Hijrah (5) : Dari Intoleran Jadi Toleran

Oleh: Bil Hamdi

Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Islam Sadra Jakarta

Dalam konteks sejarah Islam, masyarakat jahiliyah digambarkan sebagai suatu komunitas yang memegang kuat bentuk-bentuk tradisi dan kepercayaan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Akan tetapi, kepercayaan mereka yang kuat tersebut, tidak diimbangi dengan wawasan dan kesiapan menghadapi kemungkinan adanya kepercayaan lain. Itulah yang terjadi ketika Nabi Muhammad hadir dengan gagasan tauhidnya. Begitu mengetahui bahwa Muhammad membawa ajaran yang berbeda, mereka langsung bereaksi keras. Penolakan demi penolakan pun terjadi. Bahkan tak jarang berujung pada tindakan kekerasan, baik fisik maupun verbal.

Sikap ekstrem yang dilakukan orang-orang jahiliyah tersebut, sesungguhnya muncul dari upaya untuk mempertahankan status quo atau suatu keadaan yang telah dianggap mapan di tengah masyarakat. Bagi mereka, apa yang mereka yakini  (turun temurun dari nenek moyang dulu) adalah final dan tetap, sehingga ketika mereka menjumpai kepercayaan yang berbeda, sikap yang muncul adalah penafian (penolakan).

Dengan demikian, ajaran apapun yang berbeda dianggap salah, sesat dan menentang kebenaran. Karena itu tak heran jika Nabi Muhammad saw. dianggap sebagai pembuat bid’ah yang telah keluar sangat jauh dari keyakinan umum yang dianut masyarakat saat itu. Inilah bentuk dari kepicikan dalam berpikir dan keengganan untuk merenungi kembali nilai-nilai yang datang dari luar ajaran mereka. Suatu sikap menutup diri yang dalam istilah modern disebut sebagai eksklusivisme.

Kalaupun mereka mengetahui kebenaran yang terkandung dalam ajaran Nabi, sebagian besar dari mereka tetap tak mau meninggalkan ajaran lamanya. Sebab, ada harga diri yang mesti dipertahankan. Mengikuti ajaran Muhammad, sama saja dengan menurunkan derajat mereka di tengah kehidupan sosial. Apalagi saat itu Muhammad dan para pengikutnya hanyalah kaum minoritas yang terdiri dari orang-orang dengan kedudukan lemah dalam masyarakat. Oleh karena itu, betapapun benarnya ajaran yang dibawa Nabi Muhammad, mereka takkan sudi mengikutinya sebab tidak menguntungkan sama sekali bagi mereka. Akan lebih baik bila mereka tetap bertahan pada keyakinan lama dan menikmati privilise (keistimewaan) sebagai golongan mayoritas.

Baca Juga:  Tawakal: Penyubur Kebahagiaan Insan

Karena perbedaan itu, Nabi pun berhadapan dengan kekuatan besar para konglomerat Makkah. Suasana penuh ketegangan pun segera menyelimuti Makkah. Kebebasan Nabi dalam berdakwah dibatasi. Penganiayaan terhadap para pengikut Nabi mulai marak terjadi. Tak hanya itu, para elit Makkah juga memboikot bani Hasyim. Inilah gambaran mengenai suasana intoleran di Makkah saat itu, sebuah sikap primitif (kolot) yang membuat Nabi sulit mengembangkan ajarannya. Dalam kultur masyarakat yang demikian, diskriminasi dan marjinalisasi terhadap golongan minoritas tak terhindarkan lagi. Kebenaran dikendalikan oleh mayoritas. Keimanan pun kerap kali bersanding dengan kemarahan dan keangkuhan. Sebagai pemegang kunci kebenaran, mereka merasa perlu untuk menyingkirkan kepercayaan lain yang berbeda.

Sikap tak mau menerima perbedaan (intoleran) inilah yang ditentang oleh Nabi, sehingga hijrahnya Nabi ke Madinah merupakan awal untuk membangun sebuah masyarakat yang toleran. Sebagaimana yang telah diketahui, Madinah adalah kota yang penduduknya terdiri dari berbagai suku dan agama. Dan kedatangan Nabi ke Madinah sama sekali tidak merusak keragaman itu. Justru, kedatangannya malah menguatkan ikatan antar penduduk Madinah. Dalam piagam Madinah, dinyatakan bahwa setiap penduduk mesti saling menghormati dan melindungi satu sama lain. Perbedaan di antara mereka, tidak boleh mendatangkan konflik dan peperangan,  justru perbedaan itu harus dijadikan sebagai kekuatan untuk hidup saling tolong menolong dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Pentingnya Toleransi Dalam Kehidupan Berbangsa Kita

Seperti Madinahnya Nabi, Indonesia juga merupakan negara yang plural (majemuk), bahkan jauh (berkali-kali lipat) lebih plural dibanding Madinah. Jika di Madinah terdapat 5 suku yang hidup berdampingan, di Indonesia kita punya ribuan suku bangsa, ribuan bahasa dan beraneka ragam budaya yang berbeda-beda. Selain itu terdapat 6 agama resmi serta banyak kepercayaan-kepercayaan serta ideologi lain, baik yang diakui ataupun yang tidak diakui oleh pemerintah.

