Teologi Humanisme sebagai Teologi Alternatif

Al-Qur’an adalah sebuah dokumen petunjuk bagi manusia (hudan lin an-nas). Dengan fungsi ini, Al-Qur’an sebenarnya punya nilai praktis bagi kepentingan manusia, kini dan nanti. Selama ini, teologi keberagamaan umat Islam yang berkembang semenjak abad klasik dan hingga saat ini masih terus saja sibuk mengurus dan membicarakan Tuhan, jelas tidak mewakili pandangan Al-Qur’an secara utuh, bila bukan telah mengaburkannya.

Sekalipun kata yang menunjuk term Allah terdapat lebih dari 2500 kata dalam Al-Qur’an, disamping ungkapan al-Rabb, al-Rahman, al-Rahim dan sejenisnya, Kitab Suci ini bukanlah wacana tentang Tuhan dan sifat-sifat-Nya. Eksistensi Tuhan bagi Al-Qur’an bersifat fungsional: Dia Pencipta, Pemelihara alam dan manusia, dan khususnya Pemberi Petunjuk kepada manusia melalui wahyu-Nya. Juga sekaligus mengadili manusia, baik secara individu maupun kolektif melalui mahkamah keadilan yang penuh kasih sayang.

Sikap sebagian umat Islam terhadap Al-Qur’an yang kurang menempatkan pada fungsinya sebagai traffic light dalam hidup, juga selaras pada pemaknaan ibadah, yang seharusnya menjadi sarana mendekat pada Allah dan sebagai media pendidikan dalam hidup, lebih pada bahwa ibadah itu untuk Allah, dan seolah sangat menghajatkan kepada ibadah yang kita lakukan. Konsekuensi lebih lanjut, ibadah yang seharusnya punya fungsi lain yang berwatak sosial dalam pemberdayaan umat, menjadi hanya sekedar ritus kosong, merayu, membujuk, dan menyogok Tuhan yang sifat dan skalanya sangat individual.

Selama ini, kaum muslim begitu yakin bahwa ketakwaan dan kesalehan akan dicapai seseorang jika ia lebih sibuk ngurusi dan membela Tuhan dari pada membela kepentingan kemanusiaan yang menderita. Dekat kepada Tuhan seringkali dibuktikan dengan tidak peduli pada nasib manusia yang miskin dan menderita. Kesaksian iman seringkali identik dengan perilaku tidak manusiawi. Kurang begitu disadari betapa Tuhan berkali-kali menyatakan bahwa hanya mereka yang mencintai dan mengasihani sesama manusia, menolong yang miskin dan tak berdaya agar bebas dari segala penderitaan adalah wasilah untuk berjumpa dengan Tuhan.

Dalam hubungan itulah, ibadah kepada Tuhan perlu direformasi bagi kepentingan kemanusiaan. Sebagai contoh sederhana misalnya zakat. Fungsi utama yang hendak diusung oleh ibadah yang satu ini jelas fungsi sosial, yaitu bagaimana bisa menjawab problema kemiskinan yang dialami umat Islam. Di sini, zakat tidak boleh semata dianggap sebagai tazkiyatul mal sebagaimana konsep fikih yang selama ini dipegang oleh mayoritas umat Islam, fungsi pemberdayaannya itulah yang seharusnya dikedepankan.

Baca Juga:  MAULID NABI: KELAHIRAN SANG CAHAYA

Syahdan, berangkat dari fenomena keberagamaan dan keyakinan teologi yang dianut dan dipraktikkan oleh umat Islam. Jelas umat Islam membutuhkan sebuah teologi baru yang membumi, yang lebih manusiawi, dan bisa mengantarkan Islam bukan saja sebagai agama yang terbaik, tapi juga dengan pemeluk yang terbaik.

Model teologi yang harus dianut oleh umat Islam tersebut adalah model teologi yang tidak lagi berkutat pada tataran ritus kosong, atau upaya pembelaan Tuhan an sich, tapi teologi yang bisa mengubah ritus menjadi aksi. Berbagai praktik ritual yang selama ini dipercaya dilakukan bagi maksud pembebasan kemiskinan tidak pernah berhasil, hanya karena praktik ritual tersebut lebih ditujukan bagi kepentingan diri sendiri atas nama Tuhan.

