Membidik Kebahagiaan

Oleh: Bil Hamdi

Mahasiswa STFI Sadra Jakarta

Dalam kajian ilmu logika manusia dikategorikan bahkan didefinisikan sebagai binatang yang berpikir. Manusia memiliki banyak kesamaan dengan binatang dan pada saat yang sama manusia memiliki banyak perbedaan. Kemampuan manusia untuk berpikir logis inilah yang menempatkannya lebih unggul daripada binatang lainnya.

Manusia dengan segenap akal budinya mampu memikirkan berbagai hal dan bahkan menciptakan sesuatu demi kebutuhan atau memudahkan pekerjaannya. Tidak bisa kita pungkiri semua kemajuan dan perkembangan zaman yang sangat pesat ini tak lain adalah karena manusia terus berpikir dan berkreasi. Dengan kemampuannya manusia menemukan pandangan dunia —cara manusia melihat dunia, memahami alam semesta, melalui analisa terhadap manusia, alam dan sejarah—. Pandangan dunia itu yang nantinya akan menjadi ideologi yang tertanam kuat dalam diri seseorang, hingga segala perbuatan yang ia lakukan berdasarkan ideologi tersebut.

Murtadha Mutahari dalam bukunya Manusia Seutuhnya menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk multi-malakuti —manusia memiliki apa yang ada pada hewan berupa kehendak bebas, dorongan nafsu dan juga memiliki apa yang ada pada malaikat berupa kepatuhan, ketaatan dsb—. Inilah yang menyebabkan manusia mampu melampaui derajat malaikat, bahkan sebaliknya manusia bisa lebih hina daripada binatang.

Penjelasan tersebut memancing kita untuk menggali lebih dalam tentang makna kehidupan. Mengapa manusia diciptakan? Apa yang diinginkan Tuhan dengan menciptakan manusia yang punya potensi hewan dan malaikat? Pertanyaan tersebut hendaklah dijawab dengan bijak, sebab jawabannya akan sangat menentukan tujuan hidup seseorang, bagaimana ia memaknai kehidupan dan menjalaninya sangat berpengaruh dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Jika kita merenungi lebih dalam, kita akan menyadari bahwa manusia diciptakan Tuhan lengkap dengan berbagai kecenderungan dan kebutuhan. Sehingga, membuat manusia untuk terus menerus berusaha memenuhi berbagai kebutuhan dan kecenderungannya itu. Salah satu kecenderungan yang pasti semua manusia miliki adalah kecenderungan ingin bahagia. Bahkan bisa dikatakan bahwa semua cita-cita yang ingin kita capai, semua target yang ingin kita raih, tidak lain adalah karena kita menginginkan kebahagiaan. Kecenderungan ingin bahagia inilah yang akan mengantarkan kita pada tujuan penciptaan kita.

Baca Juga:  Khidir dalam Pandangan Syekh Muhammad Nawawī al-Jāwī

Kita sering merasakan bahwa kebahagiaan itu sering berubah-ubah, ketika kecil misalnya kita merasa bahwa kebahagiaan kita adalah terpenuhinya semua yang kita ingikan seperti mainan yang banyak, teman yang banyak, dan lain-lain. Namun, saat beranjak remaja kita mulai merasa bosan dengan semua itu dan tak lagi menemukan kebahagiaan pada jenis mainan tersebut, sehingga kita mencari kebahagiaan baru. Kita mulai berpikir, mungkin kebahagiaan akan kita gapai jika memiliki pacar, mendapatkan rangking di kelas, atau mungkin jika jadi orang yang terkuat di sekolah. Namun seiring waktu, kita merasa itu semua tidak cukup membahagiakan. Saat dewasa kita merasa bahwa kebahagiaan itu adalah jika kita mempunyai istri dan anak, namun itu akan berganti lagi, kita membangun rumah, bekerja, mendapat cucu begitulah seterusnya.