Fakta keragaman itu membuat kita menyadari betapa besarnya potensi terjadinya konflik antar kelompok masyarakat di Indonesia. Karena itu, sangat penting bagi kita untuk membangun ikatan yang kuat agar bangsa ini tidak mudah goyah. Sebab, perbedaan dan keragaman jika tidak dikelola dengan baik, sangat rentan menimbulkan gesekan bahkan benturan yang berujung pada perpecahan. Dalam suasana keragaman inilah, toleransi menjadi konsep yang sangat penting demi mewujudkan kehidupan bermasyarakat yang aman dan tenteram serta adil bagi semua pihak.

Baca Juga:  ANAK-ANAKMU BUKANLAH ANAK-ANAKMU, MEREKA BERASAL DARIMU, TAPI MEREKA MILIK MASA MEREKA (BAGIAN 3)

Indonesia sendiri adalah negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Peran umat Muslim dalam menjaga suasana kondusif di Indonesia sangat sentral, sehingga bisa dikatakan, kondusif atau tidaknya negara ini sangat bergantung pada sikap dan perilaku umat Muslimnya. Sudah semestinya kita sebagai umat mayoritas menjadi yang terdepan dalam menjaga suasana toleransi di negeri yang kita cintai ini. Jangan sampai kita malah bertindak layaknya kaum jahiliyah yang karena menjadi mayoritas seenaknya bersikap intoleran, ekslusif dan zalim sebagaimana yang telah disinggung di atas.

Apalagi Islam adalah agama yang mengajarkan toleransi. Bahkan, hubungan toleransi dan Islam adalah hubungan yang tak dapat dipisahkan. Islam yang lepas dari toleransi bukanlah Islam. Nabi telah mencontohkan pada kita bahwa perbedaan harusnya dirayakan bukan malah menjadi alasan untuk memicu konflik. Kehidupan masyarakat Madinah yang dibangun Nabi adalah bukti nyata penerapan sikap toleransi dalam bermasyarakat yang mana setiap orang apapun agama, suku, dan ideologinya mendapatkan kesempatan yang sama untuk hidup di Madinah tanpa gangguan. Islam juga mengajarkan pada kita bahwa tak ada paksaan dalam beragama (QS. Al-Baqarah [2]: 256), setiap orang bebas memilih keyakinannya masing-masing dengan syarat siap bertanggungjawab atas pilihan tersebut.

Sedikit Tentang PluralismeAgama

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan” (QS. Al-Ma’idah [5]: 48).

Terang sekali dijelaskan dalam ayat di atas bahwa Allah-lah yang menghendaki keragaman yang ada di muka bumi. Perbedaan dan keragaman adalah pemberian Tuhan yang mesti kita jaga. Maka, bukan berperang yang Allah perintahkan pada kita, melainkan berlomba-lombalah dalam kebaikan. Inilah landasan pluralisme dalam Al-Qur’an.

Baca Juga:  THE POWER OF MUHAMMAD SAW

Jadi, toleransi itu bukan sekedar hidup berdampingan secara pasif yang hanya berupa pembiaran. Melainkan suatu kehidupan yang benar-benar aktif di mana masing-masing kelompok masyarakat yang berbeda-beda itu terlibat dalam interaksi yang positif. Sebagaimana pesan Al-Qur’an di atas bahwa meski berbeda-beda, namun’berlomba-lombalah dalam kebaikan’, maka tiap-tiap anggota masyarakat plural diminta untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya pada sesama.

Di sini, pluralisme bisa kita artikan sebagai bentuk komitmen atas keragaman dan perbedaan. Setiap orang diminta untuk menjaga harmoni dalam perbedaan itu, dalam artian menjalankan fungsinya masing-masing di dunia sebaik mungkin. Pluralisme tidak berarti kita menyatakan bahwa semua agama sama, tidak, justru pluralisme adalah bentuk pengakuan bahwa ‘kita memang berbeda-beda’, bahwa ‘kita tidaklah sama’ dalam hal keimanan dan keyakinan. Akan tetapi, dalam kehidupan sosial kita adalah saudara sebangsa, sekemanusiaan yang mesti saling mengasihi.

Cinta dalam perbedaan itulah yang ingin diwujudkan dalam model masyarakat madani. Tuhan tak pernah menginginkan kita untuk menjadi satu umat, satu agama, satu suku, satu partai, satu suara atau satu apapun. Sebab, Dialah Yang Satu, Dialah Yang Esa, one and only. Selain-Nya adalah makhluk yang beragam. Maka, setiap usaha untuk menghancurkan keragaman makhluk yang ada, sama saja dengan merusak harmoni alam dan melawan sunnatullah.

Jauh sebelum konsep toleransi modern muncul, Nabi telah mempraktikkan sikap toleransi dengan sempurna di Madinah. Lagi-lagi perjalanan hijrahnya dari Makkah ke Madinah merupakan peristiwa penting yang menjadi titik balik perjalanan dari masyarakat yang intoleran menuju masyarakat toleran yang menjunjung tinggi perdamaian dan kebaikan.

0 Shares:
You May Also Like