Laku Syukur, Memikat Cinta Tuhan Yang Maha Syakur

Oleh: Darmawan

Ketua Program Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf

Term syukur berasal dari kata syakara makna dasarnya ialah pujian atas kebaikan atau menampakkan. Yakni menampakan nikmat Tuhan. Kesadaran ini akan mendorong anggota badan dan hati untuk selalu memuja dan memuji-Nya. Karena apa yang dimiliki itu merupakan berasal dari-Nya, maka  dengan sadar bahwa dirinya tidak memiliki klaim sedikit pun atas keberadaannya. Keberadaannya ialah bergantung pada keberadaan Tuhan. Artinya jika bukan karena kekuasaan dan pemberian-Nya, maka ia tidak akan terwujud.

Sebaliknya, kufur ialah menutup. Yakni menutup nikmat Tuhan. Pada kondisi seperti ini, ia merasa semua yang dimilikinya itu berasal dari usaha dirinya. Ia tertutupi oleh beragam hijab hingga tak sadar, bahwa apa pun yang dimilikinya itu bukan dari dirinya. Jika demikian, orang yang tak bersyukur itu seolah-olah ia setara dengan Tuhan.

Di dalam Al-Qur’an kata syukur dihadapkan dengan kufur, seperti firman-Nya, “Dan (ingatlah), ketika Tuhan Pemelihara kamu memaklumkan: ‘Demi (kekuasaan-Ku)! Jika kamu bersyukur, pasti Aku tambah (nikmat-nikmat-Ku) kepada kamu dan tentu jika kamu mengingkari/kufur (nikmat-nikmat-Ku), maka sesunggauhnya siksa-Ku benar-benar keras’” (QS. Ibrahim [14]:7).   

Lalu, bagaimana cara terbaik untuk memuji-Nya (mensyukuri-Nya), hingga kita mereguk telaga cinta-Nya. Apakah cukup dengan mengucapkan alhamdulillah, sebagaimana beristigfar dengan mengucap astaghfirullah dan ketika melihat hal yang menakjubkan kemudian kita berucap subhanallah?

Bersyukur itu memiliki tiga tingkatan; pertama, syukur dengan lisan yaitu melafalkan alhamdulillah atas semua nikmat dan karuniah-Nya. Kedua, syukur dengan iman yaitu orang tersebut mempunyai kesadaran puncak bahwa dirinya adalah seorang hamba yang keberadaannya dan apa pun yang dimilikinya itu disebabkan oleh Yang Maha Ada. Inilah syukur yang berimplikasi pada iman. Ketiga, syukur dengan amal yaitu menggunakan fasilitas yang Tuhan berikan untuk memperjuangkan dan mengamalkan beragam kebajikan, hingga berimplikasi pada kemaslahatan umat. Inilah syukur yang akan melahirkan akhlak-akhlak mulia (ihsan).

Baca Juga:  Etika dan Agama Sebagai Basis Bermasyarakat

Sebagai contoh, ketika ada seorang yang memberikan baju dengan sepenuh hati kepada kita. Kita tidak cukup hanya mengucapkan terima kasih kepadanya. Jauh lebih sempurna, apabila kita pakai baju tersebut sesuai dengan tujuan sang pemberi. Tentunya, sang pemberi berkeinginan agar kita memakainya dengan baik dan benar, artinya memakainya di anggota badan, bukan dipakai untuk lap kaca atau lap lantai. Jika ini dilakukan, tampaklah baju tersebut sesuai dengan keinginan sang pemberi. Bahkan semakin bagus lagi jika baju tersebut digunakan saat kita melakukan perbuatan-perbuatan baik nan mulya. Itulah hakikat ucapan terima kasih atau syukur yang sebenarnya.

Allah itu mempunyai sifat Maha Indah, Maha Baik dan Maha Sempurna, maka tidak ada seluruh ciptaan-Nya yang sia-sia (baca QS. Ali Imran [3]:191). Oleh karenanya, ketika Allah memberikan mata, maka wujud syukur terhadap pemberian itu ialah menggunakan mata sesuai fungsinya yaitu untuk melihat hal-hal yang baik, bukan melihat yang buruk. Allah memberikan kaki, maka gunakan kaki tersebut untuk berjalan menempu kebaikan. Allah memberikan kekuasaan jabatan politik, maka gunakan semaksimal mungkin untuk memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara, sehingga berefek pada kemaslahatan, menjungjung tinggi nilai-nilai keadilan, kemerataan sosial dan ekonomi demi tertciptanya sebuah bangsa yang adil dan beradab, sehingga tercurahkan semua limbahan rahmat-Nya. Begitu seterusnya.

Jika kita telah benar-benar memfungsikan semua pemberian dari Allah dengan baik dan benar (bersyukur), maka saat itu juga kita sedang meneladani sifat Allah sebagai Asy-Syakur (Allah Yang Maha Bersyukur). Laku syukur akan menghantarkan kita tuk meneguk limpahan cinta-Nya yang tak bertepi sebagaimana sabda Nabi, “Allah itu Maha Bersyukur dan mencintai orang-orang yang bersyukur”. Al-Qur’an menyebutkan “…Dan Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (QS. Ali Imran [3]: 144).

Baca Juga:  Pengantar Mendalami Mukalaf


Nuralwala.id Portal ini, dan berbagai akun media sosial Nuralwala lainnya, berada di bawah naungan Yayasan Nuralwala--sebuah yayasan Islam yang sepenuhnya bersifat non-profit. Untuk kelangsungan program-programnya, saat ini Nuralwala mengandalkan donasi perorangan yang amat terbatas. Jika Anda ingin berkontribusi dalam kelangsungan dan pengembangan kegiatan yayasan ini, Nuralwala menerima infak terbaik Anda dengan donasi ke:


BANK BRI SYARIAH : 1013807759 An. Azam Bahtiar