Al-Qur’an Kitab Cinta

Oleh: Darmawan

Ketua Program Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf

Kalau Al-Qur’an adalah kitab cinta, mengapa di dalamnya terdapat ayat-ayat pedang? Itulah pertanyaan mendasar yang mengusik benak saya. Untuk mengurainya mari kita tengok ke samudra Al-Qur’an. Allah swt. berfirman;

اَلرَّحْمٰنُۙ عَلَّمَ الْقُرْاٰنَۗ 

Tuhan Sang Maha Cinta, Dia-lah yang telah mengajarkan Al-Qur’an. (QS. Ar-Rahman [55]: 1-2).

Ada hal yang menarik dan menyedot perhatian saya ketika membaca dua ayat ini. Allah memproklamirkan terlebih dahulu dengan asma’-Nya yaitu ar-Rahman (Sang Maha Cinta). Pertanyaannya ialah kenapa Ia memperkenalkan diri-Nya dengan ar-Rahman (sifat jamaliyyah yaitu sifat-sifat Tuhan yang mempesona/penuh keindahan) tidak dengan sifat jalaliyyah (sifat-sifat yang berisi aspek-aspek keagungan dan kebesaran Allah) seperti al-Mudhil, al-Qahar, al-Mumit dll? Jawaban sederhananya ialah di dalam sifat jajaliyyah Allah itu terkandung di dalamnya sifat rahmaniyyah. Sebagaimana dijelaskan “Dan Rahmat-Ku (kata Allah) meliputi segala sesuatu. (QS. Al-A’raf [7]:165).  Artinya di dalam sifat jalaliyyah-Nya terliputi sifat jamaliyyah-Nya.

Di dalam surat ar-Rahman Allah Menyebut diri-Nya sebagai ar-Rahman dan mengajarkan manusia Al-Qur’an (QS. Ar-Rahman [55]: 1-2). Untuk memahami dua ayat ini, perlu kiranya dihadirkan sebuah analogi sederhana.

Ketika ada guru besar yang masyhur dikenal seantero dunia sebagai ahli pesawat terbang, dan dia diundang untuk mengajar di sebuah universitas, tentu ia akan memberikan materi pembelajaran/pembahasan tentang ilmu-ilmu penerbangan secara detail. Hampir tidak mungkin ia akan memberikan materi ilmu kedokteran atau ilmu sastra. Dan siapa saja yang berhasil lulus mengikuti perkuliahan bersama guru besar di bidang pesawat terbang tersebut, maka dipastikan ia akan mendapatkan keahlian dalam ilmu penerbangan dengan sempurna, dan mendapatkan gelar Sarjana Ahli Penerbangan.

Baca Juga:  Tafsir Sufi: Melihat Tuhan dengan Berimajinasi (1)

Jika dikatakan—dalam surat ar-Rahman—bahwa Allah itu Sang Maha Rahman (Cinta) mengajar dan yang diajarkan-Nya ialah Al-Qur’an (‘Allama Al-Qur’an) itu berarti, Dia mengajarkan tentang ajaran rahmat, ajaran cinta-kasih yang tak terbatas. Karena Nabi Muhammad belajar langsung kepada Allah Sang Maha Cinta dan Nabi berhasil menerima kitab Al-Qur’an yang berisi ajaran rahmat, maka wajar Nabi Muhammad saw. diberikan gelar Nabi ar-Rahmah (Nabi Penuh Cinta). Sebagaimana Allah berfirman “Dan Aku tidak mengutus engkau (Muhammad) kecuali sebagai Rahmat bagi semesta” (QS. Al-Anbiya’ [21]:107).

Walaupun Al-Qur’an terdefinisikan sebagai kitab cinta, tentu tidak dipungkiri di dalamnya terdapat ayat-ayat pedang (perang).  “Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunulah orang-orang musyrik itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Taubah [9]: 5).

Kalau manusia salah memahami ayat ini, maka implikasinya agama sebagai sumber konflik yang sangat berbahaya, khususnya paham-paham keagamaan yang memadukan legitimasi kekuasaan serta tuntunan kebenaran absolut dan ekslusif. Di sisi lain, kalau umat beragama tepat dalam memposisikan ayat-ayat pedang, implikasinya agama merupakan sumber inspirasi kedamaian dan kerukunan.

Di dalam Tafsir Al-Mishbah perintah membunuh pada ayat di atas bukan perintah wajib (keharusan membunuh) tetapi ijin untuk membunuh, demikian juga perintah untuk menangkap dan menawan mereka. Alternatif yang dipilih, disesuaikan dengan sikap dan prilaku kaum musyrikin. Semakin besar bahaya yang dapat timbul darinya, semakin besar pula sangsi yang diberikan.

Ini menunjukan bahwa sejatinya perintah ijin berperang (menghukum) dalam Al-Qur’an itu ialah ditujukan untuk mempertahankan diri bukan memulai atau menyerang. Lanjutan ayat tersebut memberikan kejelasan bahwa Islam itu tidak menyerang, namun ketika diserang wajib baginya untuk bertahan. Dan hukum seperti ini adalah wajar dan berlaku bagi siapa pun. Al-Qur’an melanjutkan “Dan jika seseorang di antara musyrik itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia, supaya sempat mendengar firman Allah. kemudian antarlah ia ketempat yang aman baginya… (QS. At-Taubah [9]: 6).

Baca Juga:  Teladan Komunikasi dari Kisah Nabi Ibrahim

Dasyat memang, Al-Qur’an menyambut baik kedamaian. Jika ada yang mengajak damai, maka wajib seorang Muslim untuk menerimanya. Sebagaimana wajibnya menjawab salam. Salam artinya kedamaian. Dan jika ada yang mengucapkan salam—mengajak kedamaian, wajib bagi kita sebagai Muslim untuk menyambutnya dengan kedamaian pula. Itulah Islam penuh dengan kedamaian, penuh cinta dan itulah ajaran Al-Qur’an sebagai kitab cinta yang dihadiahkan oleh Dzat Yang Maha Cinta (ar-Rahman).   

Mari kita lihat beberapa ayat-ayat Al-Qur’an yang mengedepankan akhlak mulia seperti memberikan maaf, “Katakan kepada orang-orang yang beriman agar mereka memaafkan orang-orang yang tidak takut hari-hari Allah…” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 14). Ayat yang menyatakan sikap toleransi dan kerukunan  beragama, “Engkau tidak boleh memaksa mereka” (QS. Al-Ghasyiyah [88]: 22), “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” (QS. Al-Kafirun [109]: 6), “Tidak ada paksaan dalam agama…” (QS. Al-Baqarah [2]: 256), dan lain sebagainya.

Kesimpulannya ialah Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk selalu memupuk jalinan cinta-kasih, walaupun kita berbeda dalam suku, ras, agama bahkan spesies. Inilah Al-Qur’an kitab cinta.

0 Shares:
You May Also Like