Menguak Alam Imajinal

Haidar Bagir

Dewan Pembina Nuralwala

Dalam khazanah spiritualitas Islam (sufisme, ‘irfan, isyraqiyah, atau hikmah), biasanya diterima adanya tiga tingkat pemikiran manusia. Tingkat rasional, logis, itulah yang pertama. Adapun yang kedua adalah yang bersifat spiritual, rohaniah. Yang ini terkait dengan perasaan-perasaan atau pengalaman-pengalaman keagamaan. Dan, di antara keduanya ada imajinasi.

Yang bersifat rasional-logis biasanya disampaikan lewat bahasa yang mengandalkan pada tata bahasa (grammar) yang teratur dan urut-urutan logis. Yang spiritual, kata sebagian orang—termasuk Al-Ghazali, seorang sufi besar dalam sejarah Islam—tak bisa diungkapkan secara rasional. Tetapi, beberapa sufi tertentu mencoba mengungkapkannya. Termasuk di dalamnya yang amat terkenal dan produktif dalam mengungkapkan perasaan-perasaan keagamaannya adalah Ibn ’Arabi.

Sekelompok filosof—mereka biasa disebut sebagai para iluminis (isyraqi) dan ahli hikmah, dengan Suhrawardi dan Mulla Shadra sebagai tokoh-tokohnya—justru percaya bahwa perasaan-perasaan keagamaan sebagai sumber kebenaran bukan hanya bisa, melainkan harus diungkapkan dengan bahasa-bahasa rasional yang logis itu, yakni agar perasaan-perasaan yang telah melewati—tepatnya dilewatkan kepada—rasio dan logika itu bisa dikontrol: apakah ia benar-benar berdasar pada realitas, ataukah sekadar khayalan yang tidak benar, tidak obyektif, bahkan mungkin sesat. Dengan diungkapkan secara rasional dan logis, perasaan-perasaan itu bisa diverifikasi. Mengingat, pertama, verifikasi hanya bisa dilakukan—selain berdasar prinsip korespondensi (eksperimental)—dengan berdasar prinsip koherensi (rasional-logis).

Kedua, sebuah pemikiran, yang diperoleh pada tingkatan apa pun, tak boleh bertentangan dengan perolehan lewat tingkatan-tingkatan pemikiran yang lainnya, baik yang bersifat imajinatif maupun rasional-logis. Ketiga, dengan memverifikasinya secara rasional-logis, maka sebuah hasil pemikiran telah dilempar ke “pasar bebas” dan dengan demikian bisa didiskusikan, diperdebatkan, dan disepakati nilainya.

Kembali kepada pemikiran imajinatif, wadah bagi realitas-realitas jenis ini disebut sebagai alam imitasi (’alam al-mitsal), tempat bagi simbol dan tipifikasi. Ia disebut juga alam barzakh-biasa diterjemahkan sebagai alam imajinal untuk membedakannya dari alam imajiner yang sudah telanjur berkonotasi negatif. Ya, alam barzakh. Suatu alam di antara dua alam: alam rohani dan alam dunia. Dia menyatakan alam kubur, alam imajinal, dan alam mimpi. Menurut pemikiran seperti ini, sesungguhnya ketiga-tiga alam itu menunjukkan realitas yang sama.

Baca Juga:  Islam Agama Cinta

Secara agak filosofis, inilah deskripsi ketiga tingkatan itu: Alam Dunia bersifat wadak (memiliki dimensi ruang-waktu) dan memiliki sifat keterbagian secara aritmatis. Dengan demikian, segala entitas di alam ini bisa disifati sebagai memiliki kebergandaan, 1, 2, 3, dan seterusnya. Pemikiran rasional-logis terkait dengan alam ini, alam barzakh, meskipun masih memiliki sifat keterbagian-aritmatis dan untuk operasinya juga masih membutuhkan wadak dari alam dunia, ia sendiri sudah tak bersifat wadak. Selain itu, alam perantara ini belum sampai ke alam roh, tetapi sudah meninggalkan alam dunia empiris-rasional. Seperti diungkapkan filosof eksistensialis Perancis yang ahli aliran wujudiyah dan iluminisme dalam Islam, Henry Corbin, alam barzakh atau alam imitasi ini adalah alam wadak yang terspiritualisasikan, atau bisa juga ia dikatakan alam roh (spirit) yang terwadakkan. Adapun alam rohani tak berwadak, tak terbagi-bagi (simple atau basith).

Karena sifatnya yang sudah tak lagi mewadak, maka bukan saja kategori rasional-logis sudah tak sepenuhnya berlaku, gambaran-gambaran yang dipakainya pun tak harus sama dan sebanding dengan citra-citra (bendawi) alam dunia. Inilah yang menyebabkannya disebut khayalan. Metafor-metafor pun menjadi dominan di sini. Maka, jadilah ekspresi pemikiran imajinatif—sebagaimana tertuang dalam seni, termasuk sastra—tampak tak beraturan, tak runtut, dan menabrak kategori-kategori ruang dan waktu yang lazim dalam pemikiran rasional.

Orang-orang yang daya imajinasinya kuat, seperti para seniman (termasuk para pemikir tertentu, para spiritualis) bisa mengoperasikan daya khayalnya dalam keadaan jaga. Sedangkan yang daya imajinasinya tak terlalu kuat, mengalami dunia barzakh ini hanya ketika bermimpi—yang bukan sekadar bunga tidur, atau perasaan tertekan, atau sekadar luapan pengalaman dunia nyata—atau nanti di alam kubur. (Ibn ’Arabi, seorang hakim-teosof, kombinasi filosof dan sufi—menyatakan, kehidupan kita di alam kubur nanti adalah seperti di alam mimpi. Disiksa kubur adalah sama dengan mendapat mimpi buruk, nightmare. Dan sebaliknya.)

Baca Juga:  Tasawuf dan Kemerdekaan

(Nuralwala/DA)

0 Shares:
You May Also Like
Read More

Kematian

Oleh: Haidar Bagir Pengasuh Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf  Sebelumnya, kita sudah bicarakan tentang pentingnya kesehatan, pentingnya…