Tasawuf itu Penting Karena di Situlah Pandangan Dunia Islam Dijaga dengan Serius Selama Berabad-abad

Di antara dua hal berikut ini, apa yang akan Anda pilih? Melindungi kebersihan hati dan menyendiri untuk memahami hakikat kehidupan, atau mengubah kondisi sosial yang penuh ketidakadilan, kemiskinan, kebodohan, dan kejahatan? Secara enteng Anda bisa saja menjawab: Tentu saja saya akan memilih kedua-duanya sekaligus. Namun, pada kenyataannya, memperoleh dua hal ini di waktu yang bersamaan adalah hampir mustahil.

Beberapa sarjana modern cukup cermat ketika memahami bahwa Nabi Muhammad saw. pada mulanya adalah sosok yang amat religius, menarik dirinya dari keramaian, memilih hidup dalam kesendirian untuk memahami hakikat kehidupan. Namun, setelah ia semakin populer dan memperoleh banyak pengikut dan pengagum, Muhammad mulai melakukan reformasi sosial, merencanakan perang melawan pelaku ketidakadilan dan kejahatan (Donner, 2015).

Pada mulanya, tentu saja kedua hal itu mustahil diraih sekaligus. Hanya saja, ketika Muhammad tidak lagi seorang diri dalam keseriusannya pada kehidupan luhur, ia mulai mampu untuk menggerakkan banyak orang, mengorganisir institusi sosial, memimpin sebuah negara, demi tujuan luhur yang ia cita-citakan: Keadilan dan kebahagiaan bagi semua orang (Aslan, 2015).

Kaum sufi (pengamal ilmu tasawuf) adalah orang-orang yang merasa berkewajiban untuk meniru apa yang sudah dilakukan Sang Nabi (Schimmel, 2005). Dalam metode mereka, pertama-tama manusia perlu masuk ke dalam dirinya sendiri, melindungi kebersihan hatinya, menjauhi kesenangan duniawi, dan berusaha menjadi sedekat mungkin dengan Tuhan. Selanjutnya, setelah mereka berhasil memperoleh kepuasan spiritual itu, mereka akan menuju masyarakat, untuk melakukan pengabdian sosial yang mungkin mereka laksanakan (Sirhindi, 2015).

Kemunculan dan Kontroversi Tasawuf

Ketika pertama kali muncul, tasawuf tidak memiliki banyak penolak dan pengecam seperti yang kita saksikan saat ini. Annemarie Schimmel (2018) mendapati bahwa tasawuf bermula pada gaya hidup orang-orang asketik (zahid, zuhhad), yang memilih hidup kesalehan, dan menjauhi keramaian dunia. Para sufi tentu saja akan menyandarkan ajaran mereka kepada Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Tapi, sejauh yang bisa ditelusuri oleh sejarah modern, gerakan asketik yang merupakan cikal-bakal tasawuf mulai muncul di akhir abad ke-7 dan awal abad ke-8 masehi, dengan tokoh berpengaruh bernama Hasan al-Basri (Ansary, 2015).

Tak ada yang perlu dikecam dari gerakan asketik ini, karena semua orang tahu bahwa gaya hidup sederhana adalah ajaran Al-Qur’an, dan begitulah Muhammad dulu juga hidup (Haekal, 1982). Tapi, pada masa Hasan al-Basri hidup, asketisisme adalah gugatan atas keluarga kerajaan Umayyah. Banyak orang yang jatuh hati kepada Hasan karena melihat bahwa inilah dia orang yang hidup seperti dulu Sang Nabi hidup. Dan banyak yang membenci keluarga kerajaan karena melihat bahwa mereka tak lebih baik dari raja-raja Romawi yang gemar berfoya-foya, berperang, dan menindas lawan politiknya (Madjid, 1992).

