Agama Hanya Berdampak Positif Bagi Orang-Orang yang Hatinya Masih Menyisakan Kebaikan

Saya sudah berkesimpulan. Tapi sebelum itu baik saya sampaikan dulu: Saya tak punya keraguan bahwa agama itu baik. Bahkan merupakan kebutuhan fitri semua manusia. Bukan itu saja, jika agama dipahami dengan benar dan diterapkan dengan baik dalam kehidupan, ia akan menjadikan kehidupan manusia dapat mencapai tujuan-tujuannya dengan sebaik-baiknya. Entah itu dalam soal menghadirkan kedamaian, menciptakan kesejahteraan, atau pun meraih kebahagiaan.

Setelah menyatakan hal itu, saya ingin mengungkapkan kesimpulan saya. Bahwa agama tidak akan memberikan manfaat apa-apa bagi orang-orang yang berhati kotor dan berkarakter buruk. Kalau tidak malah agama bisa disalahgunakan, atau dijadikan topeng/dalih untuk menyembunyikan keburukan-keburukan dan kebiadaban-kebiadabannya.

Jadi, tak jarang bukan agama yang menjadikan seseorang menjadi manusia yang baik, tapi manusia yang baiklah yang menjadikan agama bisa menjalankan fungsinya sebagai sumber kebaikan bagi orang banyak:

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (menerima) (sikap) berpasrah/Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit (tentang kebaikan Islam), seolah-olah ia sedang mendaki langit.…” (QS. Al-An’am [6]: 125).

Hatilah yang menentukan kebaikan keberagamaan seseorang, bukan sebaliknya. Yakni, orang baru bisa menerima kebaikan Islam jika hatinya (telah di-)lapang(-kan) Allah.

Bahkan, dalam ayat-ayat pertama Al-Qur’an, surah al-Baqarah—yakni setelah surah Pembuka (Al-Fatihah)—Allah sudah menyatakan bahwa Al-Qur’an hanya bisa menjadi petunjuk bagi orang-orang bertakwa (cenderung berbuat kebaikan, berkat kesadaran ketuhanannya):

 “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”.

Sekali lagi, ini berarti bahwa kebaikan hati atau spiritualitas menentukan seberapa besar seseorang bisa mendapatkan manfaat dari panduan agama.

Jika orang hatinya kotor, dan karakternya buruk, maka agama tak akan berdampak apa-apa baginya. Meskipun bisa saja dia tampil sebagai orang saleh, yang banyak beribadah, atau sering berteriak-teriak seolah-olah membela agama.

Baca Juga:  Sekilas tentang Imam Syadzili

Yang terjadi, justru,  dia akan sama buruknya dengan orang-orang tidak beragama, yang berhati kotor dan berkarakter buruk. Ya, agama tak ada pengaruhnya atas orang-orang seperti ini. Mereka akan tetap berhati kotor dan berkarakter buruk. Yakni, menjadi orang-orang yang senantiasa melakukan kerusakan di muka bumi. Bahkan lebih buruk dari orang-orang berhati kotor dan berkarakter buruk yang menolak agama: orang-orang begini sudah jelas identitasnya. Tapi, bagi orang-orang yang (seolah-olah) beragama tapi berhati kotor, kalau bukan dijadikan topeng untuk menutupi keburukan mereka, agama justru menjadikan mereka menderita penyakit ghurur (pengelabuan diri):

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah berbuat kerusakan di bumi!’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.’” (QS. Al-Baqarah [2]:11).

Maka, saya pun jadi ingat judul/isi buku Habib Ali Aljufri, Kemanusiaan Sebelum Keberagamaan, yang menguraikan bahwa agama harus didirikan atas dasar kemanusiaan atau kebaikan hati.

Pertanyaannya: Tapi, bukankah Allah bisa saja secara misterius memberi hidayah kepada orang-orang jahat, seperti preman dan sebagainya? Jika jawabnya ya, tidakkah itu berarti bahwa agamalah yang memperbaiki manusia?

Memang hidayah Allah misterius. Tapi, kemisteriusan itu tentunya bukan karena hidayah Allah diberikan secara sembarangan. Tidak mungkin hal ini bagi Allah Yang Maha Bijaksana. Kebersihan hati, atau setidaknya keinginan menjadi baik, tetap merupakan prerequisite bagi datangya hidayah Allah itu. Saya tetap percaya ada sebab kesiapan (isti’dad) bahkan pada diri seorang preman/atau orang yang sering berbuat kejahatan, yang membuat Allah memilih dia untuk mendapatkan hidayah—jika Dia berkehendak memberinya hidayah.

Nah, yang harus dijernihkan adalah: apakah preman atau orang yang sering berbuat kejahatan itu pasti hatinya kotor? Setidaknya, pasti lebih kotor dari orang-orang yang tampak sering berbuat baik? Dalam banyak hal, preman/orang yang sering berbuat jahat itu bisa saja, jauh di dalam hati kecilnya, lebih baik hatinya daripada yang bukan preman/orang yang sering berbuat jahat. Baik manakah, sebagai contoh, orang yang mencuri atau merampas—karena berbagai alasan dan latar belakang (yang kadang berada di luar kontrolnya)—dengan koruptor besar? Atau bahkan dengan tukang fitnah/ghibah? Atau dengan pendengki, meski penampilannya seolah sangat religius? Dst…

Baca Juga:  CARA MELEMBUTKAN HATI

Jadi, sekali lagi kesimpulannya, menurut saya, pengaruh agama itu berhubungan dengan kesiapan hati seseorang. Bukan tidak ada manfaat transformatif dari agama. Tapi, agama hanya bermanfaat transformatif buat orang yang hati/niatnya baik—atau masih menyisakan kebaikan. Baru kalau hati/niatnya (masih menyisakan ke-)baik(-an), agama akan bermanfaat transformatif baginya. Bukan sebaliknya.

Semoga Allah jauhkan kita dari menjadi orang-orang yang mengidap ghurur (terkelabui) oleh diri kita sendiri.

65 Shares:
You May Also Like