Tentang Manfaat Ziarah Kubur Menurut Filsuf

Tulisan ini, meski mungkin ada relevansinya, tidak dimaksudkan untuk ikut serta dalam perdebatan tentang boleh tidaknya ziarah kubur. Melainkan untuk menyampaikan sebagian pandangan filsuf/hukama Islam tentang fungsi atau manfaat ziarah kubur. Sebagian orang mengatakan bahwa yang ada di kuburan hanyalah jasad yang telah mati, bahkan segera akan membusuk, dan sepenuhnya telah terputus dari ruh orang yang sudah wafat. Dengan kata lain, tak ada lagi sesuatu apa pun yang bisa diperbuat atasnya. Maka, dengan demikian manfaat ziarah kubur pun bisa dipertanyakan, untuk apa ziarah kubur jika kegiatan ini tak menghasilkan efek apa-apa?

Nah, di sinilah sebagian filsuf/hukama Islam menyampaikan pendapatnya. Sesungguhnya hubungan antara jasad dan ruh tidak sama sekali terputus. Bahwa, setelah kematian pun, ruh masih berhubungan dengan jasad. Sehingga, jika kita berziarah kubur, sesungguhnya kita masih menziarahi manusia yang hidup. Dengan kata lain, keberadaan kita di dekat (jasad yang dikubur di) kuburan tersebut masih dapat menciptakan efek kepada si peziarah. Dalam tulisan ringkas ini, saya akan menyampaikan pandangan Fakhruddin al-Razi, Ibn Sina dan Mulla Shadra.

Menurut Fakhruddin al-Razi dalam risalah pendeknya tentang ziarah kubur, kekhusyukan dan kerendahhatian para peziarah di depan jasad yang diziarahinya akan bisa menghasilkan limpahan cahaya/pencerahan kepada peziarah—yang cahaya/pencerahan itu awalnya berasal dari jiwa/ruh si mayit yang telah lepas dari badannya. Karena, ruh yang telah lepas dari badan—yang tak lagi tersibukkan dengannya—akan memiliki pengetahuan-pengetahuan tentang hal-hal parsial—yang tadinya dia tidak punya. Pada saat yang sama, ruh tetap rindu/terikat kepada jasad, meski keduanya telah terpisah. Keterikatan dan pengetahuan itulah yang kemudian terpancar kepada peziarah ketika dia berziarah.

Jika pandangan ar-Razi lebih bersifat theologikal, maka pandangan Ibn Sina dan Mulla Sadra bersifat lebih filosofis.

Baca Juga:  Betapa Istimewanya Ketika Hidup Damai dalam Keberagaman

Ibn Sina mengaitkan manfaat ziarah kubur dengan gagasannya—mengambil dari Plotinus—tentang Simpati Kosmik. Simpati Kosmik—Ibn Sina, dalam bahasa Arab, mengidentikannya dengan ‘isyq (cinta atau kerinduan)—ini merupakan daya yang mengikat berbagai unsur alam semesta untuk saling  terjalin berkelindan satu sama lain, membentuk sistem kerja alam semesta yang teratur dan serasi. Lebih dari simpati antar-unsur alam yang sejajar, kerinduan kosmik ini lebih kuat dalam hal kerinduan unsur yang lebih rendah kepada unsur yang lebih tinggi. Yang lebih tinggi ini mengatur yang lebih  bawah, dengan jalan memancarkan potensi-potensi tertentu—yang dimiliki sesuai dengan sifatnya—kepada unsur yang lebih rendah darinya, atau yang berada dalam pengaturanya. Berkat prinsip Simpati Kosmik yang sama, kehadiran seseorang—lebih-lebih banyak orang—di tempat perziarahan atau tempat-tempat suci, kesemuanya itu menimbulkan daya yang kuat untuk menggerakkan alam non-fisik. Dengan cara ini, bukannya sama sekali tak mirip dengan ar-Razi, ziarah bagi Ibn Sina, memberikan manfaat spiritual, berkat mengalirnya daya spiritual, khususnya yang bersumber dari orang yang diziarahi atau tempat suci tersebut.

Untuk lebih menjelaskan pandangan-pandang tersebut di atas, marilah kita singgung sedikit di sini pandangan Mulla Sadra tentang hubungan antara jasad dan ruh. Tidak seperti pandangan dualistik yang membiarkan hubungan ruh dan badan tetap sebagai misteri yang tak terjelaskan, Mulla Sadra memperkenalkan prinsip monistik yang disebutnya sebagai harakah jawhariyah. Bahwa sebetulnya gerak terjadi bukan hanya pada kategori aksiden—yakni 4 dari kategori aksiden menurut Aristoteles (kualitas, kuantitas, posisi, dan tempat), melainkan juga pada substansi. Sampai- sampai bahkan dari yang fisik bisa lahir yang ruhani. Kenyataannya, menurut Mulla Sadra, ruh manusia itu awalnya fisik. Ruh lahir/terjelma dalam suatu tahap pertumbuhan janin di rahim ibu, yang awalnya sepenuhnya bersifat fisik. Karena itu, sebetulnya tak pernah ada pemisahan total antara ruh dan jasad. Bahkan dalam kematian, meski ruh sudah meninggalkan jasad, ruh tetap akan selamanya terkait dengan jasad, dengan satu dan lain cara. Bukan saja karena memang ruh berasal dari fisik, melainkan juga bahwa semua tingkatan lebih tinggi dalam gerak substansial selalu mencakup tahap-tahap evolusi di bawahnya. Dengan kata lain, ruh mengandung (sebagian aspek) jasad di dalam dirinya. Kiranya, merujuk ke gagasan tentang gerak substansial ini pemikiran ar-Razi dan Ibn Sina tentang efek ziarah kubur bisa lebih dipahami.

Baca Juga:  Corona: Kutukan atau Berkah?

Dalam bahasa yang lebih populer, sebetulnya bagi sebagian orang  berziarah kubur adalah cara kita men-tap (menyauk) berkah dari orang-orang atau tempat-tempat yang kita ziarahi. Memang dalam tasawuf ada gagasan tentang barakah. Apakah makna barakah dalam konteks ini?

Itulah manifestasi nur keilahian—yang pada awalnya turun kepada Rasul saw—yang kemudian tak pernah berhenti terpancar ke dalam hati para awliya’ Allah (dan pewaris Nabi itu). Maka, kadang istilah barakah disebut dengan lebih lengkap sebagai Barakah Muhammadiyah. Kiranya tidak salah juga jika ini dikaitkan dengan gagasan tentang Nur Muhammad. Yakni  wujud kenabian yang bersifat ruhani dan primordial, yang memancar langsung dari Allah Swt. di awal penciptaan. Memang terkadang para awliya’ disebut sebagai wahana penerus Nur Muhammad ini. Barakah ini adalah semacam aura cahaya—yang bukan hanya mencerahkan hati, melainkan juga mentransformasi diri ke arah kebaikan kepada sekelilingnya—yang selalu menyertai para awliya’ atau tempat-tempat suci. Maka, shuhbah (bersahabat, menempel), mendekat, atau menziarahi para awliya’ dan tempat-tempat suci, dipercayai dapat memberikan kesempatan kepada peziarah untuk mendapatkan limpahan nur keilahian atau Barakah Muhammadiyah tersebut.

0 Shares:
You May Also Like