Seandainya tasawuf hanya sebuah ajaran asketisisme, mungkin selamanya tak akan ada orang yang membencinya. Namun, tasawuf bukan sekadar asketisisme. Pada dasarnya, Anda tak perlu jadi sufi untuk hidup secara sederhana. Dengan kata lain, ada dimensi lain dari tasawuf yang justru lebih kuat, dan menjadi pembeda tasawuf dari bentuk keislaman lain sepanjang sejarah. Dimensi itu bukan asketisisme, melainkan mistisisme (Taftazani, 2003).

Baca Juga:  Ziarah ke Sebalik Sungai Amu Darya (Bagian 2)

Menurut Annemarie Schimmel (2018), tasawuf disebut mistisisme karena pada inti ajarannya tasawuf meyakini bahwa hakikat sejati dari Tuhan dan kebenaran adalah mustahil dicapai lewat cara-cara yang umum, logika, atau akal manusia. Tuhan adalah misteri sejati, yang akal tidak mungkin memahaminya, dan hanya bisa diketahui oleh hati yang suci, yang pantas mengetahuinya. Mistisisme berasal dari bahasa Yunani myein yang berarti menutup mata. Para sufi bagaikan orang yang menutup mata, pasrah, dan hanya peduli kepada kekasihnya: Tuhan.

Rasa cinta kepada Tuhan begitu besar dalam kesadaran kaum sufi, sehingga mereka merasa tidak cukup puas dengan praktik ibadah yang dilakukan orang secara umum. Di dasar pemikiran tasawuf ada keinginan yang kuat untuk bisa mencapai pengalaman batin yang luar biasa, seperti pengalaman seorang pencinta bertemu kekasihnya (Ansary, 2015). Apakah aku juga bisa merasakan apa yang Muhammad rasakan ketika bertemu Allah ketika Mi’raj? Mengapa sudah banyak aku menjalankan ibadah, tapi tak ada yang kurasakan, tak ada kenikmatan spiritual? Begitulah pertanyaan dan keinginan dasar para sufi (Schimmel, 2018).

Begitu tenggelamnya mereka dalam perasaan rindu tersebut, membuat mereka merasa berhak untuk melaksanakan lebih dari apa yang diperintahkan oleh syariah dan fikih (Ansary, 2015). Jika Anda pernah menjadi pengikut sebuah tarekat tasawuf, Anda akan paham apa yang saya katakan. Para sufi menciptakan ibadah-ibadah sunnah baru, yang mereka bebankan atas dirinya, demi memperoleh lebih banyak keberkahan (barakah) spiritual. Lagi pula, jika hidup itu bertujuan untuk mengabdikan diri kepada Tuhan, mengapa harus membatas-batasi ibadah dan pengabdian kepada-Nya?

Di sinilah letak ketidaksukaan beberapa pihak dari kaum Muslim kepada tasawuf, terutama sekali kaum syariah-minded (istilah Marshall Hodgson untuk menyebut ahli ilmu fikih dan penggemar fikih). Mereka menilai kaum sufi sebagai pembuat bidah dan kesesatan, karena menambah-nambah sesuatu ke dalam agama (Hodgson, 2002).

Di dalam pembelaannya, kaum sufi tidak terima disebut pembuat bidah. Jika ada yang mereka tambahkan dalam agama, itu bukanlah ajaran baru, melainkan metode baru untuk mencapai ajaran inti Islam. Jika saya boleh membayar sedekah dan zakat sebanyak-banyaknya apabila saya mampu, mengapa saya tidak boleh shalat sunnah dan zikir sebanyak-banyaknya jika saya mampu? Dan, dalam praktik tarekat-tarekat sufi terbukti ada banyak orang yang mengalami kesadaran ruhani, mimpi-mimpi mengagumkan, dan penyucian hati. Jika ajaran mereka salah, mengapa mereka berhasil mencapai tujuannya?

