itu pula, kesempurnaan yang dimaksud oleh ayat ini ialah apapun kesempurnaan yang ada pada diri manusia—baik diperoleh secara bawaan atau fitrah manusia ataupun diperoleh dari hasil usahanya—itu bisa menghantarkan kita untuk lebih mengenal Allah swt.

Para mufasir sufi kerap kali mengambil satu pengalaman yang jarang diangkat dan mungkin boleh jadi itu menjadi satu kekurangan pada diri manusia. Apabila diangkat dari sisi itu justru merupakan satu tahapan yang bisa menjangkau Allah swt. Allamah Thaba’taba’i dalam tafsirnya mengangkat satu lapisan dari kualitas manusia yaitu daya khayal. Menurutnya, seringkali manusia didefinisikan sebagai makhluk yang berpikir atau hewan yang berakal. Jadi, dengan berpikir dan berakal menunjukan bahwa manusia ini berbeda dengan dengan hewan dan makhluk lainnya. Allamah Thaba’taba’i—tampaknya penafsirannya diperoleh dari Ibn ‘Arabi dalam Al-Futuhat al-Makiyah—mengatakan, “Ada satu kualitas manusia yang ada dalam dirinya, sebelum dia berpikir manusia itu mengindra, dari mengindra kemudian manusia menyimpan hasil inderanya—hasil gambaran-gambarannya—di dalam daya khayalnya, dan dari daya khayal itu kemudian akan merekam, mengelolah dan menganalisis. Sebenarnya di tingakatan khayal kita telah mampu melihat Allah swt.”

Baca Juga:  Menyelami Samudra Alif Lam Mim (Bagian 1)

Pada tingkatan indra lihatlah segenap alam, maka kita akan menemukan Allah swt., di tingkatan imajinasi dan  khayal juga kita akan temukan Allah, dan pada tingakatan berpikir juga seharusnya pikiran kita bisa menghantarkan kepada Allah swt.

Pada pertemuan berikutnya akan ditekankan dua hal yaitu bagaimana manusia berkhayal sekaligus ia mampu mengjangkau kebesaran Allah swt., dan pada saat yang sama bisa menyadari betapa manusia tidak memiliki apa-apa di hadapan kesesaran Allah swt.

(Keterangan: Tulisan ini hasil transkip dari video berjudul Pengantar Tafsir Sufi 04 oleh Ammar Fauzi, Ph.D di kanal Youtube Nuralwala dan telah disesuaikan oleh tim Nuralwala)

0 Shares:
You May Also Like