Menguak Daya Imajinasi

Haidar Bagir

Dewan Pembina Nuralwala: : Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf

Apa itu daya imajinasi? Dalam khazanah filsafat Islam-peripatetik, yang mengandalkan prosedur rasional-logis-daya imajinasi dipahami sebagai salah satu fakultas dalam jiwa manusia yang memiliki akses kepada alam imajinal. Ia adalah bagian dari indera dalam manusia, yang berbeda dengan pandangan spiritualitas Islam, ditempatkan di bawah pemikiran rasional.

Bukan hanya dalam hal hierarki, para filosof Muslim percaya bahwa daya imajinasi harus ditempatkan di bawah kendali daya rasional. Jika dilepaskan dari daya rasional, daya imajinasi berisiko kehilangan kendali dan sekaligus kehilangan akses kepada realitas otentik yang ada di alam imajinal.

Ya, karena dalam Islam, tak terkecuali dalam filsafat Islam, puisi—atau karya sastra pada umumnya—yang banyak mengandalkan daya ini, memiliki misi etis. Apalagi karena sifatnya yang imajinatif, puisi—atau karya sastra dan seni pada umumnya—memiliki kemampuan menggerakkan lebih banyak orang ketimbang kebenaran rasional yang umumnya memiliki appeal hanya kepada lebih sedikit orang. Maka, sifat etisnya harus bisa dijamin. Jika tidak, risikonya untuk menimbulkan kerugian menjadi lebih besar.

Dalam filsafat Islam, daya rasional mencakup dua ranah, yang berhubungan satu sama lain. Ranah teoretis dan ranah etis. Ranah teoretis melihat ke atas untuk mencerap natur-natur, kuiditas-kuiditas (“keapaan-keapaan”), atau esensi-esensi segala sesuatu, yakni aspek-aspek universal alam semesta, yang simpel dan kekal. Ranah daya rasional praktis, sebaliknya, melihat ke bawah demi memampukan pemiliknya untuk mengelola urusan-urusan duniawi secara etis.

Betapapun, daya rasional praktis bekerja berdasarkan gagasan-gagasan dan konsep-konsep yang dicerap oleh daya rasional teoretis, apakah itu gagasan tentang keadilan, keseimbangan, moderasi, kebaikan, kebenaran, dan sebagainya. Pada gilirannya, daya rasional teoretis, yang juga beroperasi berdasar pengalaman dan kebiasaan, bekerja berdasar daya rasional etis. Ya, ilham puitik—menurut para filosof ini—mesti dikendalikan oleh daya rasio, tetapi pada saat yang sama ia juga mesti dipandu oleh misi etis.

Baca Juga:  Antara Mujahadah dan Riyadhah

Meskipun demikian, hal ini tak berarti bahwa sifat sastrawi atau puitik dari sebuah karya boleh diperkosa karena misi etis ini. Seperti dikatakan oleh Ibn Sina dan Ibn Rusyd, misi etis ini harus dipandang sebagai lebih merupakan akibat ketimbang unsur esensialnya.

Pernyataan terakhir ini kiranya mendekatkan posisi filsafat Islam dengan sufisme. Mengingat bahwa sufisme justru cenderung melihat bahasa (yang terstruktur secara logis) cenderung lumpuh ketika berhadapan dengan kedahsyatan-kedahsyatan pengalaman keagamaan.

Seperti akan kita dapati dalam pembahasan setelah ini (baca: Sastra dan Sufisme), umumnya kaum Sufi percaya bahwa ilham-ilham mistikal mereka—demikian pula puisi-puisi mereka, yang sesungguhnya tak lebih dari wadah bagi pengalaman-pengalaman mistikal itu—berasal dari dunia yang lebih tinggi, alam rohani.

Maka, membiarkan pemikiran rasional-logis menghakimi pemikiran rohaniah yang lebih tinggi tingkatannya adalah sesuatu yang tak bisa diterima. Adalah isyraqiyah dan hikmah yang, seperti telah disinggung di atas, kemudian menyintesiskannya dengan memberikan wewenang kepada daya rasional-logis untuk memverikasi pengalaman-pengalaman keagamaan ini.

Kenyataannya, seniman bekerja berdasarkan pasokan bahan dari dunia imajinasi ini. Nah, dipercayai bahwa ilham yang dibiarkan begitu saja tanpa di-“kontrol” oleh pemikiran rasional—atau perasaan-perasaan spiritual—inilah yang dapat mengambil bentuk ungkapan yang aneh-aneh dan sering tidak nyambung dengan pemikiran rasional.

Hampir-hampir seperti meracau alias ngomyang-bisa mengandung realitas (kebenaran), bisa juga benar-benar ngomyang, dalam arti merupakan penyelewengan dalam mekanisme beroperasinya pemikiran. (Dalam khazanah pemikiran Islam, dipercayai bahwa sumber ilham yang benar adalah dari malaikat, sedangkan yang tak otentik—secara populer disebut waham—adalah “setan” atau suatu dunia khayalan yang terbentuk karena penyelewengan dalam operasi berpikir/berkhayal. Sebab, seperti disebutkan oleh Al-Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rusyd, adalah terutama dalam keadaan tidur imajinasi terbebaskan dari pembatasan-pembatasan oleh daya rasional.)

Baca Juga:  Imam al-Qusyairi: Metodologi Sufi dalam Menentukan Bulan Ramadhan

Dalam keadaan jaga, penyakit, rasa takut, kegilaan, dan sebagainya juga dapat membebaskan daya khayal dari pembatasan-pembatasan oleh daya rasional. Sebelum ada yang terkejut, perlu saya sampaikan bahwa agama mengajarkan: siapa saja di antara kita, kapan saja—dan itu berarti bukan hanya penyair, dan tak mesti berhubungan dengan persoalan pencarian kebenaran seperti ini—selalu berisiko berada dalam pengaruh setan ini.

Bisa jadi juga, ketaklogisan—yang terkadang bisa amat liar dan jauh lebih susah dipahami—adalah karena wadah orang yang menerima ilham itu tak cukup besar untuk menampungnya. Dengan demikian, ilham itu meluap-luap ke sana kemari tanpa terkontrol. Dalam sufisme, yang akan kita bahas lebih jauh setelah ini, hal ini mengambil bentuk syathahat atau ujaran-ujaran ekskatik, yang muncul tiba-tiba dalam keadaan subyeknya mengalami ekstasi atau trance secara spiritual.

Baca artikel selanjutnya “Sastra dan Daya Imajinasi”

(Nuralwala/DA)

0 Shares:
You May Also Like