Menyelami Makna Pendidikan Bersama Paulo Freire

Dalam khazanah filsafat pendidikan, nama Paulo Freire jelas menjadi nama yang sangat cemerlang. Ia seorang pemikir yang bukan hanya dikenal mempunyai ketajaman intelektualitas, tetapi juga seorang aktivis atau pejuang pendidikan yang mempunyai kepekaan mendalam terhadap persoalan kemiskinan, kesengsaraan, dan ketertindasan. Perhatian Freire terhadap soal-soal itu, tentu berangkat juga dari pengalaman pahitnya. Freire yang dilahirkan pada 1921 di Recife, Brazil, merupakan salah stau daerah termiskin di dunia ketiga.

Menurut Richard Saull yang memberi kata pengantar pada buku Pendidikan Kaum Tertindas yang ditulis oleh Freire (2008), dikatakan bahwa meskipun Freire berlatar belakang keluarga kelas menengah, akan tetapi krisis ekonomi tahun 1929 di Amerika Serikat turut memengaruhi Brazil, dan keluarga kelas menengah Freire pun turut merasakan akibatnya. Freire pun pernah mengalami kelaparan dan bahkan putus sekolah.

Dari pengalaman pahit itulah, kesadaran dan kepekaan Freire pada isu-isu soal keterbelakangan, kemiskinan, dan semacamnya terbentuk, yang bahkan sejak usia 11 tahun ia sudah mempunyai tekad untuk mengabdikan hidup bagi perjuangan melawan kemiskinan, sehingga anak-anak lain tidak akan mengenal penderitaan yang dia alami. Dari situlah yang kemudian turut membimbing Freire untuk menyelidiki akar dari persoalan tersebut dan membawanya untuk merumuskan suatu gagasan mengenai pendidikan.

Pendidikan yang Membebaskan

Dalam pengantarnya pada buku Pendidikan Kaum Tertindas (2008), Richard Saul mengemukakan bahwa Freire sendiri menggambarkan apa yang disebut sebagai “kebudayaan bisu” di kalangan orang-orang yang tersisihkan itu. Bagi Freire, kebodohan dan kelalaian yang terjadi, merupakan dampak dari perekonomian sosial dan pengekangan politik, juga paternalisme, di mana merekalah yang menjadi korban-korbannya. Persoalannya menjadi jelas bagi Freire, bahwa keseluruhan sistem pendidikan yang ada merupakan salah satu perangkat utama kebudayaan bisu tersebut.

Baca Juga:  Nilai-Nilai Agama dalam Kehidupan Bernegara (1)

Maka, dalam buku Pendidikan Kaum Tertindas tersebut, yang merupakan salah satu karya terpenting Freire, secara gamblang Freire menekankan pentingnya bagi orang-orang yang tersisihkan (tertindas, miskin, dan sebagainya) untuk menjawab segala realitas kongkret yang dihadapi, dan hal itu hanya dimungkinkan jika “kesadaran kritis” itu tumbuh.

Freire melihat apa yang disebut sebagai “pendidikan” itulah yang semestinya dapat menumbuhkan kesadaran kritis tersebut. Dalam konteks ini, tentu penyadaran (conscientization), yang diartikan sebagai belajar memahami kontradiksi sosial, politik, dan ekonomi, serta mengambil tindakan untuk melawan unsur-unsur yang menindas dari realitas tersebut, merupakan hal yang sangat penting.

Tentu saja, pendapatnya tersebut tidak bisa dilepaskan dengan bagaimana Freire itu sendiri dalam memaknai hakekat pendidikan, yang ia tegaskan juga dalam buku Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan (2007), yaitu untuk pembebasan. Pendidikan merupakan proses pemerdekaan, dan bukannya penjinakkan sosial budaya (social and cultural domestication).

Dengan kalimat lain, pendidikan harusnya menumbuhkan kesadaran bagi manusia untuk membebaskan dan memerdekakan diri dari realitas yang menindas dan selalu mempunyai hasrat untuk merubah realitas yang menindas tersebut guna tegaknya nilai-nilai keadilan. Sebab itu, metodologi pendidikan harus bertumpu pada prinsip-prinsip aksi dan refleksi total.

Akan tetapi, berdasarkan pengalamannya yang ia tuangkan dalam buku Pendidikan Kaum Tertindas (2008), orang-orang yang tertindas atau tersisihkan, terkadang justru mengkhawatirkan “penyadaran”, mereka mempunyai perasaan fear of freedom dengan berbagai alasan, seperti khawatir membuahkan kekacauan, bersikap anarkis dan lain-lain. Padahal, penyadaran diri memungkinkan seseorang untuk memasuki proses sejarah sebagai subjek-subjek yang bertanggung jawab, penyadaran diri akan mengantarkan mereka masuk ke dalam pencarian afirmasi diri sendiri.

Cara pandangnya terhadap pendidikan tersebut, tentu berangkat dari keprihatinan utamanya terhadap persoalan humanisasi dan dehumanisasi, di mana keprihatinan terhadap humanisasi tersebut akan membawa kita pada pengakuan adanya masalah dehumanisasi. Dan ketika semakin sadar betapa maraknya praktik dehumanisasi, Freire mengandaikan kaum tertindas kemudian melakukan pelawanan atas segala praktik dehumanisasi tersebut.

Baca Juga:  Makna Pluralisme yang Sebenarnya

Freire (2008) menulis “demikianlah, hal ini merupakan tugas kesejarahan dan kemanusiaan terbesar bagi kaum tertindas: membebaskan diri mereka sendiri dan kaum penindas mereka”. Artinya, kaum tertindas bukan hanya membebaskan dan memerdekan diri mereka sendiri dari segala praktik yang tidak manusiawi, tapi juga, mengutip pengantar dalam buku Politik Pendidikan (2007) “membebaskan kaum penindas dari penjara hati nurani yang tidak jujur melakukan penindasan”.

Bagi saya, menyelami gagasan Freire dalam memaknai pendidikan tentu hal yang menarik, dan patut kita refleksikan untuk pendidikan dan kondisi di Indonesia. Hal yang selalu perlu kita ingat, mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan bagian dari cita-cita historis berdirinya republik ini, dan tentu saja pendidikan merupakan hal yang mendasar untuk merealisasikan cita-cita historis tersebut.

Akan tetapi, hal yang perlu kita renungkan, sejauh mana pendidikan di kita mampu menyadarkan secara kritis terkait problem nyata yang tengah dihadapi masyarakat kita? Sejauh mana pendidikan mampu memberi kepekaan dan mampu menjawab tantangan ketimpangan dan sebagainya, dan mampu memberi energi untuk menguatkan hasrat bertindak secara terus-menerus untuk mengubah keadaan tersebut? Sejauh mana pendidikan kita dapat “memanusiakan manusia”?

38 Shares:
You May Also Like