Menilik Kitab Tasawuf Hadratussyekh K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari

Hadratussyekh K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari merupakan pendiri NU, pahlawan nasional, pendidik, maha guru ulama Nusantara yang produktif dalam menuangkan ide dan gagasannya ke dalam sebuah kitab mulai tentang kitab sosial kemasyarakatan, keorganisasian, fikih, hadis, akidah, adab, dan tasawuf.

Setidaknya ada dua karya tulis Hadratussyekh di bidang tasawuf: Pertama, Ad-Durar al-Muntasyirah fi al-Masail at-Tis’a ‘Asyarah. Kitab ini ditulis dengan menggunakan Bahasa Arab, berisi 19 masalah yang dibahas, khususnya tentang makna kewalian, tradisi haul, dan tarekat.

Terkait kewalian, menurut K.H. Hasyim, “Wali itu tidak akan memamerkan diri meskipun dipaksa. Siapapun yang berkeinginan menjadi figur yang dikenal, maka ia tidak dapat dikatakan sebagai anggota kelompok sufi mana pun”. “Barang siapa yang mengaku dirinya wali, tetapi tanpa mengikuti dan menjalankan syariat Rasulullah saw. orang tersebut adalah pendusta.”

Kedua, Tamyiz al-Haq min al-Bathil. Kitab ini ditulis dalam bahasa Jawa Pegon dan memuat respon K.H. Hasyim atas tindakan dan gerakan tarekat yang dinggap menyimpang dari koridor syariah dan akidah.

Di dalam dua kitab tersebut, beliau telah melakukan kritik, menundukkan, serta menjernihkan makna kewalian, meluruskan sisi-sisi yang dianggap menyimpang dari praktik tarekat pada kemurnian Islam, dengan kembali mengikuti para pendahulunya yang berpedoman pada akidah dan syariat yang benar.

Melalui karya-karyanya, K.H. Hasyim telah ikut serta mengubah paradigma pemikiran keberagamaan umat Indonesia agar menjalankan ibadah secara seimbang lahir dan batin, serta mampu mewujudkan tasawuf dengan citra yang lebih positif dalam merespon problem masyarakat dan zaman.

Baca Juga:  Belajar Mencintai Sesama dari Kisah Para Bijak Bestari
0 Shares:
You May Also Like