Mengurai Makna Batin Kisah Nabi Musa

Nabi Musa adalah salah satu Nabi yang paling banyak dikisahkan dalam Al-Quran. Secara rinci, kisahnya diceritakan di beberapa surat, dan lebih dari 120 kali disebut dalam Al-Quran.

Nabi Musa adalah salah satu nabi yang paling banyak menerima ujian dari Tuhan. Tuhan berfirman, “Aku akan mengujimu dengan berbagai macam ujian” (QS. Thaha [20]: 40).

Said bin Jubair pernah bertanya kepada Ibnu Abbas: “Apa yang dimaksud banyak ujian pada kisah Musa?” Lalu Ibnu Abbas membaca ayat yang menceritakan kisah Nabi Musa. Beliau sebutkan kisah Firaun, upaya pembantaian yang dia lakukan terhadap bayi laki-laki, kemudian kisah Nabi Musa dilempar di sungai dan ditemukan oleh keluarga Firaun. Kemudian kisah bayi Musa menarik jenggot Firaun, hingga Musa diberi pilihan antara kurma dan bara. Termasuk kisah dia membunuh orang mesir, lalu dia berlindung ke Madyan dan menikah dengan salah satu putri orang tua di Madyan. Kemudian ia kembali ke Mesir, dan beliau tersesat di kegelapan malam, hingga beliau melihat api dan mendapat wahyu dari Tuhan. Termasuk juga berbagai ujian Nabi Musa bersama Nabi Khidir, serta berbagai ujian lain yang bertujuan untuk menyempurnakan maqam (derajat) Nabi Musa. Ibnu Abbas mengatakan, “Inilah yang dimaksud banyak ujian itu wahai Ibnu Jubair” (Tafsir Ibn Katsir, 5/285).

Kebanyakan kisah para Nabi yang kita dengar dan kita baca, termasuk kisah Nabi Musa ini, hanya menekankan makna lahir saja. Nabi Musa melempar tongkat menjadi ular, tangannya yang bersinar menyilaukan, membelah laut dengan tongkatnya dll. Semua hanya dimaknai sebatas makna lahir saja. Padahal setiap kisah para Nabi dalam Al-Qur’an selalu ada hikmah dan makna batin yang lebih dalam.

Baca Juga:  Kemerdekaan dari Hawa Nafsu

Banyak makna batin yang bisa ditafsirkan dari kisah Nabi Musa. Salah satu makna batin kisah Nabi Musa yang menjadi favorit saya adalah kisah ketika ia bertemu dengan Tuhan, di bukit Sinai.

“Sungguh Aku adalah Tuhanmu. Maka, tanggalkanlah kedua sandalmu. Perhatikanlah engkau berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilihmu (untuk menjadi rasul), maka dengarkanlah apa yang diwahyukan kepadamu” (QS. Thaha [20] : 12-13).

Beberapa mufasir menganggap makna kata thuwa adalah nama salah satu lembah di bukit Sinai, sehingga banyak sekali yang menafsirkan ayat tersebut menjadi “lembah Thuwa yang suci”. Namun, Al-Zamakhsyari menafsirkan dengan lebih meyakinkan bahwa kata Thuwa berasal dari kata thiwan (dilakukan dua kali), jadi bukan nama sebuah lembah. Sehingga kalimat al-wadi al-muqaddasi thuwa bermakna “lembah yang disucikan dua kali”.

Ketika Nabi Musa diminta menanggalkan kedua sandalnya, itu merupakan simbol bahwa untuk mencapai martabat bertemu Tuhan, haruslah melepaskan diri terlebih dahulu dari dua alam yaitu alam nyata dan alam gaib, atau alam dunia dan alam akhirat, atau alam mulk dan alam malakut. Kedua sandal yang disebut dalam ayat itu merupakan simbol dari kedua alam tersebut.

Martabat Tuhan melampaui semua alam, sehingga untuk mencapai wilayah suci (qudus)-Nya, haruslah melepaskan diri dari belenggu semua alam tersebut, baik alam nyata maupun alam gaib. Lembah yang disucikan dua kali, mempunyai makna bahwa untuk mencapai wilayah suci Tuhan, haruslah melalui tahapan terbukanya hijab kegelapan dan hijab cahaya.

Dalam perjalanan menuju wilayah suci Tuhan ini, terdapat berlapis lapis hijab yang harus dilewati. Hijab tersebut digolongkan dalam dua golongan besar yaitu hijab kegelapan dan hijab cahaya. Hijab kegelapan dapat dilalui dengan melakukan perbuatan yang baik, menghindari segala perbuatan buruk, berupa maksiat, perbuatan keji, iri, dengki, hasad, dan perbuatan sia-sia. Dengan perjuangan keras melewati lapis demi lapis hijab kegelapan ini, hati kita akan semakin bersih, hawa nafsu lebih terkendali sehingga lebih mudah mendekat kepada wilayah suci Tuhan. Hijab kegelapan ini lebih jelas dan tebal batasnya. Semestinya kita bisa melewati  hijab ini, karena cukup jelas batasnya.

Baca Juga:  Kaum Muslim Mengapresiasi Filsafat Neoplatonisme

Setelah melewati hijab kegelapan ini kita akan tiba pada hijab cahaya yang jauh lebih sulit untuk dilewati. Hijab cahaya ini sangat halus dan lembut. Hijab cahaya ini demikian halus dan lembut sehingga bila kita kurang teliti, sering tidak tampak oleh kesadaran kita. Bila kita terpesona di hijab cahaya ini, berhenti dan mengagumi keindahannya, maka kita akan terhenti dalam perjalanan kita menuju Tuhan, bahkan cenderung timbul rasa ujub dan kesombongan di hati kita (merasa diri paling baik dan suci dibanding orang lain), yang akan menyebabkan kita terperosok kembali kepada hijab kegelapan, bahkan lebih rendah lagi.

Bila kita sudah merasa serba cukup dalam hidup kita, merasa sudah nyaman dan mapan akan hidup kita, merasa sudah cukup ilmu kita, merasa sudah cukup amal kita, merasa cukup kesabaran dan keikhlasan kita, merasa cukup sedekah kita, cukup ibadah kita, maka kita tidak bergerak dalam perjalanan menuju Tuhan, atau malah merosot turun dalam perjalanan tersebut.

Melalui berbagai ujian, Nabi Musa telah melewati hijab kegelapan maupun hijab cahaya, kemudian dibebaskan oleh Tuhan dari belenggu kedua alam, yaitu alam nyata dan alam gaib, agar dapat mencapai wilayah qudus-Nya, untuk bertemu dengan-Nya.

Demikianlah sedikit penafsiran tentang makna batin kisah nabi Musa. Wallahualam

1 Shares:
You May Also Like
Read More

Islam Agama Cinta

Haidar Bagir Dewan Pembina Nuralwala Suatu kali, lebih dari setengah abad lalu, seorang dosen-perempuan muda berkebangsaan Jerman mengajar…