Mencintai Makhluk, Dicintai Khalik (Bagian 2)

Kasih sayang merupakan salah satu ajaran yang sangat penting dalam Islam. Oleh karena itu, setiap Muslim tidak hanya dituntut untuk mengagungkan Allah (takwa), tetapi juga dituntut untuk menyayangi makhluk-makluk-Nya, baik manusia, binatang, maupun lainnya. Menurut Syekh Yusuf al-Qardhawi, agama terkumpul dalam dua hal, yaitu: takwa kepada Allah dan berbuat baik kepada makhluk-Nya, sebagaimana disebutkan dalam an-Naḥl (16): 128 (Lihat: Ri‘āyah al-Bī’ah fī Syarī‘ah al-Islām, 2001: 25-26). Di sisi lain, Syekh Wahbah az-Zuhaili menyebutkan bahwa amar makruf yang dilakukan oleh Rasulullah saw. terkumpul dalam sabdanya, yaitu: at-ta‘īm li amrillāh wa asy-syafaqatu ‘alā khalqillāh (mengagungkan perintah-perintah Allah dan menyayangi makhluk-makhluk-Nya) (At-Tafsīr al-Munīr, 2009, V: 133).

Kasih sayang merupakan sifat dan perbuatan para nabi dan orang-orang saleh. Ia tidak akan dicabut kecuali dari orang yang celaka, sebagaimana disebutkan dalam hadis. Menurut Mawsū‘ah Nadhrah an-Na‘īm, banyak dan sedikitnya kasih sayang seseorang tergantung kepada kadar petunjuk yang dia dapatkan. Semakin sempurna petunjuk yang dia terima, maka semakin tinggi sifat kasih sayangnya. Oleh karena itu, para sahabat merupakan umat yang paling penyayang, sebagaimana disebutkan dalam al-Fatḥ (48): 29. Sayyidina Abu Bakar ra. merupakan umat Islam yang paling penyayang kepada umat Islam. Beliau dianugerahkan keluasan ilmu dan keluasan rahmat sekaligus oleh Allah. Maka dari itu, ada ungkapan “ar-rajulu kullamā ittasa‘a ‘ilmuhū ittasa‘at ramatuhū” (semakin luas pengetahuan/ilmu seseorang, maka semakin luas pula kasih sayangnya). (1998, VI: 2086, 2095 & 2064).

Banyak contoh yang menunjukkan sifat kasih sayang orang-orang saleh terhadap makhluk Allah (seperti binatang). Abu Dzarrin (sahabat Nabi Muhammad saw.), misalnya, biasa bersedekah gula kepada semut-semut yang ada di rumahnya. Menurutnya, semut-semut itu adalah tetangganya. Maka dari itu, dia dikenal dengan nama Abū Żarrin (bapaknya semut). Di sisi lain, Habib Hamid bin Umar Hamid biasa membagi-bagikan makanan kepada kucing-kucing seperti beliau membagi-bagikan makanan kepada anak-anaknya. Menurutnya, kucing-kucing itu termasuk golongan masākīn (orang-orang miskin) yang disebutkan dalam an-Nisā’ (4): 36 (Habib Zein bin Smith, Fawā’id al-Mukhtārah, 2008: 464).

Baca Juga:  Sejarah dan 5 Ajaran Sentral Thariqah Bani ‘Alawi: Tarekat Para Habib

Kasih sayang kepada binatang juga dimiliki oleh Syekh Ahmad ar-Rifa‘i, baik kepada kucing, anjing, maupun lainnya. Dalam hal ini, ketika ada seekor kucing tidur di lengan bajunya pada waktu salat, maka beliau memotong lengan baju tersebut. Potongan lengan baju itu kemudian dijahit setelah beliau melaksanakan salat. Selain itu, dikisahkan ada seekor anjing yang terkena penyakit kusta di kampung Syekh Ahmad ar-Rifa‘i, sehingga orang-orang merasa jijik dan mengusirnya dari sana. Mengetahui hal itu, Syekh Ahmad ar-Rifa‘i―dengan sifat kasih sayangnya kepada makhluk Allah―mengambil anjing itu, dan kemudian membawanya ke sebuah gurun. Sesampainya di sana, beliau mendirikan tenda untuk berteduh. Beliau tinggal dan makan dengan anjing itu selama 40 hari lebih. Beliau juga memberinya minum, dan mengurapi tubuhnya yang terkena kusta itu.

Setelah Allah menyembuhkan anjing itu, Syekh Ahmad ar-Rifa‘i kemudian memandikannya dengan air hangat yang sudah direbus sebelumnya. Setelah itu, beliau membawa anjing itu ke kampungnya lagi. Sesampainya di kampung, beliau ditanya oleh seseorang seraya berkata, “Apakah Anda yang mengurus dan merawat anjing ini (sehingga sembuh) secara total?” Beliau menjawab, “Iya. Saya takut Allah akan menyalahkanku dan menghukumku kelak di hari kiamat sembari berkata, ‘Apakah kamu tidak punya kasih sayang kepada anjing ini? Apakah kamu tidak takut jika Aku mengujimu (dengan penyakit) seperti (yang dialami) anjing ini?’” (Fawā’id al-Mukhtārah, hlm. 465).

