Sabar: Syarat Meraih Cinta-Nya

Oleh: Darmawan

Ketua Program Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf

Fenomena pandemi COVID-19 telah mengubah tatanan kehidupan kita. Masyarakat dihimbau untuk belajar, bekerja dan beribadah di rumah. Tentu, ini berdampak pada serangkaian ritual ibadah di bulan Ramadhan seperti shalat tarawih berjamaah, tadarus Alquran di pojok-pojok masjid, di pesantren-pesantren dan di surau/musala para Kiai sepuh mengadakan Ngaji Kuping atau Ngaji Pasaran secara rutin tuk membaca kitab tertentu yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat, semuanya harus ditiadakan sementara.

Secara psikologis memang berat, ketika umat Muslim dipaksa untuk meninggalkan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan telah membudaya.  Lalu, bagaimana kita harus menyikapinya?

Allah berfirman, “…Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar” (QS. Ali Imran [3]: 146)

Ya, sabar merupakan sikap ‘terbaik’ untuk merespon fenomena tersebut. Apa itu sabar? Kenapa kita diperintahkan untuk bersabar dalam kondisi seperti ini? Seberapa penting sabar itu bagi kehidupan? Kapan sabar itu menjadi penenang jiwa hingga berbuah cinta-Nya?

Sabar adalah hal yang sangat mudah diucapkan, namun teramat sulit diamalkan dalam kehidupan. Karenanya dalam pepata Arab disebutkan, “Man shabara dhafira: siapa yang mampu bersabar pasti akan mendapatkan kesuksesan atau keberhasilan”. Lantas, apa itu sabar?

Sabar berasal dari kata shabara – yashbiru yang berarti tegar, menahan diri, tabah dan bertahan. Sabar dibutuhkan kapan pun dan di mana pun serta sabar harus merasuk pada lintas umur—dewasa, anak-anak, laki-laki, perempuan, kaya, miskin dll—semuanya membutuhkan kesabaran. Sebab apa yang dialami manusia itu tidak keluar dari dua kemungkinan;(1) Mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan keinginan dan kehendaknya. (2)Mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan dan kehendaknya.

Baca Juga:  Soal Yasinan dan Malam Jumat

Di dalam kitab al-Hikam Syaikh Ibnu ‘Atha’illah berkata

إنَّما يُؤلِمُكَ المَنْعُ لِعَدَمِ فَهْمِكَ عَنِ اللهِ فيهِ

“Sesungguhnya yang menjadikanmu bersusah hati karena tidak ada pemberian, itu karena engkau tidak memahami pemberian Allah (kepadamu yang sebenarnya)”.

Artinya, ketika kita meminta sesuatu, lalu Allah tidak mengabulkannya, hati menjadi kesal, galau, gunda gulana dan sebagainya. Itu semua  disebabkan karena kita tidak memahami hakikat kehendak dan pemberian-Nya. Jika kita pahami dengan sebenar-benarnya, maka hati pun akan bersabar hingga berbuah kebahagiaan, melahirkan ketenangan walau permintaan itu tidak dikabulkan atau tidak sesuai dengan keinginan dan kehendak yang diminta. Pahamilah itu semua adalah kehendak agar kita selalu mendekatkan diri kepada-Nya dan selalu menyadarkan hati hanya kepada-Nya. Jika demikian dipastikan kita akan menjadi kekasih Allah, kita akan rida dengan ketetapan Allah dan Allah pun akan rida dengan kita.

Alquran menegaskan,“…Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagi kamu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”(QS. Al-Baqarah [2]: 216).

Jika kita mendapatkan apa yang diinginkan pada saat yang sama diharuskan untuk bersabar. Jangan sampai menggunakan segala fasilitas kenikmatan yang dimiliki—kesehatan, kekayaan, dll— untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Hal yang sama juga ketika kita mendapatkan yang tidak sesuai dengan keinginan dan kehendak kita—dalam konteks ini belajar, bekerja dan beribadah di rumah—dituntut untuk bersabar pula jangan sampai melangkah ke arah yang tidak dibenarkan oleh agama, kesehatan, budaya dan moral.

Alquran mengingatkan, “Demi waktu! sesungguhnya (semua) manusia (yang mukallaf yakni yang mendapat beban perintah keagamaan) benar-benar dalam (wadah) kerugian (dan kebinasaan besar). Kecuali orang-orang yang beriman mengerjakan amal saleh serta saling berwasiat tentang kebenaran dan saling berwasiat tentang kesabaran” (QS. Al-‘Asr [103]:1-3)

Baca Juga:  Menilik Latar Belakang Historis Pemikiran Asghar Ali Engineer

Ayat tersebut setelah menjelaskan pelbagai kebaikan diakhiri dengan kesabaran. Artinya dalam menjalankan keimanan perlu kesabaran, dalam beramal saleh perlu kesabaran, dalam nasehat saling menasehati pun demikian. Tanpa kesabaran kita bisa terjerumus ke dalam wadah kerugian. Sabar itu ialah kunci kesuksesan dan kesempurnaan.

Orang yang sabar akan merasakan enjoy dengan segala apa pun yang ia terima. Pada diri mereka tidak ada istilah lemah dan lesuh, semua yang di hadapannya penuh keindahan. Terkait dengan ini Alquran lukiskan “…Mereka tidak menjadi lemah karena (bencana) yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak menyerah; dan Allah menyukai orang-orang yang sabar” (QS. Ali Imran [3]: 146).

Orang yang sabar berhak mendapatkan cinta-Nya, ia tidak pernah berbagi penderitaan/virus, tidak berbagi keluh kesah, tidak berbagi kekesalan, tidak berbagai energi negatif dan tidak ada sedikiti pun rasa kesal di hatinya karena pada diri meraka telah termanifestasi asma’ Allah as-Shabur (Maha Penyabar).

Dengan demikian kunci kesempurnaan manusia terletak pada sifat sabar, bahkan untuk menggapai cinta-Nya juga harus memiliki sifat penyabar. Mungkin inilah rahasia kenapa dalam asma’ al-husna diakhiri dengan asma al-shabur

Wa-Allahu a’lam

4 Shares:
You May Also Like
Read More

FILSAFAT DAN PERADABAN

Peradaban adalah kehidupan yang dibuat oleh manusia di muka bumi. Begitulah para peneliti sejarah dan kebudayaan mengartikan peradaban.…