Menghamba Secara Jasmani dan Rohani: Menuju Ihsan

Oleh: M. Khusnun Niam

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Alumni IAIN Pekalongan

Semestinya sebagai umat yang meyakini bahwa kehendak diri manusia itu sebatas tanggungjawab sekaligus wujud kehambaan, tentunya tidak dapat dengan mudah dilalaikan begitu saja. Aktualisasi berislam dan beriman sebagai wujud kepatuhan merupakan bentuk kehambaan dan tanggungjawab atas berbagai modal yang diberikan Tuhan. Sematan kandungan tauhid, fikih, akhlak tasawuf adalah bukti betapa luasnya jalan menggapai kesuksesan bagi seorang hamba. Oleh sebabnya, melatih diri berislam dan beriman adalah kunci berjalan tenang dalam kedamaian, yang tentunya diharapkan mayoritas umat, sehingga mengkonsepkan suatu rencana dalam penghambaan tidak bisa lepas dari kelogisan berpikir dan kepatuhan beragama; ada sisi prasangka untuk bertaklid dan ada sisi kritis berpikir untuk menyelami.

Diri manusia memiliki dua sisi, yakni sisi jasmani dan sisi rohani. Dua sisi tersebut bermaksud menunjukan bahwa seharusnya umat beragama tidak melalaikan hanya salah satunya saja atau hanya mengejar salah satunya, melainkan dua-duanya. Meskipun, jasmani ketika berpisah dengan rohani, ia hanya sebatas bangkai yang boleh saja membusuk boleh saja tidak, hingga boleh saja menjadi abu bahkan hilang. Sedangkan rohani, dalam berbagai redaksi akan kembali kepada pemiliknya dan mempertanggungjawabkan segala wujud kehambaan dirinya selama ia menyatu dengan jasmani. Tentu, akan dikembalikan seperti sedia kala ketika jasmani dan rohani belum dipisahkan.

Wujud kepatuhan jasmani ialah memaksimalkan prasangka dalam aktualisasi sami’na wa’atha’na yakni taklid secara jasmani. Di antaranya seperti mengucap syahadat hingga menjalankan haji, sesuai dalam 5 rukun Islam. Meski demikian, tidak lantas dibenarkan jika dalam menjalankan 5 rukun Islam tidak berdasar pada ilmu, melainkan sepenuhnya taklid buta. Artinya, menjalankan rukun Islam harus dengan ilmu. Sebab, jika beribadah secara dhahir tanpa didasari ilmu, tentu ibadahnya hanyalah sia-sia. Samahalnya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat hingga menjalankan haji tapi tidak mengetahui rukunnya. Alhasil, hanya mendapat kesia-siaan semata dalam penghambaannya; menjalankan rukun Islam sebagai wujud kepatuhan tidak cukup sebatas taklid buta, melainkan harus memiliki dasar pengetahuan tentang kehambaannya dalam pelaksanaan 5 rukun Islam tersebut, salah satunya melalui proses belajar bersama ahlinya.

Baca Juga:  Gagasan Masyarakat Ideal Ibnu Bajjah dalam Tadbir al-Mutawahhid

Hemat saya, sisi rohani ialah ihwal keimanan, sedangkan sisi jasmani ialah ihwal keislaman. Kesempurnaan penghambaan tidak dapat dilepas dari dua sisi tersebut yakni iman dan Islam, jasmani dan rohani. Eksistensi ilmu dalam menjalankan ibadah dalam rukun Islam secara jasmani merupakan wujud kepatuhan sisi rohani manusia; dari syahadat hingga menjalankan haji. Maka, penting untuk menyelami aktualisasi kepatuhan rohani secara serius dan sungguh-sungguh untuk mencapai kesempurnaan kehambaan yakni ihsan. Hal ini tidak dapat diacak secara ‘seenaknya’ dalam menjalankannya, melainkan secara tartib. Di awali dari menyelami sisi rohani dua kalimat syahadat hingga menyelami sisi rohani ibadah haji. Artinya, menjalankan sisi jasmani dua kalimat syahadat tanpa menyelami sisi rohaninya adalah ‘kesia-siaan’. Tidak cukup sebatas sisi jasmani semata yakni mengucapkan dua kalimat syahadat, melainkan juga perlu dan harus untuk menyelami sisi rohani dua kalimat syahadat.

