Allah Yang Lebih Dulu Mencinta

Azam Bahtiar

Direktur Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf

Segalanya soal cinta belaka. Tentu, Anda, dan juga saya, bertanya-tanya: Cinta yang mana dan kepada siapa? Jelas, cinta setulus mungkin, kepada Allah. Segala cinta yang tertuju dan terpaut kepada isi semesta, hanyalah pendaran cinta kepada-Nya.

Tasawuf mengajarkan itu semua. Menata tapak-tapak yang perlu kita lalui untuk mengharu dalam cinta-Nya. Malah, itulah esensi tasawuf. Syaikh Akbar Ibn al-‘Arabi, mahaguru kaum Sufi, secara lugas menjawab teka-teki Imam Hakim al-Tirmidzi yang ke-153, bahwa tasawuf adalah bersikap selaras-penuh dengan etika Syariat, yang tak lain adalah akhlak-akhlak terpuji.

Juga, dalam Al-Luma’, Abu Nashr al-Thusi menukil jawaban Abul-‘Abbas bin ‘Atha’, saat yang disebut terakhir ini ditanya: Apa persisnya adab atau etika Syariat itu? “Bersikap selaras-penuh dengan yang dinilai baik-baik saja”, jawabnya. Lebih detil? “Engkau bercengkerama dengan Allah berdasar sikap etis, baik dalam kondisi privat maupun dalam keramaian”, jawabnya lagi.

Jika bicara, segala yang indah menumpah

Jika berdiam, segala keindahan merona darinya

Etika Syariat, sebagai jalan yang digariskan oleh-Nya untuk berjumpa dengan-Nya, adalah soal imitasi dan internalisasi belaka. Persisnya, mengimitasi dan menginternalisasi Nama-nama Allah ke dalam diri, yang hanya melalui itu semata kita dapat mengenal-Nya. Menjangkar di seberang Nama-nama Indah-Nya, demi memuasi rasa pengenalan atau ma’rifat kepada-Nya, hanya berujung pada kehampaan. Bukan saja tak terbayang, tapi upaya itu melampaui kodrat manusia, menerjang batas-batas.

Nama-nama Indah-Nya itu, dalam relasinya dengan kita sebagai manusia, mengandung tiga lapis fungsi: ta’alluq, tahaqquq, dan takhalluq. Ta’alluq adalah relasi ontologis berupa kebergantungan kita kepada Nama-nama Indah-Nya secara mutlak,yang masing-masing darinya menunjuk kepada Dzat atau Diri-Terdalam-Nya yang misterius. Tahaqquq adalah pengenalan akan aspek semantik dari Nama-nama Indah itu, sesuai batas-batas terang mana yang berlaku untuk-Nya dan mana yang berlaku untuk kita, tanpa membaurkan secara kabur bidang-antara dalam dua irisan itu. Terakhir, takhalluq, adalah saat ketika Nama-nama Indah itu ter-nisbah-kan kepada diri kita, terinternalisasi ke dalam dan bertransformasi menjadi diri sesuai batas kadar kedirian kita; sebagaimana Nama-nama Indah itu ter-nisbah-kan kepada-Nya dalam kelaikan-Nya.

Baca Juga:  ISLAM MEMPERTIMBANGKAN TEORI EVOLUSI

Demikianlah, bertasawuf adalah menjadikan diri sebagai lokus bagi Nama-nama Indah-Nya. Menjadi ceruk Cinta-Nya.

Tapi, seringkali kita GR, menyana telah berupaya menapak demi meraih-Nya, seolah kita merdeka memilih, menentukan, dan mengawali.

Al-Quran mementahkan anggapan sasar kita itu. Alih-alih, justru kita dipilih, dipanggil untuk mencintai dan menjadi lokus Cinta-Nya. Bukan kita yang memulai. Kita hanyut dalam arus besar kosmik, tertarik ke dalam pusaran Cinta-Nya.

Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya” (QS Al-Ma’idah [5]: 54)

Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah” (QS Al-Taubah [9]: 100)

Kemudian Dia menerima taubat mereka supaya mereka (terus-menerus) bertaubat” (QS Al-Taubah [9]: 118)

Ternyata kita kecele. Pikir kita, kitalah yang memulai mengutarakan cinta, mencari cara-cara yang membuat-Nya rida. Ternyata bukan. Dia-lah yang memulai, kita hanya menyambut. Bahkan, dalam taubat—momen yang paling kerap kita anggap sebagai titik tersentilnya kesadaran kita oleh sebuah alpa dan khilaf—pun, lagi-lagi kita hanya menyambut panggilan-Nya. Lebih dari itu, dalam sumpah-Nya sebagaimana riwayat Imam Bukhari, sejengkal saja kita menuju-Nya, Dia menyambut dengan sehasta;  sehasta dengan sedepa; dan jalan-lembek kita disambut-Nya dengan berlari.

Maka, mari berserah diri, meluluh dan melantah dalam kesadaran primordial dan mengikut saja arus besar kosmik menuju kepada dan menjadi lokus Cinta-Nya. Kembali pulang.

10 Shares:
You May Also Like