Pandangan-Dunia Islam dalam Tasawuf

Para sufi mungkin akan berpikir secara polos seperti ini: Seandainya semua orang adalah sufi, maka dunia akan baik-baik saja. Begitu pula para fuqaha akan berpikir serupa: Seandainya semua orang taat pada syariah Islam, maka dunia akan tenang dan damai. Tapi kita tahu, dunia tidak berjalan seperti itu. Entah sejak kapan dimulainya, dalam pemikiran seorang yang beragama selalu ada kemungkinan besar ia mengira bahwa cara hidupnya, agamanya, dan kelompoknya adalah yang paling benar dan lurus (Haidt, 2021).

Baca Juga:  Peradaban di Masa Dinasti Umayyah dan Kebijakan Umar bin Abdul Azis (2): Pengembangan Pemikiran dan Peradaban Islam

Tapi, sufi polos adalah pengecualian dalam lingkungan tasawuf. Seperti dipahami oleh banyak ilmuwan serius seperti Annemarie Schimmel dan Abdul Hadi WM, tasawuf sulit menciptakan seorang yang berpikiran dogmatis dan sempit, disebabkan keyakinan dasarnya kepada cinta yang mistis, dan gaya hidup asketis. Di sinilah bermula benih-benih pandangan-dunia Islam yang dengan setia dijaga oleh para sufi. Islam jelas mengajarkan kita beriman kepada Allah; tapi para sufi akan bertanya: Apakah iman hanya sekadar hafalan di kepala, dan bukan sebuah perasaan dekat dengan Tuhan, pengakuan akan kebesaran-Nya, dan peniruan akhlak-akhlak-Nya? (Allawi, 2009).

Kebiasaan dasar bagi semua orang adalah berpikir secara parsial dan sepotong-sepotong. Ketika Anda melihat sebuah katedral, secara parsial Anda hanya akan menilainya sebagai rumah ibadah umat Katolik. Penilaian ini bisa saja membawa Anda pada rasa tidak suka pada katedral. Kita tidak terbiasa berpikir menyeluruh, dan melihat bahwa katedral adalah tempat nama-nama Tuhan disebut, tempat orang-orang mengungkapkan pengakuan dosa, dan tempat banyak orang memperoleh kembali harapan untuk hidup. Agamanya bisa saja beda. Tapi, ajaran kasih sayang dan ketuhanannya jelas sama-sama menyelamatkan manusia.

Seorang Muslim juga tak luput dari cara berpikir parsial. Bisa jadi Anda melihat Islam adalah akidahnya saja, atau fikihnya saja, atau politiknya saja. Di dalam tasawuf, Anda akan merasa malu jika berpikir sesempit itu. Untuk bisa menguasai semua dimensi Islam, mungkin Anda mengira butuh waktu lama mempelajari ribuan kitab dari ribuan ulama. Di dalam tasawuf, Anda akan malu jika mengira Islam harus dipelajari dari orang lain, dan dari buku-buku.

Nasihat tasawuf untuk Anda yang ingin mengerti semua dimensi Islam adalah kembali ke hati nurani Anda sendiri (Schimmel, 2018). Metode hati menjadi ciri utama mistisisme tasawuf, karena tidak ada yang tahu bagaimana hati Anda bicara selain Anda sendiri dan Tuhan. Islam tak bisa diajarkan kepada Anda, jika hati Anda sendiri belum terbuka. Alasan logis mengapa tasawuf selalu mendahulukan akhlak dan ritual penyucian hati adalah karena hati dibersihkan bukan dengan mencuci jantung, liver, atau membelah dada kita. Hati dibersihkan dan dibuka dengan jalan kepasrahan dan ketaatan pada agama, Tuhan, dan akhlak-Nya. Berserah (Islam) adalah inti tasawuf (Madjid, 1992).

