Ali Syariati: Manusia Antara Kesadaran dan Kebebasan (Bagian 1)

Dari masa ke masa manusia selalu berkembang. Perkembangan dari revolusi kognitif menuju revolusi pertanian kemudian revolusi sains (abad 15-17 M). Itu semua yang menjadi cikal bakal kemajuan pada saat ini, yakni revolusi teknologi. Sebagian dari genus Homo pada era revolusi kognitif sampai revolusi pertanian meyakini bahwa manusia ikut ambil bagian dari rencana besar yang dirancang oleh Tuhan atau hukum alam pusat dan manusia tidak dapat mengubahnya.

Homo (keluarga manusia, dalam KBBI) menganggap bahwa dunia ini seperti panggung, dan makhluk di muka bumi ini adalah aktornya yang dikendalikan oleh pemain di balik layar, dan pemain itu adalah Tuhan. Seperti halnya para “Homo Sapiens” yang berhasil melintasi ambang kritis dan akhirnya mampu mendirikan kota-kota yang berisi puluhan ribu penduduk dan imperium-imperium yang memerintah ratusan juta jiwa. Rahasianya terdapat pada kemunculan fiksi yang diyakini banyak orang.

Tatanan khayal yang diyakini ini berlangsung selama bertahun-tahun. Kini,
sedikit demi-sedikit mulai tergeser pada era modern, bahkan era Post-Modern. Era modern merupakan sebuah era sains yang mendasari tingkat suatu kebenaran pada pengumpulan-pengumpulan data empiris, sehingga bisa disebut juga dengan revolusi sains. Era ini terjadi pada abad ke-15 dan mengalami puncaknya pada abad ke-17. Masa transformasi ini menjadi titik balik dari kemajuan teknologi yang kita rasakan pada abad ke-21.

Keyakinan yang mengakar selama puluhan ribu tahun silam itu, mencoba digeser dengan suatu pembuktian nyata. Pada saat masa transisi, terjadi pemberontakan terhadap otoritas gereja, dengan bentuk penolakan terhadap dogma-dogma. Manusia saat itu kemudian menggunakan kemampuan mereka untuk melakukan observasi sistematis. Kini, manusia mulai mempercayai hasil yang keluar dari suatu laboratorium dari pada mempercayai dongeng-dongeng para leluhur. Pembebasan dari otoritas gereja mendorong tumbuhnya individualisme, disiplin intelektual, humanisme, moral dan politik.

Baca Juga:  Etika dan Agama Sebagai Basis Bermasyarakat

Humanisme pada abad 21 mulai terkikis di hadapan revolusi teknologi. Jiwa dari
humanisme terletak pada individu manusia, kebebasan memilih dan subjektifitas manusia sebagai pusat kehidupan di dunia, namun hal itu terbentur dengan teknologi. Kehendak manusia kini disandarkan kepada kecerdasan buatan “google”. Belok ke kiri atau ke kanan diserahkan kepada google. Alih-alih, manusia hilang dalam arus deras data yang saling bertumpukan.

Manusia yang menurut pandangan humanisme Ali Syariati adalah sebagai pusat dari kehidupan sekaligus menjadi wakil Tuhan yang ada di bumi karena memiliki sifat dan unsur terpenting dari Tuhan yakni ruhnya (Ali Syariati, Manusia dan Islam Sebuah Kajian Sosiologi. Terj Ashar R W, 94). Akan tetapi, manusia kini hanya menjadi sebuah komponen mungil dari sistem. Bagaimana mau mewujudkan tujuan untuk memaksimalkan perkembangan manusia jika esensi dari manusia yakni kebebasan dan kesadaranya terbelenggu. Kemajuan teknologi yang mulai mengambil alih ranah vital manusia yakni kesadaran dan kebebasan, menjadi penting untuk membahas kembali manusia pada abad 21 ini. Ali Syariati merupakan salah satu tokoh dari Iran yang memiliki perspektif terkait manusia dengan menggunakan metode-metode dari barat, akan tetapi masih kental dengan dogma-dogma Islam (Sabara, “Pemikiran Teologi Pembebasan Ali Syariati”, dalam Journal Al-Fikr Vol. 20, No. 2, September 2016, 215).

