Apa itu Tasawuf ? Berikut Jawaban Syekh Abu Sa’id ibn Abi al-Khair

Abu Sa’id dilahirkan di Khurasan pada tanggal 1 Muharam 357 H. Ayahnya, Abu al-Khair merupakan ahli meracik obat sekaligus seorang saleh yang memahami syariat (fikih) dan spiritualisme Islam (tasawuf). Abu Sa’id, selain mendapatkan pendidikan Islam dari ayahnya ia juga banyak berguru kepada ulama di zamannya seperti; Abi Muhammad al-‘Ayyari, Abu al-Qasim Bisyri Yasin, Abu al-Fadhl Hasan al-Sarakhs dll.

Berkat ketajaman dan kebersihan hatinya serta kepiawaian dalam menulis di kemudian hari ia tumbuh menjadi seorang sufi yang berpengaruh, bahkan Abu Sa’id dan Omar Khayyam dimasukkan dalam sejarah literatur Persia karena masing-masing dianggap sebagai penulis kumpulan syair ruba’iyyah yang sangat terkenal itu.

Dalam buku Studies in Islamic Mysticism karya Reynold Alleyne Nicholson yang telah diterjemahkan oleh penerbit Mizan dengan judul Tasawuf Cinta Studi atas Tiga Sufi: Ibn Abi al-Khair, al-Jilli, dan Ibn al-Faridh, Nicholson telah menghimpun ucapan-ucapan Abu Sa’id ibn Abi al-Khair terkait definisi tasawuf yang tersebar di berbagai kitab. Berikut makna tasawuf menurut Abu Sa’id:

Pertama, menyingkirkan semua yang ada di kepalamu, memberikan semua yang ada di tanganmu, dan tidak takut terhadap apa pun yang menimpamu.

Kedua, tasawuf adalah nama yang dilekatkan pada objeknya; ketika ia mencapai kesempurnaan sejati, ia adalah “Tuhan” (yaitu, akhir dari tasawuf adalah, bagi sufi, tiada yang eksis, kecuali Tuhan).

Ketiga, ia adalah kemuliaan dalam kehinaan, kekayaan dalam kemiskinan, tuan dalam penghambaan, rasa kenyang dalam kelaparan, ketertutupan dalam ketelanjangan, kebebasan dalam perbudakan, kehidupan dalam kematian, dan rasa manis dalam kepahitan.

Keempat, sufi adalah yang puas dengan apa yang diperbuat Tuhan, sehingga Tuhan akan puas terhadap semua yang ia lakukan.

Baca Juga:  Takdir dan Konsep Kebebasan Manusia (Bagian 1)

Masih banyak lagi tawaran definisi tasawuf dan sufi menurut Abu Sa’id yang dihimpun oleh Nicholson. Beragam definisi tersebut bukanlah sebagai alasan untuk mempropagandakan ‘kesamaran’ hakikat tasawuf, itu justru sebagai penanda bahwa pendekatan tasawuf tidak cukup hanya dengan analisis ilmiah, yang lebih penting justru praktik dan mengamalkan ajaran-ajarannya sehingga kita dapat mereguk dan merasakan sendiri kedasyatan ajaran-ajaran tasawuf.

9 Shares:
You May Also Like