Menyayangi Sesama Manusia: Tadabur Tiga Ayat Petama Surah Al-Ma’un Bersama Fakhruddin Ar-Razi

Setelah sebelumnya kita mentadaburi ayat terakhir surah ad-Dhuha, mari kita melanjutkan pembahasan tematik tafsir Fakhruddin Ar-Razi. Pada kesempatan kali ini kita akan bersama-sama mentadaburi surah al-Ma’aun ayat 1-3. Tiga ayat dalam surah tersebut menggambarkan gagasan penting agar seorang muslim memiliki kepekaan yang kuat terhadap sesamanya.

Pada ayat pertama yang berbunyi “ara’aitalladzi yukadzibu biddin” yang artinya, “Tahukah kamu (wahai Muhammad saw) orang-orang yang mendustakan agama?”

Ayat tersebut menggambarkan keheranan Allah terhadap hamba-Nya yang tidak memperhatikan kondisi sekitarnya. Padahal di sekitarnya pastilah terdapat banyak anak yatim yang terlantar dan sengsara. Begitu juga orang-orang miskin yang membutuhkan bantuan.

Ar-Razi menyatakan bahwa ada beberapa permasalahan penting terkait ayat pertama ini di antaranya; Makna “ara’aita” yang artinya, “apakah kamu (wahai Muhammad saw) telah melihat?” dapat diartikan menjadi, “apakah kamu (wahai Muhammad saw) mengetahui?” Jadi, ayat pertama dapat dipahami dengan, “apakah kamu (Wahai Muhammad saw) mengetahui orang-orang yang mendustakan agama?”

Oleh karena itu, jawaban setelahnya terdapat pada ayat kedua yang berbunyi, “Fadzalikalladzi yadu’ul yatim” yang artinya “maka itulah (seseorang) yang menghardik anak-anak yatim.”

Perlu diketahui bahwa di dalam Islam, anak-anak yatim memiliki posisi yang khusus. Mereka memiliki hak untuk disejahterahkan oleh orang-orang yang berkemampuan. Namun seringkali orang-orang yang berkemampuan tersebut lalai, sehingga ia melupakan kewajibannya untuk memenuhi hak anal-anak yatim terrsebut. Hal ini menurut Ar-Razi merupakan sebuah kezaliman yang besar. Terlebih ia mengambil kisah bahwa di zaman Nabi, terdapat orang-orang yang memanggil anak yatim untuk dipekerjakan. Namun bukannya memperhatikan atau membina, mereka malah mengeksploitasi anak yatim tersebut.

Kemudian dilanjutkan pada ayat ketiga yang berbunyi, “walaa yahudhu a’la tha’amil miskin” yang artinya, “Dan (seseorang tersebut) juga tidak memperhatikan kelebihan makanannya atas orang-orang miskin” juga merupakan bentuk keheranan Allah atas ketidakpedulian seseorang terhadap orang-orang miskin di sekitarnya. Mengutip perilaku mulia Nabi Muhammad, Ar-Razi menegaskan bahwa di dalam kelebihan makanan yang kita miliki tentu kelebihan tersebut merupakan hak bagi orang-orang miskin yang kelaparan.

Baca Juga:  MENYEGARKAN KEMBALI KHAZANAH INTELEKTUAL ISLAM

Dari penjelasan tersebut, bila seseorang tidak memperhatikan keadaan sekitarnya bahkan cenderung tidak peduli, menurut Ar-Razi hal tersebut menandakan kotornya hati dan jiwa seseorang tersebut. Ar-Razi melanjutkan ketidakpedulian tersebut juga bisa terjadi jika seseorang  merasa bahwa tidak ada pahala atau kebaikan jika ia berbagi terhadap sesamanya. Oleh karena itu, kepercayaan tersebut dapat mengantarkan seseroang pada ketidakyakinan yang berbahaya, yakni tidak percayaannya pada akhir. Hal inilah yang menurut Ar-Razi dapat mengantarkan seseorang kepada kekafiran.

Merefleksikan penjelasan Ar-Razi, kita perlu merenung sejenak. Sejauh manakan kepedulian kita terhadap sesama? Bukankah dalam dunia yang sudah maju ini saja kita masih sering menemukan para pengemis miskin dan anak-anak yatim yang terlantar? Apakah kita masih mengaku sebagai umat Islam yang beriman? Atas dasar apa kita mengakui kesalehan individual kita sendiri, kalau pada praktiknya kita sering melalaikan perintah Allah untuk peduli dengan sekitar?

Oleh karena itu, marilah kita menciptakan kepekaan untuk berbagi terhadap sesama. Dalam konteks kemodernan ini, memenuhi hak-hak anak yatim dapat dilakukan dengan memberikan mereka hak untuk belajar, tempat tinggal, apapun itu demi kesejehteraannya agar ia sukses dan tidak terlantar lagi. Begitu juga kalau kita seorang saudagar yang kaya, kiranya kita perlu untuk merangkul saudara kita yang miskin dengan mengarahkannya agar mendapat pekerjaan. Dengan itu harapannya ia dapat terlepas dari kemiskinan yang mengikat dirinya. Ini semua tentang melaksanakan visi besar Islam, yaitu Rahmatan lil a’lamin. Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber Bacaan

Fakhruddin Ar-Razi. Tafsir Al-Fakhr Ar-Razi. Dar al-Fikr, 1981.

0 Shares:
You May Also Like