Hal ini mudah tergelincir menjadikan kaum mustad’afin sebagai obyek pencarian pahala yang hanya penting untuk menumpuk pahala dengan tujuan Tuhan selalu berpihak kepada pelaku dengan memberi sejumlah rezeki bagi kepentingan nasibnya di dunia dan nanti di akhirat. Praktik ritual (ibadah sosial) kemudian lebih disibukkan oleh kegiatan ngurusi Tuhan bukan bagi kepentingan kamum mustad’afin itu sendiri.

Upaya membangun teologi sosial umat Islam membutuhkan perangkat sosiologi, yang secara internal sasarannya adalah untuk menganalisa perilaku sosial umat dan menawarkan teori sosial alternatif. Untuk itu, praktik ritual memerlukan indikator sosial. Indikator material ibadah yang diterima Tuhan adalah berhasilnya seseorang atau sekelompok orang menegakkan kebenaran dan keadilan. Sedangkan indikator sosial ibadah yang tidak diterima adalah membiarkan ketidakadilan, kemiskinan, dan ketertindasan terjadi di sekitar kehidupan manusia. Sementara indikator non-material ibadah adalah hak prerogatif Tuhan untuk memutuskannya.

Hassan Hanafi misalnya mensitir bahwa pemikiran kalam klasik terlalu teoritis, teosentris, elitis, dan konsepsional yang statis. Hanafi sendiri menginginkan kalam yang bersifat antroposentris, praktis, populis, transformatif, dan dinamis. Untuk mentransformasikan ilmu-ilmu serta pemikiran klasik menjadi ilmu atau pemikiran yang bersifat kemanusiaan, ada beberapa langkah yang ditawarkan oleh Hanafi, di antaranya:

Pertama, langkah dekonstruksi. Langkah ini dilakukan dengan menjelaskan aspek isi, metodologi, dan juga penjelasan terhadap konteks sosio-historis yang melatarbelakangi kelahirannya, serta perkembangannya saat ini. Kemudian, memberikan penilaian atas kelebihan dan kekurangannya, juga bagaimana fungsinya di masa sekarang.

Kedua, langkah rekonstruksi. Langkah ini dilakukan dengan cara mentransfer teori-teori lama yang masih dapat dipertahankan seperti rasionalisme ke dalam perspektif baru yang didasarkan pada pertimbangan realitas kontemporer. Teori ini selanjutnya dibangun menjadi sebuah ilmu yang berorientasi kepada kemanusiaan.

Baca Juga:  Menguak Daya Imajinasi

Ketiga, langkah pengintegrasian. Langkah ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan ilmu-ilmu atau pemikiran klasik dan mengubahnya menjadi ilmu kemanusiaan baru. Transformasi ilmu-ilmu yang ditawarkan Hanafi yaitu: ushul fiqh menjadi metodologi penelitian; fiqh menjadi ilmu politik, ekonomi, dan hukum; tasawuf menjadi psikologi dan etika; ilmu hadis menjadi kritik sejarah; llmu kalam atau teologi (dengan konsepnya seperti Imamah, Naql-Aql, Khalq al Af’al, dan Tauhid) secara berurutan menjadi ilmu politik, metodologi penelitian, psikologi dan psikologi sosial, filsafat (dengan konsep-konsepnya seperti Mantiq, Tabi’iat) secara berurutan menjadi metodologi penelitian, fisika, psikologi sosial, dan sosiologi pengetahuan.

Kelihatannya teologi Islam masih bertolak dari rumusan-rumusan yang abstrak. Tema-tema yang dibicarakan lebih menggunakan analisis sejarah dan perbandingan deskriptif terhadap aliran-aliran kalam, dan kurang menyentuh persoalan umat dewasa ini. Para eksponen gerakan pembaruan pemikiran Islam yang pernah muncul dekade lalu tampaknya belum begitu berhasil menjabarkan makna iman itu pada tataran realitas dan aksi.

Artinya pendekatan mereka dalam memahami teologi masih bersifat normatif dan deduktif. Ini berbeda, misalnya dengan teologi pembebasan yang bertolak dari realitas sosial yang menindas dan mempermiskin rakyat, sehingga yang berteologi umumnya mereka yang tertindas, dieksploitasi, dan mengalami marjinalisasi.

