Al-Qur’an sebagai Laku Spiritual (Bagian 2)

Setiap Muslim memiliki kesempatan yang sama untuk “melihat” Allah dalam firman-firman-Nya. Imam Ja’far Shadiq berkata, “Sesungguhnya Allah menampakkan Diri kepada makhluk-makhluk-Nya di dalam firman-firman-Nya. Akan tetapi, mereka tidak melihat-Nya” (Habib Zein bin Smith, Al-Fawâ’id al-Mukhtârah li Sâlik Ṭarîq al-Âkhrah, 2008: 185).

Maulana Jalaluddin Rumi berkata, “Jika engkau melihat Al-Qur’an  dengan matamu, maka engkau akan menemukan kata-kata. Jika engkau melihat Al-Qur’an  dengan akalmu, maka engkau akan menemukan pengetahuan. Jika engkau melihat Al-Qur’an  dengan hatimu, maka engkau akan menemukan cinta. Jika engkau melihat Al-Qur’an dengan jiwamu, maka engkau akan “menemukan” Tuhan”.

Setiap Muslim memiliki kesempatan yang sama untuk menghadiri majelis-Nya, dan diajak bicara oleh-Nya. Dalam hal ini, sebagian ulama berkata, “Barangsiapa yang ingin menghadiri majelis-Nya Allah, maka hendaklah membaca Al-Qur’an.”

Imam Jakfar Shadiq berkata, “Barangsiapa yang ingin diajak bicara oleh Allah, maka bacalah Al-Qur’an, dan barangsiapa yang ingin berbicara kepada Allah, maka berdoalah dengan khusyuk penuh rendah diri ketika sedang sujud” (Al-Fawâ’id al-Mukhtârah, hlm. 185).

Setiap Muslim memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi keluarga Allah, dan menjadi orang yang spesial di sisi-Nya. Dalam hal ini, Rasulullah saw. bersabda: “Ahli Al-Qur’an adalah keluarga Allah, dan orang istimewa-Nya Allah” (Imam al-Ghazâlî, Iḥyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, 2005: 323).

Pendek kata, barangsiapa yang ingin “melihat” Allah, menghadiri majelis-Nya, diajak bicara oleh-Nya, menjadi keluarga-Nya, dan menjadi kekasih-Nya, maka hendaklah membaca Al-Qur’an .

Selain itu, menurut Sayyidina Ibnu Mas‘ud ra., Al-Qur’an  merupakan tolok ukur bagi diri seseorang. Dalam hal ini, jika dia mencintai Al-Qur’an  dan mengagungkannya, maka dia berarti mencintai Allah dan Rasulullah saw. Sebaliknya, jika dia membenci Al-Qur’an, maka dia berarti membenci Allah dan Rasul-Nya (Iḥyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, hlm. 324). Oleh karena itu, Imam Sahl menyebutkan bahwa tanda seseorang mencintai Allah adalah mencintai Al-Qur’an (Syekh Muḥammad Nawawî al-Jâwî, Qâmi‘ aṭ-Ṭugyân, hlm. 5). Dengan demikian, jika seseorang mencintai Al-Qur’an, maka berarti dia mencintai Allah.

Baca Juga:  Rekonstruksi Nalar Pemikiran Jamaluddin Al-Afghani

Membaca Al-Qur’an secara Khusyuk dan Merenungi Makna-Maknanya

Ḥujjatul Islâm Imam al-Ghazali menyebutkan bahwa perkara yang dihendaki ketika membaca Al-Qur’an adalah merenungi makna-maknanya. Makanya, dianjurkan membaca Al-Qur’an dengan tartil, karena hal ini sangat membantu untuk merenungi ayat-ayat Al-Qur’an  yang dibaca (Iḥyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, hlm. 327 & 333).

Pendapat senada juga disampaikan oleh quṭub-nya para fakih, Imam an-Nawawî. Menurutnya, perkara yang paling dituntut dan dituju ketika membaca Al-Qur’an adalah khusyuk dan memikirkan kandungan-kandungannya. Sebab, dada akan lapang, dan hati akan terang jika membaca Al-Qur’an dengan khusyuk dan merenungkan makna-maknanya. Makanya, Syekh Ibrâhîm al-Khawwâṣ menyebutkan bahwa membaca Al-Qur’an  dengan merenungi makna-maknanya merupakan salah satu obat hati (Al-Ażkâr an-Nawawiyyah, 2001: 234-235).

Dalam praktiknya, beberapa ulama menghabiskan sebagian besar waktu malamnya untuk merenungi ayat-ayat Al-Qur’an. Bahkan sebagian ulama salaf begadang hingga semalam suntuk dalam rangka membaca satu ayat, dan merenungi maknanya. Makanya, tidak heran jika ada ulama yang pingsan ketika membaca Al-Qur’an. Bahkan ada beberapa ulama yang meninggal ketika membaca Al-Qur’an  (hlm. 234).

Sebagian ulama berkata: “Barangsiapa yang tidak membaca Al-Qur’an, maka sungguh dia telah meninggalkannya. Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an dan tidak merenungi makna-maknanya, maka sungguh dia telah meninggalkannya. Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an, merenungi makna-maknanya, dan tidak mengamalkan isinya, maka sungguh dia telah meninggalkannya” (Al-Fawâ’id al-Mukhtârah, hlm. 188).

Menurut Habib Zein bin Smith, orang yang membaca Al-Qur’an, dan mengerti maknanya, maka dia mendapatkan 700 kebaikan dari setiap hurufnya. Selain itu, sebuah atsar menyebutkan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an  dan mengerti ikrabnya (seperti mengapa dibaca rafa‘, naṣab, atau lainnya), maka dia mendapatkan 700 kebaikan dari setiap hurufnya. Hal ini jika dilakukan di luar salat. Namun, jika dilakukan dalam salat, maka dia mendapatkan 70 ribu kebaikan dari setiap hurufnya (Al-Manhaj as-Sawiyy, 2005: 497). Wallâhu A‘lam wa A‘lâ wa Aḥkam…

0 Shares:
You May Also Like
Read More

Malamati

Karena begitu susahnya menahan nafsu riya’/pamer, dalam sejarah tasawuf sampai-sampai lahir kelompok malamatiyah. Mereka menampilkan diri sebagai orang…