Refleksi atas Pidato Soekarno 17 Agustus 1966 dan Kontekstualisasinya pada Hari ini

Pidato Soekarno pada 17 Agusus 1966 tentu sangat menarik. Pertama, karena pidato tersebut dilakukan dalam waktu yang sangat krusial, yaitu saat denyut nadi kekuasaan Soekarno sudah mendekati akhir. Soekarno tentu sadar, saat itu kekuasaannya sudah digerogoti oleh Suharto. Akan tetapi, dalam pidatonya itu, ia justru menampilkan nada optimisme dan menyebut bahwa Suharto menjalankan tugasnya dengan baik dalam melakukan penertiban. Tentu, kita bisa bertanya-tanya, apa yang saat itu ada dalam benak Soekarno saat menyampaikan pidatonya itu? Kedua, tentu saja berkaitan dengan isi pidatonya yang sangat terkenal, yaitu Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah, yang menurut hemat saya perlu untuk kita renungkan kembali.

Di antara dua hal menarik yang saya tuliskan di atas, tulisan kali ini memfokuskan pada hal menarik yang kedua dan guna melihat relevansinya pada kehidupan masa kini. Bagi Soekarno, sejarah itu sangat penting. Sebab itu, orang bukan hanya tidak bisa meninggalkan sejarah, sebagaimana ungkapan Abraham Lincloln, tapi Soekarno juga memperingatkan agar jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Mengapa sejarah itu penting? Agar kita tidak kehilangan identitas dan jati diri sebagai sebuah bangsa.

Adapun yang disebut sebagai identitas dan jati diri bangsa oleh Soekarno, yaitu masyarakat yang gotong royong, itulah fundamennya. Ciri masyarakat yang gotong royong ini, bahkan sudah mengakar jauh sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, dan gotong royong inilah yang seharusnya selalu dilestarikan. Masyarakat Indonesia tidak boleh kehilangan semangat gotong royong sebagai identitasnya, karena semangat gotong royong itulah yang mendasari perjuangan bangsa dalam melewati periode-periode yang krusial.

Bagi Soekarno, sejarah sangat penting, ia bagaikan samudera yang dahsyat. Terlebih lagi, sejarahnya suatu bangsa yang besar. Dari sejarah, kita bisa belajar, kadangkala kita dibanting ke bawah bahkan nyaris tenggelam sama sekali, terkadang juga kita berada di posisi atas puncak gelombang, sehingga rasanya hampir mencapai bintang-bintang. Itulah ungkapan kiasan dari seorang Soekarno untuk menggambarkan naik-turunnya perjalanan sejarah bangsa.

Baca Juga:  Agama Hanya Berdampak Positif Bagi Orang-Orang yang Hatinya Masih Menyisakan Kebaikan

Poin penting dari pembelajaran sejarah itu, yaitu bagaimana pun bangsa ini terpuruk, akan tetapi yang tidak pernah hilang adalah semangat untuk selalu berjuang dan tidak berputus asa dalam menghadapi badai gelombang yang siap menerkam dan menenggelamkan. Tentu saja, semangat untuk selalu berjuang dan berjalan terus ini, sebagai bagian dari upaya untuk menuju apa yang diamanatkan oleh Proklamasi 17 Agustus 1945 beserta anak kandungnya yaitu Deklarasi Kemerdekaan yang tertulis sebagai pembukaan UUD 1945.

Dengan demikian, penting kita menengok sejarah, agar tidak menjadi bangsa dan generasi yang ahistoris, dan agar kita selalu ingat akan cita-cita historis berdirinya republik ini yang begitu luhur, yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa, mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur dan sebagainya”. Cita-cita historis inilah yang seharusnya terpatri dalam pikiran setiap anak bangsa, sehingga segala kesulitan yang kita hadapi saat ini, tidak menjadi alasan bagi kita untuk mundur, karena kita menyadari bahwa tugas kita sebagai anak bangsa belum selesai dalam rangka mengisi kemerdekaan ini dan bagaimanapun kondisinya kita harus tetap berusaha melangkah maju dalam upaya untuk memenuhi cita-cita kemerdekaan sebagaimana yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.

