Al-Qur’an sebagai Sumber Pengetahuan (Bagian 1)

Dahulu K.H. Muhammad Syamsul Arifin pernah menyampaikan sebuah maqâla (perkataan) indah sewaktu mengajar Tafsîr al-Jalâlain (karya Imam Jalâluddîn al-Maḥallî dan Imam Jalâluddîn as-Suyûṭî) di LPI Darul Ulum Pondok Pesantren Banyuanyar, yaitu: “khuż min al-Qur’ân mâ syi’ta li mâ syi’ta” (ambillah dari Al-Qur’an sesukamu untuk keperluan sesukamu). Maqâla ini kemungkinan besar dikutip dari Sayyid Muḥammad ‘Alawî al-Mâlikî. Sebab, beberapa tahun kemudian penulis menemukan maqâla tersebut dalam kitab Abwâb al-Faraj karya Sayyid Muḥammad ‘Alawî al-Mâlikî dengan redaksi yang sama (2007: 74).

Maqâla tersebut secara jelas menunjukkan betapa pentingnya Al-Qur’an, baik sebagai pedoman dan pegangan hidup, sumber pengetahuan, laku spiritual, penenang hati dan pikiran, maupun keperluan-keperluan lainnya. Pendek kata, Al-Qur’an bisa digunakan untuk segala keperluan, baik di dunia maupun di akhirat. Menurut Syekh Yûsuf al-Qaraḍâwî, Al-Qur’an diturunkan ke muka bumi agar bisa dibaca, didengarkan, dipikirkan kandungan-kandungannya, dan dijadikan penenang kalbu. Oleh karena itu, tidak heran jika Ensiklopedia Britania mencatat bahwa Al-Qur’an merupakan kitab suci yang paling banyak dibaca di muka bumi ini (Kaifa Nata‘âmal ma‘a al-Qur’ân al-‘Aîm?, 1999: 155). Hebatnya, menurut Ḥujjatul Islâm Imam al-Ghazâlî, Al-Qur’an sama sekali tidak membuat para pembacanya jemu meski dibaca berulang kali (Iyâ’ Ulûm ad-Dîn, 2005: 322).

Al-Qur’an sendiri terdiri dari 30 juz dan 114 surat. Sayyidina Ibnu ‘Abbas ra. menyebutkan bahwa jumlah ayat Al-Qur’an adalah 6.616, jumlah kalimatnya adalah 77.934, dan jumlah hurufnya adalah 333.671 (Sayyid Muḥammad ‘Alawî al-Mâlikî, Jalâ’ al-Afhâm Syar ‘Aqîdah al-‘Awâm, 2004: 66). Rasulullah saw. menyebutkan bahwa Al-Qur’an memiliki makna ahir, bâîn, addun, dan mala‘un (Iyâ’ Ulûm ad-Dîn, hlm. 341). Menurut Imam Nawawî al-Jâwî, ahir adalah makna yang tampak secara lahir; în adalah makna batin atau rahasia yang bisa dipahami oleh orang-orang ahli hakikat; addun adalah makna yang berkaitan dengan hukum halal-haram; dan mala‘un adalah makna yang berkaitan dengan janji dan acaman Allah di akhirat (Nûr aalâm, hlm. 22).

Baca Juga:  Nuralwala Luncurkan Program Ceruk Kita Ruang Asah Asih Pengetahuan

Oleh karena itu, Sayyidina Ibnu Mas‘ud ra. secara tegas menekankan setiap Muslim yang ingin mendapatkan pengetahuan (ilmu) agar mendalami Al-Qur’an. Sebab, Al-Qur’an mengandung pengetahuan umat terdahulu dan umat akhir zaman (Iyâ’ Ulûm ad-Dîn, hlm. 323). Hal senada juga disampaikan oleh Imam ‘Ali bin Abi Thalib as. Menurutnya, Al-Qur’an mengabarkan tentang orang-orang terdahulu dan masa depan yang akan terjadi (Tanyalah Aku Sebelum Kau Kehilangan Aku, 2009: 53-54).