Sisi rohani dua kalimat syahadat boleh juga disebut rukun iman; dari iman kepada Allah hingga kepada hari akhir. Samahalnya rukun Islam, idealnya diselami secara tartib; terlebih dahulu yang di awal yakni ihwal iman kepada Allah kemudian menjalar hingga ihwal sam’iyat; berita gaib tentang Hari Akhir. Sedangkan dalam Islam secara tartib didahulukan ihwal dua kalimat syahadat; dari sisi jasmani dan sisi rohani. Sebab, jika tidak demikian, kemungkinan akan ‘keblinger’ bagi siapa saja yang mempelajari dan menjalankannya. Ditambah dengan hadirnya paham-paham yang tidak mengindahkan agama hingga tidak memeluk agama dan tidak percaya Tuhan bahkan melecehkan dengan berbagai argumennya. Eksistensi paham-paham tersebut tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi kaum agamawan, meskipun tidak seluruhnya, melainkan minoritas yang ahli di bidangnya. Maka, sangat penting menjalankan Islam dan menyelami makna terselubung di dalamnya secara tartib, tidak terburu-buru dan tidak melalaikan yang rohani, pun yang jasmani.

Baca Juga:  Syirik

Kaitanya dengan sisi jasmani dan sisi rohani ihwal shalat hingga haji, umumnya sering dibahas dalam kajian fikih. Berbagai kajian fikih begitu dominan mengisi ruang-ruang yang kosong; dari pedesaan hingga perkotaan. Tentu, sangat digemari oleh kalangan masyarakat; dari kalangan pengangguran, pengusaha hingga santri alumni pesantren yang telah selesai studinya. Adapun alasan yang menjadi jawaban atas pertanyaan ‘kenapa kajian fikih selalu padat?’ ialah sebab kajian fikih membongkar berbagai problem keseharian; dari utang-piutang hingga peribadatan dalam rukun Islam dan sunnah-sunnah. Lazimnya, diikut sertakan juga berbagai keutamaan dan sejarah Nabi ihwal problem tersebut. Tentu sangat menarik dan urgen bagi siapapun. Sebab, menjawab polemik keseharian yang menjadi rutinitas adalah penting dan dibutuhkan; untuk memperbaikinya ketika ada kekeliruan yang tidak sesuai aturan dalam fikih.

Betapa ramainya kajian fikih dewasa kini di berbagai wilayah hingga mendominasi pikiran. Tentu sangat membantu masyarakat memahaminya. Namun, ada beberapa problem besar dalam ruang privasi individu yang seakan mendaging; di mana kajian fikih selalu diprioritaskan dalam rangka menuntaskan perbaikan ibadah dan amal baik yang tentunya menggeser ruang ‘penting’ dua kalimat syahadat beserta sisi jasmani dan sisi rohaninya yang tertuang dalam rukun iman dan menjadi fondasi Islam. Alhasil, miris dan ironis ketika kajian fikih selalu diprioritaskan sedangkan kajian tauhid digeser dalam pradigma ‘sulit’ dan ‘susah’ untuk dipelajari. Akibatnya, konstruksi ‘ngaji tauhid’ tidak beda jauh dengan ‘ngaji filsafat’ yakni kerumitan dan kesulitannya, sehingga, hingga kini menjamur dalam ruang-ruang yang didominasi normatif tanpa sedikitpun pengontrolan ruang ilmunya; ranah tauhid.

7 Shares:
You May Also Like