Dan dalam perjalanan menuju cita-cita historis kemerdekaan itu, yang dibutuhkan adalah persatuan. Sebab itu, Soekarno berpesan “persatuan bangsa, persatuan bangsa dan perstauan bangsa” itu penting. Ia menambahkan dalam bahasa sansekerta “Dharma eva hato hanti, dharma eva hato hanti”, yang berarti “kuat karena bersatu, bersatu karena kuat”. Itulah modal penting bagi kita sebagai bangsa, untuk dapat melewati masa-masa sulit.

Bagi Soekarno, pembelajaran dari sejarah, harusnya menyadarkan kita bahwa perpecahan hanya membawa pada keruntuhan belaka. Sebab itu, Soekarno berpesan “Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta”.

Baca Juga:  Mengenal Hermeneutika Al-Qur’an Irfan Ahmad Khan

Belajar sejarah dan belajar dari sejarah tentu sangat penting dan dapat membuat kita lebih arif memandang masa depan, karena kita bisa belajar apa-apa yang baik dan buruk, positif dan negatif, yang mengokohkan dan meruntuhkan, dan sebagainya. Dari situ, kita bisa juga belajar hal baik apa di masa lalu yang perlu kita teruskan ataupun tingkatkan dan begitu pula sebaliknya. Soekarno sendiri mengingatkan, bahwa kemajuan atau apapun yang kita hadapi hari ini, merupakan akumulasi daripada hasil-hasil perjuangan di masa lampau.

Mengkontekstualisasikan Pemikiran Soekarno untuk Kehidupan Hari ini

Pidato Soekarno pada 55 tahun yang lalu dapat memberi spirit bagi kehidupan hari ini. Soekarno memang benar, sejarah memberikan gambaran kepada kita bahwa meskipun ada banyak gempuran badai yang mencoba menerjang bangsa ini, tapi nyatanya bangsa ini selalu bisa melewatinya. Sebab itu, bagaimanapun masalah yang dihadapi hari ini, seperti pandemi COVID-19, kita harus tetap berupaya berjalan melewatinya dengan nafas dan semangat gotong royong.

Semangat gotong royong inilah, yang menurut hemat Soekarno sudah mengakar dalam masyarakat kita dan menjadi identitas bangsa kita, tidak boleh kita tinggalkan dan jadi modal penting untuk menghadapi permasalahan yang tengah kita hadapi hari ini, termasuk COVID-19. Kita harus tetap memupuk optimisme bahwa bangsa ini akan mampu melewatinya dan sebagai anak bangsa kita bisa mengerjakan apa-apa yang semampunya kita lakukan, minimal mematuhi protokol kesehatan sebagai bentuk ikhtiar untuk menghindari COVID-19 dan dengan demikian kita turut meringankan beban tenaga kesehatan.

Selain itu, pandemi ini jelas sangat memukul masyarakat kalangan bawah, pelaku usaha kecil, para tukang becak dan sebagainya. Sudah selayaknya, sekali lagi, semampu kita untuk dapat membantu mereka. Dengan demikian, kita mengaplikasikan semangat gotong royong, yang menurut Soekarno adalah identitas bangsa kita dan menjadi modal penting untuk menghadapi segala problem yang tengah dihadapi oleh bangsa.

Baca Juga:  Abu Bakr Al-Razi (1): Akal dan Kenabian, Kritik terhadap Agama-Agama Wahyu

Belajar dari sejarah, nyatanya meski pun sering kali dengan langkah yang tertatih, namun nyatanya bangsa ini tetap bisa berdiri dan mampu melewatinya, sehingga harusnya bisa membuat kita merasa optimis bahwa masalah yang dihadapi saat ini pun akan mampu kita lewati.

Akan tetapi—sebagai catatan—semangat persatuan sendiri, sebagaimana yang selalu digelorakan oleh Soekarno, akan sangat sulit terjadi tanpa adanya rasa saling percaya antar warga negara. Dari sinilah, diperlukan political will dari pemerintah untuk dapat membangun kepercayaan, baik sesama warga negara maupun dari warga negara terhadap negara.

Adapun hal mutlak yang perlu dilakukan, yakni meminggirkan segala kepentingan pribadi atau kelompok demi terwujudnya kehidupan baik bersama, dan hal ini dapat tercermin dengan kebijakan yang dikeluarkan. Dengan demikian, “Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh” bukan hanya menjadi tema Peringatan Kemerdekaan tahun ini semata, melainkan dapat dirasakan oleh semua lapisan bangsa. Tentu, hal ini menjadi impian kita bersama.

1 Shares:
You May Also Like