Berikut Beberapa Non Muslim yang Berjasa pada Nabi Muhammad

Adalah keliru kalau kita menggeneralisir semua non muslim adalah jahat, musuh, dan merupakan sebuah ancaman. Musuh kita adalah kezaliman, kejahatan, ketidakadilan, dan sejenisnya.

Nabi Muhammad sendiri, tercatat menjalin hubungan baik dengan non muslim. Beberapa non muslim tersebut juga sangat berjasa bagi kehidupan dan keberlangsungan dakwah Islam. Berikut beberapa non muslim yang berjasa:

  1. Abu Thalib

Abu Thalib adalah sosok yang sering kita dengar. Beliau paman Nabi Muhammad saw. dari pihak ayah Nabi. Di mana ketika Abdul Muthalib wafat, Nabi Muhammad dalam pengasuhan beliau. Hubungan Abu Thalib dan Nabi Muhammad sangat dekat, namun hingga wafat, Abu Thalib tidak mau meninggalkan agama sebelumnya.

Sewaktu mendapat perintah berdakwah kepada keluarga terdekat, Nabi Muhammad mengumpulkan beberapa keluarga Bani Muthalib. Namun, para hadirin tersebut menolak seruan Nabi. Abu Lahab adalah salah satu yang paling keras menolak. Sementara Abu Thalib menolak ajaran Nabi, namun mau mendukung dan memberi perlindungan.

Abu Thalib berujar, “Kami tidak suka menologmu, menjadi penasihatmu, dan membenarkan perkataanmu. Orang-orang yang menjadi Bani bapakmu ini sudah bersepakat. Aku hanyalah segelintir orang di atara mereka. Namun, akulah yang menjadi pertamakali mendukung apa yang engkau sukai. Maka, lanjutkanlah apa yang diperintah padamu. Demi Allah, aku senantiasa akan menjaga dan melindungimu, namun aku tak punya pilihan lain untuk melepas agama Bani Abdul Muthalib.”

  1. Raja Habasyah

Berbagai gangguan, tekanan, pengucilan, siksaan didapati kaum Muslim saat itu. Gangguan ini tidak berarti bagi Rasulullah karena kepriadian dan wibawanya. Di samping itu, beliau masih mendapat perlindungan dari Abu Thalib, tokoh yang dihormati masyarakat.

Nabi Muhammad telah mengetahui bahwa Raja Habasyah, Ashhamah An-Najasyi adalah pemimpin yang adil dan baik. Maka itu, Nabi Muhammad memerintahkan agar beberapa muslim hijrah ke negeri Habasyah. Sebuah negeri Kristen. Jika diibaratkan seperti saat ini, orang-orang muslim dari negerinya yang sedang konflik bermigrasi mencari perlindungan ke negeri-negeri Eropa untuk mengamankan diri.

Baca Juga:  Menyayangi Sesama Manusia: Tadabur Tiga Ayat Petama Surah Al-Ma’un Bersama Fakhruddin Ar-Razi

Beberapa muslim yang berhijrah di negeri itu diberi perlindungan dan diperlakukan adil oleh sang raja. Ketika utusan kafir Quraisy datang membawa hadiah kepada sang raja agar mengusir para muslimin di sana, sang raja mengajak berdialog. Dan, Raja Habasyah memutuskan tetap menerima para muslimin yang tinggal di negerinya.

  1. Mu’thim bin Adi

Nabi Muhammad kembali dari Tha’if setelah beliau mendapat penolakan kasar penduduknya. Namun, di Makkah, Nabi Muhammad tak mempunyai perlindungan. Abu Thalib, paman yang memberi perlindugan pada beliau telah wafat. Untuk itu, Nabi Muhammad mengirim utusan kepada bangsawan Makkah agar memberi perlindungan pada beliau. Tak ada yang merespon kecuali Mu’thim bin Adi.

Mu’thim tidak percaya pada agama Allah, tapi ia mau memberi perlindungan pada Nabi Muhammad. Nabi Muhammad memasuki Makkah dikelilingi putera-putera Mu’thim yang membawa senjata guna memberi perlindungan pada Nabi.

Mu’thim kemudian berseru pada khalayak, “Wahai orang Quraisy, aku telah melayangkan perlindunganku kepada Muhammad, jadi janganlah ada di antara kalian yang bertingkah untuk menyakitinya”.

  1. Abdullah bin Arqat

Ketika Nabi Muhammad hendak menuju Madinah dengan segala rintangannya, ada sosok-sosok yang berperan penting dalam kesuksesan hijrah tersebut, termasuk peran non-muslim.

Mereka adalah Abu Bakr Ash-Shidiq yang berperan membersamai Nabi, Ali bin Abi Thalib  berperan sebagai duplikat Nabi yang berkemul di ranjang beliau guna mengelabui musuh, Asma’ binti Abu Bakr sebagai pemasok pangan saat Nabi Muhammad dan Abu Bakr bersembunyi di gua. Selanjutnya, Abdullah bin Abu Bakr bertugas sebagai pemberi kabar tentang pergerakan musuh, Amir bin Fuhairah bertugas menghapus jejak-jejak Nabi dan Abu Bakr di jalan yang berpasir, dan Abdullah bin Urqat sebagai penunjuk jalan.

Baca Juga:  Ibnu Rusyd: Syariat dan Takwil

Adalah Abdullah bin Arqat, sosok non muslim yang membantu kesuksesan hijrah. Abdullah bin Urqat bertugas memandu atau menunjukkan jalan yang tidak biasa dilewati orang ketika hendak menuju Madinah. Strategi itu dilakukan agar aman dari intaian musuh. Nabi Muhammad mengupah Abdullah bin Arqat untuk memanfaatkan jasanya melihat pada potensi yang dimilikinya.

Bayangkan, ketika itu, pembesar Mekkah yang amat memusuhi Nabi telah menawarkan berbagai hadiah menggiurkan, termasuk ekor 1.000 unta bagi yang berhasil menangkap Muhammad baik hidup atau mati!  Bisa saja Abdullah bin Arqat berkhianat pada Nabi Muhammad karena tergiur dengan hadiah tersebut walau telah diupah oleh beliau, namun itu tidak dilakukannya.

  1. Mukhayriq

Mukhayriq bin Nadhir dari Bani Qainuqa’ adalah seorang rabbi Yahudi terkemuka. Pada tahun ketiga Hijriyah, terjadi Perang Uhud. Ketika itu, di Madinah, muslim dan Yahudi mengadakan perjanjian untuk saling melindungi dari musuh. Mukhayriq pun turut terjun ke medan perang dengan beberapa pengikutnya, walau sebagian orang Yahudi enggan turut berperang karena hari itu adalah hari Sabat.

Mukhayriq menyatakan, “Jika saja aku ditakdirkan gugur dalam Perang Uhud, maka akan kuwakafkan seluruh hartaku untuk kepentingan umat Islam”. Ternyata benar firasatnya, Mukhayriq gugur dalam Perang Uhud. Mukhayriq mendapat pujian dari Rasulullah segai “Sebaik-baik Yahudi”.

Sekian, semoga bermanfaat mari bersatu bukan berseteru.

1 Shares:
You May Also Like
Read More

Malamati

Karena begitu susahnya menahan nafsu riya’/pamer, dalam sejarah tasawuf sampai-sampai lahir kelompok malamatiyah. Mereka menampilkan diri sebagai orang…
Read More

Historisitas Khittah NU

Berawal dari teman-teman Gusdur (K.H. Abdurrahman Wahid) yang banyak mengatasnamakan diri sebagai pencinta NU (Nahdlatul Ulama). Kendati demikian,…