Pandangan Muhammad Iqbal Tentang Arti dan Tujuan Hidup

Oleh: Muhyidin Azmi

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Sebelum membincangkan pandangan Muhammad Iqbal tentang arti dan tujuan hidup, kiranya terlebuh dahulu sedikit uraian tentang biografi dari tokoh yang akan dibicarakan dalam tulisan sederhana ini. Muhammad Iqbal, begitulah kebanyakan orang mengenalnya. Ia merupakan seorang filsuf Timur (modern), penyair serta pembaru di dunia Islam yang lahir di Sialkot, Punjab yang sekarang menjadi bagian dari Pakistan. Muhammad Iqbal tutup usia pada umur 60 tahun Masehi 1 bulan 26 hari; atau 63 tahun Hijriah, 1 bulan 29 hari.

Sepanjang perjalan kehidupan dan karir intelektualnya, Muhammad Iqbal telah banyak menghasilkan karya yang sangat berharga dan yang sangat menginspirasi bagi umat manusia dan dunia, terkhusus bagi kalangan Muslim dan dunia Islam, di antaranya ialah karyanya yang berjudul; The Development of Metaphysic in Persia, Bang l Dara, Asrar l Kudi, Rumuz l Bekhudi, Chidr l Rah, Tulu l Islam, Payam l Mashriq,  Zabur l ‘Ajam, Javed Namah, dan The Reconstruction of Religious Thought in Islam. Karena banyaknya karya yang telah dihasilkan semasa hidupnya, Muhammad Iqbal merupakan salah satu dari sekian banyak tokoh di dunia Islam yang dikenal dan dikenang oleh khalayak banyak, terkhusus oleh kalangan Muslim.

Sebagai seorang pemikir Muslim, Muhammad Iqbal merupakan tokoh yang sangat terobsesi atau yang sangat berkeinginan dengan terwujudnya saling pengertian spiritual antara Barat dan Timur. Barat yang dimaksud di sini ialah Yunani, dan timur yang dimaksud di sini ialah dunia Islam (Muslim). Hal ini disebabkan, karena semasa hidupnya ia sangat gelisah menyaksikan konflik perkepanjangan antara Barat dan Timur.

Kehidupan merupakan karunia yang sangat besar yang telah Tuhan berikan kepada hambanya, sebab hidup merupakan perjalanan panjang dari lahir sampai kita mati guna untuk menjalani proses mencari bekal dan rida darinya yang akan kita pergunakan kelak di kehidupan selanjutnya. Bagaimana proses manusia untuk pertamakalinya muncul untuk menjalani hidup di dunia telah terekam dengan jelas di dalam Al-Qur’an, dan hal itu merupakan sesuatu yang harus kita imani sebagai umat manusia yang menganut ajaran Agama Islam.

Baca Juga:  Falsafah Rajab dan Relevansinya bagi Kesempurnaan Insan dalam Sistematika Hikmah Israqiyah

Menyoal arti dan tujuan hidup, tentunya merupakan pembahasan yang sangat menarik. Terlebih dewasa ini, pada zaman yang disebut telah melampaui zaman modern, yang kebanyakan orang menyebutnya sebagai zaman post-modernisme. Hari berganti malam, malam berganti pagi. Begitupun dengan hidup, berbeda zaman berbeda gaya hidup, lain orang lain juga tafsirannya tentang hidup. Semisal, seorang kapitalis menafsirkan hidup ini adalah perjalanan panjang menikmati dunia dengan tujuan memupuk atau mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Lalu, bagaimana Muhammad Iqbal menafsirkan tentang hidup?

Hidup bagi Muhammad Iqbal adalah sebuah pemberian ilahi yang sangat berharga, di dalamnya terdapat suatu pengabdian ilahi kepada kebenaran, hal yang sangat penting dalam hidup bagi Muhammad Iqbal ialah bukan seberapa panjang dan pendeknya usia seseorang dalam menjalani hidup, akan tetapi bagaimana makna, arah, dan kualitas hidup itu sendiri. Sebab, bagi Muhammad Iqbal sebuah kehidupan yang berlarut-larut tanpa arah dan tujuan yang jelas dalam perspektif filsafatnya merupakan beban sejarah ketimbang disebut sebagai sebuah kebanggaan. Secara positif, Muhammad Iqbal berpendirian. Mengutip perkataan Hafidz Abdullah Farooqi, bahwa bagi Muhammad Iqbal; meringankan beban kesengsaraan manusia adalah sebuah pengabdian dan pengagunggan tertinggi kepada Tuhan, dan berbakti kepada masyarakat adalah ibadah terbaik untuknya.

0 Shares:
You May Also Like
Read More

Syirik

Oleh: Faqry Fakhry Muhib di Jalan Menuju Mahbub “Allah mengampuni semua dosa kecuali syirik” (QS. an-Nisa [4]: 48),…