Manusia akan terus menerus mencari kebahagiaan. Kebahagiaan yang mutlak itu takkan pernah manusia temukan pada hal yang sifatnya terbatas. Kebahagiaan sendiri merupakan sesuatu yang tidak terbatas. Ketika seseorang mencari kebahagiaan kepada sesuatu yang terbatas, maka selamanya manusia takkan menemukan hakikat kebahagiaan. Yang diraih hanyalah kebahagiaan semu dan bersifat sementara. Hal itu sejalan dengan hadis nabi “Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan lembah yang ketiga….” (HR. Bukhari No. 6436)

Manusia jika mencari kebahagiaan pada yang materi, maka yang didapatkan hanyalah rasa tidak puas, sebagaimana yang digambarkan dalam peribahasa, “Ibarat meneguk air laut, semakin diteguk semakin haus.” Artinya manusia yang mengejar materi adalah seumpama orang haus yang meminum air laut, sehingga semakin banyak air yang ia minum, maka semakin bertambah pula dahaganya, sampai ia mati karenanya.” Dalam kasus ini Alquran melukiskan, “Saling memperbanyak (kenikmatan dunia-dunia dan berbangga-bangga tentang anak dan harta) telah melengahkanmu, sampai kamu telah menziarahi (masuk) dalam kubur-kubur (kematian).” (QS. Al-Takatsur 102:8)

Baca Juga:  PERTAMA KALI TERJAGA TENTANG KESATUAN TRANSENDENTAL AGAMA-AGAMA (BAGIAN 3)

Lalu di manakah kita akan menemukan kebahagiaan yang mutlak itu yakni kebahagian yang tak bertepi?  Untuk menjawab kegelisaan itu mari kita renugi kira-kira apa motif atau tujuan kita diciptakan. Misi mulia yang diemban manusia semenjak penciptaannya yaitu untuk kembali (mengenal) kepada Tuhan, karena semua kebutuhan dan kecenderungan itu pada akhirnya akan mengantarkan kita untuk mencari kebahagiaan hakiki yang mutlak, dan itu adalah dzat Tuhan. Dengan pencariannya, pada akhirnya manusia akan menyadari bahwa semua yang materi takkan mampu memuaskan, hanyalah Tuhan tujuan semua manusia, kita diciptakan untuk menyempurna menuju Dia. Hanyalah sesuatu yang tanpa batas yang mampu memberikan yang tak terbatas. “….Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan dikembalikan.” (QS. al-Baqarah 2:156)

Plato  —filsuf terkenal  dari Yunani— sekalipun mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang tidak akan pernah merasa puas pada sesuatu yang terbatas, mengetahui hal ini tentu akan membuat hidup kita lebih bermakna dan terarah, apalagi di era modern seperti sekarang. Betapa banyak kita menyaksikan orang-orang menjadi depresi, stres, bahkan nekat bunuh diri akibat tuntutan zaman yang serba materi, dan kering secara spiritual.

Kiranya spritualitas mampu mampu menjadi solusi dari kegalauan masyarakat di era milenial yang serba materi ini. Pasalnya kekayaan, jabatan, bahkan popularitas terbukti tak mampu lagi menawarkan kebahagiaan bagi manusia. Sehingga bisa kita saksikan pejabat yang korupsi meskipun telah kaya raya, artis yang menggunakan narkoba meskipun popularitas telah didapatkan, dan masih banyak lagi.

Untuk mengakhiri tulisan ini saya ingin sampaikan, zaman boleh berkembang, pemikiran boleh saja terus maju, peradaban boleh saja dibangun semegah-megahnya, namun andai kita mau merenung lebih dalam, kita akan menyadari bahwa solusi kebahagiaan kita tetaplah sama sepanjang masa yaitu kebahagiaan spiritualitas. Dia itulah yang kita sebut Tuhan.

Baca Juga:  KENAPA HARUS BERTASAWUF, KENAPA TAK BERAKHLAK SAJA?

(Nuralwala/DA)

0 Shares:
You May Also Like