Menurut Ali Syariati, kisah tentang penciptaan Adam dalam Al-Qur’an adalah ungkapan humanisme yang mendalam dan maju. Adam mewakili seluruh spesies manusia, esensi umat manusia, manusia dalam pengertian filosofis bukan dalam pengertian biologis. Ketika Al-Qur’an berbicara tentang manusia dengan pengertian biologis seperti sperma, tetesan darah, janin itu berarti Al-Qur’an menggunakan bahasa ilmu-ilmu alam. Namun, ketika sampai pada penciptaan Adam, bahasa Al-Qur’an adalah metaforis dan filosofis serta penuh makna dan symbol (Ali Syariati, Manusia dan Islam Sebuah Kajian Sosiologi, 89).

Baca Juga:  Muhammad Iqbal Bicara Mengenai Kesetaraan

Penciptaan manusia menurut Ali Syariati terdiri dari dua formula yaitu, roh Tuhan dan tanah liat atau lempung berbau. Tanah liat bermakna kerendahan, stagnasi dan kepasifan. Sedangkan roh Tuhan menunjukan makna gerakan tidak ada akhir menuju kesempurnaan dan kemuliaan tak terhingga. Manusia sebagai wakil Tuhan diciptakan dari bahan yang terendah (tanah liat), akan tetapi Allah menghembuskan ke dalamnya roh-Nya. Pada akhirnya, kedua unsur ini saling tarik menarik sehingga manusia harus menentukan pilihanya sendiri. Oleh karena itu, manusia merupakan makhluk yang memiliki kehendak bebas untuk menentukan nasibnya sendiri. Apakah ia akan terperosok ke dalam endapan tanah liat ataukah ia akan meningkat ke arah kutub yang mulia.

Setelah menyelesaikan kejadian manusia, Allah menjadi guru pertama manusia dan pelajaran pertamanya adalah pengenalan nama-nama. Hal itu mengganggu para Malaikat yang kemudian memprotes, “Kami diciptakan dari api tanpa asap, sedangkan manusia diciptakan dari tanah liat, kenapa engkau melebihkanya dari kami?” Allah menjawab, “Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui, bersujudlah pada makhluk-Ku yang mempunyai dua dimensi ini”. Kejadian ini merupakan arti sebenarnya dari humanisme. Islam mengangkat derajat manusia di atas para malaikat. Keunggulan ini bukan secara rasial akan tetapi dari intelektual manusia yang dibuktikan lebih tinggi dari malaikat (Ali Syariati, Tugas Cendekiawan Muslim, 9).

Maka dari itu, manusia harus melakukan evolusi, dari kerendahan menuju kemuliaan. Karena manusia merupakan manifestasi dari sifat-sifat Tuhan, dan mampu berbuat mirip seperti Tuhan dan tidak mampu menjadi Tuhan. Manusia dapat bertindak melawan ketentuan-ketentuan makhluk fisiologis. Jadi, kedekatan manusia dengan Tuhan berasal dari keutamaan yang sama yakni kemauan bebas. Kemudian manusia harus mampu evolusi dari basyar ke insan. Dalam proses menuju tahap yang lebih sempurna, menurut Ali Syariati, ada empat penjara yang merintangi yaitu sifat dasar atau belenggu alam, sejarah, masyarakat dan ego manusia sendiri. Manusia harus mampu membebaskan dari cengkeraman deterministik itu untuk mengubah kedudukanya (M Deden Ridwan (ed), Melawan Hegemoni Barat Ali Syariati dalam Sorotan Cendekiawan Indonesia, 90).

Baca Juga:  Makanan Asli Manusia Bukan Makanan Hewan

Penjara yang menjadi penghalang merupakan konsep yang ditelurkan pada abad 20. Secara subtansi, menurut Michel Foucault, penjara merupakan sebuah institusi yang memiliki tugas untuk mengawasi dan mengurung manusia. Kini, teknologi yang seharusnya menjadi alat bantu bagi manusia, malah justru menjadi penjara bagi manusia. Menyumbat aliran kesadaran dengan tumpukan data. Membelenggu manusia dengan derasnya data algoritma. Karena itu, perlu mengkaji “filsafat manusia Ali Syariati” agar manusia tetap sadar dan bebas serta mampu menjadi manusia yang unggul (bersambung).

2 Shares:
You May Also Like
Read More

Sakit sebagai Karunia

Oleh: Haidar Bagir Pengasuh Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf Berbicara soal kesehatan, seseorang baru merasakan nilainya sehat…