Gus Ulil:Iman Tanpa Syarat

“Hidup yang tak teruji tak layak dijalani.” ~ Socrates

Terkadang kadar iman seseorang bisa berbeda dalam setiap situasinya. Sekiranya berada dalam kesenangan (menemukan nikmat), mereka lupa menyembah dan beribadah kepada Allah swt. lantaran larut menikmati kesenangannya. Sementara, saat ditimpah satu musibah dalam kesusahan, mereka berdoa (ingat) agar kesusahannya berlalu. Apakah ini yang disebut dengan keimanan yang bersyarat pada situasi-situasi tertentu?

Kita tahu, iman adalah fondasi utama dalam kehidupan seseorang yang beriman. Mengapa demikian? Karena dalam hidup orang yang percaya (beriman) bisa memilih hidup dengan landasan iman dan hidup dalam tidak beriman, dan Allah swt. memberikan kebebasan kepada manusia. Dalam surah al-Kahfi ayat 29 dikatakan:

“Dan katakanlah (Muhammad) kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta pertolongan (minum), niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek” (QS. Al-Kahfi: 29).

Setelah beriman, seseorang akan menemukan dua jenis iman. Pertama, adalah beriman secara kondisional. Seperti yang dikisahkan dalam Al-Qur’an tentang orang yang naik perahu. Pada saat mereka diterpa badai seketika ingat Tuhan. Dan, dengan khusyuknya berdoa supaya badai cepat berlalu. Akan tetapi, ketika sampai di daratan (menjumpai kehidupan nyaman), mereka lalai dan meninggalkan Tuhan.

Kedua, yaitu iman tanpa syarat adalah iman yang tidak tergantung pada situasi apapun. Mereka tetap menaruh kepercayaan besar pada kebaikan dan keadilan Tuhan. Tentu saja, iman yang hakiki adalah kisah Nabi Ayyub yang diceritakan Al-Qur’an. Meski menghadapi ujian berat, terutama saat ditinggal istrinya, Nabi Ayyub tetap saja menaruh kepercayaan kepada Tuhan. Itu sebabnya, Nabi Ayyub dalam Al-Qur’an dikatakan sebagai orang yang sabar.

Baca Juga:  TERBARU! Terjemah Matsnawi Rumi

Berangkat dari kisah itu, Gus Ulil kemudian menceritakan tentang film kekejaman Nazi terhadap orang-orang Yahudi di Jerman, di mana ada seorang pengusaha Jerman yang memperkerjakan banyak ribuan pekerja, dan kemudian mencoba menyelamatkan mereka dari kekejaman Nazi.

Kata Gus Ulil, salah satu momen mengharukan dalam film itu ketika orang-orang Yahudi (di pabriknya) menghadapi situasi yang tak tertanggungkan karena ditindas oleh Nazi. Mereka harus dikirim ke camp di Auschwitz (tempat mereka akan dibunuh secara massal). Akhirnya orang-orang Yahudi berkumpul di sebuah gudang pabriknya seorang pengusaha Jerman, mereka kemudian berdoa bersama dan melagukan lagu pujian ala Yahudi. Inilah yang mengharukan.

Tentu saja, pada situasi demikian minimal hanya dua pilihan. Pertama, tetap percaya kepada kebaikan dan keadilan Tuhan; kedua, bersikap nihilistik (tidak melihat sesuatu di balik peristiwa yang sedang dialami). Sebuah sikap di mana tidak ada hikmah dan tujuan besar di balik peristiwa-peristiwa yang menimpanya.

Intinya, iman yang tanpa syarat adalah kita percaya bahwa dalam setiap tindakan Tuhan di dunia selalu ada kebaikan di baliknya. Meskipun, keadilan itu tidak kita lihat pada momen sekarang, akan tetapi dalam jangka panjang sebuah hikmah dan kebaikan pasti terlihat.

Namun demikian, untuk mempunyai iman seperti ini tak seperti orang membalikkan tangan. Ada latihan-latihan yang harus dilakukan. Mengapa? Karena sifatnya iman adalah kadang bertambah dan kadang berkurang. Karena itu, dapat dikatakan, seorang beriman yang baik adalah mereka yang terus-menerus menguji imannya dengan situasi-situasi konkret, dan tidak pernah berhenti pada satu keadaan (mereka meningkatkannya sampai level iman tanpa syarat).

Tak hanya itu, Gus Ulil juga menegaskan, saya tidak suka orang beragama itu terlalu mengidealkan bahwa beragama itu harus begini dan begitu tanpa melewati sebuah proses. Sangat tidak menarik. Karena baginya, orang seperti ini bisa dikatakan orang yang beragama palsu (hanya ikut-ikutan).

Baca Juga:  Islam Agama Cinta

Dalam hal ini, sambung Gus Ulil, beragama itu harus ada prosesnya. Kadang jatuh dan mengalami keraguan yang ekstrim (misalnya Tuhan itu berada di mana sih). Tak seperti orang nonton film atau potret camera yang langsung jadi foto. Sama sekali tidak.

Syahdan, tanpa mengalami proses panjang, maka iman (keyakinan) seseorang bisa dikategorikan iman yang datar-datar saja. Harusnya, dalam laku kehidupan, kita mengikuti perjalanan seperti al-Ghazali yang di tengah kehidupannya mengalami krisis dan kemudian mencari sesuatu yang baru untuk memantapkan keimanannya. Wallahu a’lam bisshawab.

*Penulis adalah alumni Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Sekarang nyantri di Ponpes Nurul Jadid dan Kader PMII Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

5 Shares:
You May Also Like
Read More

Lingkaran Setan

Hawa nafsu yang tidak kita kendalikan akan memicu perbuatan yang buruk. Perbuatan buruk tersebut berdampak pada timbulnya waham…