MERAIH PAHALA RAMADHAN DI SEPANJANG TAHUN

Di akhir Ramadhan ini, sebagaimana di akhir Ramadhan-Ramadhan sebelumnya, kita selalu berdoa agar Allah ampuni kekurangan-kekurangan ibadah kita di bulan Ramadhan, melipatgandakan yang sedikit di antaranya, dan mengaruniai kita lagi pertemuan dengan bulan Ramadhan di tahun yang akan datang. Tanpa mengurangi makna doa itu, sesungguhnya kita bisa berupaya untuk mendapatkan pahala Ramadhan di bulan-bulan yang lain. Bagaimana caranya?

Selain puasa, keutamaan Ramadhan adalah pada adanya Laylatul Qadar di dalamnya. Laylatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan, yang di dalamnya takdir kita ditetapkan. Tapi, menurut tak sedikit  ulama (termasuk Imam Abu Hanifah, Syaikhul Akbar Ibn ‘Arabi, Imam Sya’rani, dan Imam Abul Hasan Syadzili), Laylatul Qadar bukan hanya terjadi di bulan Ramadhan— meski paling sering terjadi di bulan Ramadhan—melainkan berputar di berbagai bulan di sepanjang tahun. Selain yang “pasti” juga terjadi di pertengahan Syakban, Ibn ‘Arabi menyebut mendapatinya juga di bulan-bulan Rabi’.

Di bulan Ramadhan juga dikatakan terdapat kesempatan terbesar untuk mendapatkan tajalliy (kehadiran) Allah swt. dalam diri kita melalui amal-amal ibadah wajib dan sunnah di dalamnya. Tapi, bulan Rajab juga bulan istimewa dalam hal ini, karena sebagian wali diyakini diangkat oleh Allah menjadi wali di bulan ini, sehingga mereka disebut sebagai Awliya’ Rajabiyin.

Di bulan puasa ada fasilitas iktikaf di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Tapi Nabi saw. juga mengajarkan: “Orang yang paling Allah cintai adalah orang yang paling memberi manfaat kepada sesamanya. Sedangkan amalan yang paling Allah swt. cintai adalah engkau menggembirakan hati seseorang muslim, atau engkau menghilangkan suatu kesukaran dalam hidupnya, atau engkau melunaskan hutangnya, atau engkau hilangkan kelaparannya”.

Baca Juga:  Perjalanan Akademik Sang Hujjatul Islam Imam al-Ghazali

“Sungguh aku berjalan bersama (mendampingi/menolong) seorang saudara di yang berhajat lebih aku cintai daripada aku beriktikaf di masjid-ku (Masjid an-Nabawi) ini selama sebulan penuh” (HR. Ath-Thabrani).

Akhirnya, pernah pula Rasul saw. mengajarkan:

“‘Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya dari shalat dan puasa? Yaitu engkau damaikan orang-orang yang bertengkar…” (HR Bukhari Muslim).

Masih terdapat hadis-hadis lain yang sejalan, yang menyebutkan bahwa menyantuni janda-janda dan fakir miskin, juga mencari ilmu adalah lebih utama ketimbang shalat dan puasa. Tentu saja, kita tidak bisa menyalahkan orang yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah shalat dan puasa sunnah. Tapi hendaknya kita tak boleh lupa, bahwa hadis-hadis itu tetap saja menunjukkan bahwa amal-amal shaleh itu lebih baik dari shalat dan puasa (sunnah). Bukan itu saja, sebagian menyamakannya dengan berjihad di jalan Allah (HR Bukhari-Muslim). Bahkan, dalam hal mencari ilmu, dikatakan bahwa mencari ilmu sesaat dikatakan lebih baik daripada shalat sepanjang malam, sedang melakukannya sehari lebih baik daripada puasa 3 bulan penuh. Hal ini, kalau pun tak menjadikannya sama dengan pahala Ramadhan, menggembirakan kita bahwa kita bisa meraih pahala Ramadhan—atau setidaknya sesuatu yang dekat dengan itu—di bulan-bulan lain di sepanjang tahun, jika kita mau.

Mari tetap berdoa agar kita masih dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan, tapi mari juga kita Ramadhankan semua bulan dengan amal-amal saleh yang ikhlas, yang akan memberi kesempatan kepada kita untuk beribadah Ramadhan sepanjang tahun.

1 Shares:
You May Also Like
Read More

9 Jalan Cinta Haidar Bagir

1. Saat tertekan dalam kesulitan-kesulitan, termasuk oleh kekerasan orang, ingat orang-orang yang mencintai kita, yang mau korbankan apa…