Berkat Kasih Sayang, Pelacur pun Disayangi Allah

Syekh al-Fairuzabadi menyebutkan bahwa kasih sayang (ramah) merupakan sebab yang menghubungkan Allah dengan hamba-hamba-Nya. Karena kasih sayang inilah Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab suci untuk kebahagiaan hidup dan mati mereka. Dan karena kasih sayang inilah Allah memberikan mereka petunjuk, rezeki, ampunan, dan menempatakan mereka di surga sebagai balasan atas keimanan dan kebaikan mereka (Mawsū‘ah Narah an-Na‘īm, hlm. 2101).

Baca Juga:  Abid Al-Jabiri: Kritik Nalar Arab dan Tradisi dengan Modernitas (2)

Menurut Rasulullah saw., Allah memiliki 100 kasih sayang (ramah). 99 kasih sayang berada di sisi-Nya, dan satu kasih sayang sisanya diturunkan ke muka bumi. Dengan satu kasih sayang ini, semua makhluk saling menyayangi satu sama lain; sampai seekor induk binatang mengangkat kukunya karena takut menginjak anaknya. Allah kelak akan mengumpulkan semua kasih sayang (ramah) yang 100 tersebut di hari kiamat, yang dengannya Dia mengasihi hamba-hamba-Nya (Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi, Salālim al-Fualā’ ‘alā Hidāyah al-Ażkiyā’ ilā arīq al-Awliyā’, hlm. 5 dan Mawsū‘ah Narah an-Na‘īm, hlm. 2093).

Oleh karena itu, tidak heran jika kasih sayang memiliki keistimewaan tersendiri di sisi Allah. Rasulullah saw. menyebutkan seorang laki-laki yang mendapatkan ampunan dan pujian dari Allah karena kasih sayangnya kepada seekor anjing. Disebutkan bahwa laki-laki tersebut sangat haus setelah melakukan perjalanan di sebuah jalan. Dia kemudian menemukan sumur di sana, sehingga bisa melepaskan dahaganya tersebut. Setelah pergi dari sumur itu, dia melihat seekor anjing yang menjulurkan lidahnya karena kehausan sembari menjilat-jilat tanah yang basah. Dia berkata bahwa anjing itu sedang kehausan seperti yang dia alami sebelumnya.

Akhirnya, dia kembali lagi ke sumur, dan memenuhi selopnya dengan air. Lalu, dia membawa air tersebut ke hadapan anjing itu. Ia pun menghampiri air itu, dan meminumnya. Maka, Allah berterima kasih kepada lelaki itu dan mengampuni dosa-dosanya. Sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad saw., “Apakah kami akan mendapatkan pahala jika berbuat baik kepada binatang ternak kami?” Beliau menjawab, “Seluruh kebaikan yang diberikan kepada makhluk hidup akan diberi balasan pahala” (Syekh Muhammad Tahir-ul-Qadri, Muhammad the Merciful, hlm. 330-331).

Baca Juga:  Menceritakan Pengalaman Ruhaniah, Apa Bisa?

Selain itu, beberapa tokoh Muslim mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Allah karena kasih sayangnya kepada makhluk, seperti Sayyidina Umar bin Khattab ra. dan Imam al-Gazali. Dalam hal ini, Sayyidina Umar ra. membeli burung yang sedang dibuat mainan dan disiksa oleh anak-anak, dan kemudian melepaskan burung itu karena kasihan kepadanya. Imam al-Gazali pernah membiarkan lalat minum tintanya sewaktu beliau sedang menulis karena kasihan kepadanya. Berkat kasih sayangnya kepada binatang ini, maka Sayyidina Umar ra. dan Imam al-Gazali mendapatkan ampunan dan kasih sayang dari Allah (Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi, Naā’i al-‘Ibād, hlm. 3, Syekh ‘Uṣfūrī, al-Mawā‘i al-‘Ufūriyyah, hlm. 2 dan Fawā’id al-Mukhtārah, hlm. 464-465).

Bahkan seorang pelacur mendapatkan ampunan Allah karena kasih sayangnya kepada seekor anjing, dan seorang perempuan masuk neraka karena tidak punya kasih sayang kepada seekor kucing. Dalam hal ini, Rasulullah saw. menyebutkan bahwa seorang pelacur dari Bani Israil melihat anjing berkeliling di samping sumur. Dia kemudian memenuhi sepatu kulitnya dengan air, dan memberikan minum kepada anjing yang hampir mati karena kehausan itu. Berkat kasih sayangnya kepada anjing ini, maka Allah mengampuni dosa-dosa si pelacur tersebut (Muhammad the Merciful, hlm. 330).

Di sisi lain, Rasulullah saw. menyebutkan seorang perempuan yang masuk neraka karena berbuat aniaya kepada binatang. Dalam hal ini, perempuan itu mengurung seekor kucing, dan membiarkannya begitu saja tanpa memberinya makan dan minum. Sehingga kucing itu mati kelaparan dalam kurungan (Muhammad the Merciful, hlm. 329). Wallāhu A‘lam wa A‘lā wa Akam…

0 Shares:
You May Also Like