Semua yang kita bicarakan di atas adalah pandangan-dunia Islam, karena Islam memandang dunia sebagai satu kesatuan utuh, imparsial, menyeluruh, dan holistik. Tampaknya Muslim yang benar-benar berhasil hidup dengan pandangan-dunia ini hanya sedikit di setiap generasi. Terlepas dari kekurangan tasawuf di mata penggemar fikih, atau keanehan tasawuf di telinga orang-orang syariah-minded, sejak kemunculannya pertama kali oleh generasai Hasan al-Basri dan Rabi’ah, hingga generasi Naqsyabandiyah dan Syadziliyah, tasawuf setia mengakui bahwa Islam adalah syariah, thariqah, dan haqiqah (ibadah, penyucian hati, dan kedekatan dengan Tuhan).

Baca Juga:  Islam Agama Cinta Kasih

Penutup

Semangat politik yang berapi-api, dan militansi menyelamatkan kemurnian Islam dari bidah dan takhayul, membuat beberapa orang tidak melihat ada harapan bagi dunia Islam di dalam tasawuf. Anda bisa saja berkata begini: Apa yang bisa tasawuf lakukan untuk mengenyangkan perut orang miskin? Apa yang bisa tasawuf lakukan untuk menyelamatkan lingkungan alam dari kapitalis? Apa yang bisa tasawuf lakukan untuk mencegah korupsi? Hari ini, meski tidak semua, perhatian umat Islam pada umumnya adalah pada urusan ekonomi dan politik.

Tapi, terlalu naif jika kita mengira para sufi punya agenda-agenda politik dan ekonomi. Mereka tak pernah berharap Anda memilihnya menjadi seorang walikota, gubernur, atau presiden. Kerendahan hati dan asketisisme menghalangi para sufi untuk merasa dirinya adalah utusan Tuhan bagi keselamatan manusia. Imam Rabbani Ahmad Sirhindi, mursyid besar Naqsyabandiyah berkata: Kita (para sufi Naqsyi) harus memandang diri kita sebagai manusia paling hina, rendah, dan berdosa (Sirhindi, 2015).

Persis di sinilah letak kegelisahan Ali Allawi (2009), intelektual Muslim Irak, atas klaim-klaim bombastis para politisi dari partai politik Islam. Tanpa menyadari iblis di dalam hati mereka sendiri, para politisi itu berkampanye seolah mereka sudah tahu bagaimana mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Para sufi akan takut dan menggigil ketika ada orang yang memuji-muji diri mereka. Itu adalah awal bagi kejatuhan spiritualnya. Sementara para politisi dan beberapa ulama yang populer, akan semakin berbunga-bunga (untuk tidak menyebut besar kepala) ketika rakyat memuji, memuja, dan menyembahnya.

Walhasil, tasawuf mungkin tidak akan memuaskan Anda, jika Anda mencari ramuan-ramuan instan untuk mengatasi kemiskinan, meningkatkan pendapatan per kapita negara, melakukan demokratisasi, dan mewujudkan negara antikorupsi. Para sufi akan diam, atau berkata tidak tahu atas apa yang mereka benar-benar tidak tahu. Metode mistisisme mereka yang berpusat pada hati, membuat mereka sangat peka bahwa hati akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan.

Lagi pula, siapa bilang bahwa masalah paling besar umat manusia hari ini adalah bertempat di ekonomi dan politik? Dalam pandangan-dunia Islam—yang dengan setia dijaga oleh tasawuf—masalah paling besar umat manusia selalu sama: Keserakahan hawa nafsu kita (Allawi, 2009). Dalam pengakuannya atas pengalaman politik di negaranya sendiri, Allawi (2009) berkata: Para politisi partai Islam itu, tanpa rasa malu, menginjak-injak nilai-nilai moral dan spiritual Islam setelah mereka berkuasa. Tak ada perhatian pada pendidikan akhlak kaum Muslim, tak ada keseriusan agenda menyejahterakan rakyat. Mereka lebih serius berpikir, bagaimana caranya bisa menang di pemilu berikutnya. Itulah keserakahan.

0 Shares:
You May Also Like