Beberapa ulama menyebutkan bahwa Al-Qur’an memuat 277.000 (dua ratus tujuh puluh tujuh ribu) pengetahuan (ilmu). Sebab, setiap kalimat memiliki satu ilmu, yang kemudian dikalikan empat. Hal ini karena setiap kalimat Al-Qur’an mengandung empat makna, yaitu ahir, bâîn, addun, dan mala‘un (Iyâ’ Ulûm ad-Dîn, hlm. 342). Para ulama yang lain berpendapat bahwa ilmu Al-Qur’an berjumlah 77.450 (tujuh puluh tujuh ribu empat ratus lima puluh) berdasarkan jumlah kalimat Al-Qur’an yang dikalikan empat. Sebab, setiap kalimat Al-Qur’an mengandung empat makna, yaitu ahir, bâîn, addun, dan mala‘un (Nûr aalâm, hlm. 22).

Menurut para ulama, pihak yang mengetahui ilmu Al-Qur’an secara keseluruhan adalah Allah, dan kemudian Rasulullah saw. Namun, ada beberapa ilmu Al-Qur’an yang hanya diketahui Allah, dan tidak diketahui oleh Rasulullah saw. Selain itu, Allah Menganugerahi ilmu Al-Qur’an yang sangat banyak kepada beberapa pemuka sahabat, seperti Sayyidina Abu Bakar ra. dan Imam ‘Ali as. Pengetahuan mereka ini berbeda antara satu dengan lainnya. Dalam hal ini, Rasulullah saw. bersabda: “Anâ madînah al-‘ilm wa ‘Alî bâbuhâ (Aku adalah kotanya ilmu, dan ‘Ali adalah pintunya)”. Sayyidina Ibnu ‘Abbas ra. menyebutkan bahwa seluruh tafsir Al-Qur’an yang beliau sampaikan kepada masyarakat berasal dari Imam ‘Ali as. (hlm. 21-22).

Baca Juga:  Dari Pikir ke Kafir : Kekeliruan dalam Futuhat

Di sisi lain, menurut Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Buya Hamka), Al-Qur’an tidak hanya mengandung seluruh macam ilmu keislaman (seperti tauhid, fikih, akhlak, tasawuf, sejarah, tafsir, falak dan lainnya), tetapi juga mengandung ilmu alam dengan segala cabangnya. Sebab, banyak ayat Al-Qur’an yang menjelasakan tentang penciptaan dan tubuh manusia, langit dan bumi, tumbuh-tumbuhan, binatang, lautan dengan gelombangnya, kapal dengan pelayarannya, angin dan badai, awan dan hujan, bintang kemintang, matahari dan rembulan, angkasa, atom, dan lainnya (Tafsir al-Azhar, Jilid 1: 4-5).

Oleh karena itu, Buya Hamka menekankan para mufasir tidak hanya menguasai ilmu-ilmu keislaman (seperti bahasa Arab dengan segala peralatannya, asbabun nuzul, nasikh-mansukh, hadis, fikih, dan lainnya) dalam menafsirkan Al-Qur’an, tetapi juga harus mengerti ilmu-ilmu alam (hlm. 3-5 & 27).

Menurut Imam Ja‘far Ṣâdiq, Allah menjadikan Al-Qur’an untuk semua masa dan semua kelompok manusia. Oleh karena itu, ia senantiasa aktual untuk setiap masa dan cocok untuk setiap masyarakat hingga hari Kiamat (Nasir Makarim Syirazi, Inilah Aqidah Syi’ah, 2009: 42-43). Wallâhu A‘lam wa A‘lâ wa Akam.

15 Shares:
You May Also Like
Read More

Menguak Alam Imajinal

Haidar Bagir Dewan Pembina Nuralwala Dalam khazanah spiritualitas Islam (sufisme, ‘irfan, isyraqiyah, atau hikmah), biasanya diterima adanya tiga…