Persoalannya terletak pada metode teologi Islam, apakah memang harus menggunakan pendekatan deduktif atau induktif, seperti pada teologi pembebasan. Tujuan teologi induktif adalah memberikan jawaban atas persoalan hidup manusia, sehingga tidak hanya menjadi bangunan teoritis yang indah, tetapi mandul karena terlepas dari realitas. Jadi, pemikiran Islam yang bertolak dari semangat teologi pembebasan umumnya memiliki teologi transformatif. Persoalan teologi semacam ini (atau kajian Islam yang bersemangat paradigma transformatif) memang jarang tersentuh dalam kajian teologi.

Tentunya, dalam upaya humanisasi teologi langitan, dan kerja reorientasi teologi transendental menuju teologi humanitarian merupakan “gawe besar” yang membutuhkan keterlibatan semua komponen umat Islam. Setidaknya, sebagai langkah awal untuk ini, yaitu penyadaran kembali akan fungsi diturunkannya Islam kepada umat manusia. Misi utama Islam adalah rahmatan lil alamin, Islam datang untuk menyelamatkan umat manusia dari praktik dehumanisasi yang berlangsung terus menerus disepanjang ruang dan zaman. Manusia dalam Islam adalah abdullah dan sekaligus khalifatullah.

Posisi ini harus dalam konstelasi yang bersamaan diwujudkan. Abdullah menghendaki orientasi tujuan yang terbaik untuk dipersembahkan kepada Tuhan, sedang misi khalifatullah, bahwa kita adalah wakil Tuhan di muka bumi ini, yang berarti mewujudkan segala harapan dan keinginan Tuhan untuk memakmurkan bumi dan mensejahterakan penduduk bumi.

Baca Juga:  Tentang Makar Allah

Tuhan sama sekali tidak butuh terhadap apa yang hamba-Nya kerjakan, Dia lewat firman-Nya hanya menghendaki manusia bisa tetap dalam koridor sebagai seorang hamba yang tidak jatuh dalam kegelapan dan kebodohan, dan lewat kalam-Nya ia kemudian memberi manusia petunjuk untuk menuju orientasi hidup yang lebih membahagiakan lagi.

Meminjam konsep sufi, bahwa apa yang harus diwujudkan manusia, adalah insan kamil, yaitu bagaimana sifat-sifat Tuhan yang 99 itu bisa diserap dan diaplikasikan dalam hidup manusia. Surga yang dijanjikan Tuhan, harus bisa kita hadirkan di muka bumi ini, dan tidak perlu lagi menunggu kelak pada hari kiamat. Dan sebagai wakil Tuhan, umat Islam harus senantiasa bisa menjadi umat yang terbaik, yang memiliki karakteristik transformasi (alamru bil ma’ruf), liberasi (alnahyu an almunkar), dan transendensi (aliman bi al-Allah).

Inilah karakteristik khas dari teologi humanitarian, yaitu transformasi nilai-nilai humanis seperti keadilan, toleransi, persamaan, dan persaudaraan. Liberasi dari aspek-aspek yang memunculkan dehumanisasi manusia. Transendensi, bahwa semua yang dilakukan itu berada dalam bingkai yang tulus dan kesinambungan gerak dengan Yang Maha Kuasa.

Kita sebagai umat Islam tidak perlu merebut kendali kuasa Tuhan, atau sampai membunuh Tuhan sebagaimana gerakan humanisme Barat. Karena Tuhan berada dalam koridor sangka hamba-Nya. Tuhan menyajikan santapan berupa firman-Nya sebagai petunjuk dalam setiap langkah kita. Tuhan telah memfasilitasi kita dengan ayat-ayat-Nya, baik yang tersurat dalam Al-Qur’an maupun yang terpampang di alam semesta, dan akal yang menjadi media untuk perenungan akan segala ayat-ayat-Nya, dan semua itu dperuntukkan bagi kita, umat manusia, sekarang terserah kita, mau diapakan. Wallahu alam bishawab.

* Salman Akif Faylasuf adalah alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sikorejo, Situbondo. Ia sekarang Nyatri di PP Nurul Jadid, sekaligus kader PMII Universitas Nurul Jadid Paiton, Probolinggo.

0 Shares:
You May Also Like