Belajar Memaknai Alquran melalui Peraihan Barakah Muhammadiyah

Oleh: Haidar Bagir

Pengasuh Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf

Alquran itu pertama turun dari Allah (Lawh al-Mahduzh) kepada Nabi saw.  Pertama, dalam keadaan persis sebagaimana aslinya (secara global/ijmal/menyeluruh, satu kesatuan), lalu belakangan secara tafshil (terinci) dalam bentuk ayat-ayat seperti dalam mushaf yang kita baca sekarang, yang mulai dari al-Fatihah dan berakhir pada an-Nas. Setelah itu diturunkan kepada para imam/awliya’. Ke Nabi saw. langsung atau via aimmah/awliya’ itulah kita harus belajar memaknai Alquran.

Alquran pada gilirannya, memang tak pernah berhenti turun di hati para awliya’ (pewaris Nabi) itu. Pemahaman/ilham Alquran ini oleh Ibn al-‘Arabi diajarkan agar bisa langsung kita peroleh dari Nabi saw—bukan dari pendengar (as-sami’) secara 2nd hand—baik secara langsung ke Nabi saw. atau melalui para awliya’. Yakni, agar kita mendapatkan kemampuan memaknai Alquran dengan autentik, dan tak kunjung berhenti mendapatkan gerojokan pemaknaan baru Alquran yang memang tak pernah habis.

Bagaimana cara untuk bisa menatap ilham-ilham tersebut? Saya ingat pada gagasan tentang Barakah (Muhammadiyah) yang amat sentral dalam tasawuf.

Barakah (Muhammadiyah) adalah mengalirnya secara terus-menerus ilham yang awalnya tentu dari Allah (kepada Nabi Muhammad), dan dari beliau kepada para imam atau awliya’. Dengan cara-cara tertentu, kita bisa men-tap (nyetrum) agar ikut terciprati dengan ilham tersebut, baik secara langsung kepada Nabi, maupun lewat awliya’-nya yang sudah duluan dapat Barakah Muhammadiyah. Nah, kita bisa menangguk ilham itu lewat berbagai cara (selain dengan lewat hadis dan sunnah saw:, secara eksoteris/lahiriah)

Pertama, berusaha meneladani/meniru Nabi saw. dalam kehidupan sehari-hari kita dengan sebaik-baiknya. Ibn al-‘Arabi menambahkan peniruan Nabi ini kepada empat tahapan standar mujahadah, di samping zuhud (konsumsi seperlunya), sahar (tidur seperlunya), shamt (ngomong seperlunya), dan ‘uzlah (bergaul seperlunya). Dengan cara ini bisa saja kita dapat pencerahan lewat mimpi atau jaga dari beliau saw. (Mestinya banyak bershalawat dengan ikhlas juga ikut membantu)

Baca Juga:  Kenapa Pengetahuan tentang Tuhan Disebut Iman (Kepercayaan)?

Kedua, ziarah ke makam, Rasul atau awliya’

Ketiga, dalam hal ada wali hidup, nyantol ke rantai (silsilah awliya’ dalam suatu tarikat) tasawuf sehingga nyambung sampai ke Nabi saw. Bisa lewat bay’ah kepada seorang wali dalam silsilah tersebut dan/atau mendapatkan ‘ijazah atau khirqah (pakaian) dari mereka.

Catatan:

  1. Barakah ini bisa mengalir dari benda-benda/tempat-tempat suci tertentu.
  2. Ilham Al-Futuhat diperoleh Ibn al-‘Arabi ketika thawaf di Ka’bah. Sedangkan Fushush diterima langsung dari Nabi saw. (lewat mimpi). Al-Futuhat yang diterima Ibn al-‘Arabi dari Allah, tetap saja melibatkan apa yang beliau sebut sebagai Fata (anak muda/ksatria spiritual) yang beliau lihat di Hajar Aswad. Fata inilah yang menjadi perantaraan turunnya ilham itu. Sedah tentu ini pada puncaknya adalah manifestasi Nabi juga.

0 Shares:
You May Also Like