Memperbanyak Berdoa/Zikir/Wirid/Hizb atau Amal Saleh? (2)

Seperti saya janjikan, di bawah ini saya daftar (sebagian saja) ayat Al-Qur’an dan Hadis yang menunjukkan keunggulan amal saleh (shalih) atas bukan hanya berdoa/zikir/wirid/hizb, bahkan juga jika dibanding ibadah mahdhah—khususnya ibadah mahdhah sunnah. Tentu tulisan ini tak hendak menutup mata atas pada ayat Al-Qur’an dan Sunnah/hadis-hadis yang mengutamakan zikir/doa/wirid/hizb atau ibadah mahdhah, melainkan hanya menyegarkan lagi ingatan kita kepada nilai tak kurang penting yang diletakkan Al-Qur’an dan as-Sunnah/hadis atas amal shalih. Mari kita mulai…

“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu adalah orang yang beriman kepada Allah, hari kiamat, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya, orang yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menunaikan janjinya, serta orang-orang yang sabar ketika dalam kemelaratan, penderitaan, dan peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan bertakwa” (QS Al-Baqarah [2]:177).

Mesti shalat dan zakat disebut—karena juga tak ada di antara kita yang meragukan kewajiban melakukan keduanya—tampak bahwa daftar amal kebajikan didominasi amal saleh, bahkan penyebutan amal saleh pun didahulukan ketimbang shalat dan zakat. Apalagi jika kita ingat bahwa zakat adalah juga ibadah mahdhah yang esensinya adalah amal saleh. Bahkan juga shalat (silahkan baca buku saya, Buat Apa Shalat?!).

Rasulullah Saw bersabda, “Maukah jika aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih utama dari derajat puasa, shalat dan sedekah?” Para sahabat berkata, “Tentu ya Rasulullah.” Rasulullah Saw bersabda, “Mendamaikan orang yang sedang berselisih. Dan rusaknya orang yang berselisih adalah pencukur (mencukur amal kebaikan yang telah dikerjakan)” (HR Abu Dawud).

Baca Juga:  ASPEK ROHANI RASULULLAH SAW DALAM BACAAN MAULID SIMTHUD DURAR KARYA HABIB ALI BIN MUHAMMAD AL-HABSYI (Bagian 1)

Di kesempatan lain Nabi saw juga bersabda:

“Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan puasa?” tanya Rasulullah kepada para sahabat. “Tentu saja,” jawab mereka. Beliau kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan tali persaudaraan di antara mereka adalah amal saleh yang besar pahalanya. Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturahim” (HR. Bukhari Muslim).

Lagi:

“Maukah aku ingatkan kalian dengan suatu amalan yang paling baik; amalan yang paling suci pada apa yang kalian miliki, paling tinggi derajatnya; lebih baik dan utama bagi kamu sekalian daripada menginfakkan emas; lebih baik bagi kamu sekalian daripada kalian berhadap-hadapan dengan musuh, kalian pukul lehernya dan mereka pun memukul leher kalian?” Para sahabat menjawab, “Tentu kami mau, ya Rasulullah.” Lalu Nabi bersabda, “Mengingat Allah” (HR Tirmidzi).

Sudah sangat masyhur Nabi menyatakan bahwa, “Manusia yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah manusia yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain”.

Hadis di bawah ini juga amat penting:

“Amalan yang paling disukai oleh Allah Swt. adalah prihatin kepada urusan muslim yang lain atau membantu mengatasi kesusahan yang dihadapinya atau melunaskan hutangnya atau menghilangkan kelaparannya. Aku berjalan bersama saudaraku karena ingin menunaikan satu hajat, lebih aku sukai dibanding beriktikaf di masjid(ku) ini  (Masjid Nabawi) selama sebulan. Siapa yang menahan kemarahannya, Allah akan menutup aibnya. Siapa yang menahan amarahnya, sekalipun jika dia mau, dia boleh melepaskannya, maka Allah akan penuhkan hatinya dengan pengharapan (kebaikan) pada hari Kiamat dan siapa yang berjalan bersama saudaranya untuk memenuhi satu hajat hinggalah selesai hajatnya, maka Allah akan teguhkan kakinya pada hari di mana semua kaki rebah”.

Bahkan, ketika sahabat kagum kepada seseorang yang hidupnya dihabiskan di Masjid, Nabi menyatakan bahwa pahala ibadah orang tersebut mengalir kepada orang-orang yang mendukung nafkahnya. Lihat betapa mencari nafkah dan membantu nafkah orang lain Nabi Saw utamakan ketimbang menghabiskan waktu beribadah.

Baca Juga:  Al-Qur’an sebagai Sumber Pengetahuan (Bagian 2)

Tak hanya satu hadis yang menyatakan bahwa ibadah yang paling baik adalah memasukkan rasa bahagia pada diri orang-orang yang patah hatinya. Bahkan, Allah memerintahkan agar kita menemui-Nya pada orang-orang yang patah hatinya.

Dalam bukunya, Rahasia Shalat, Imam Khomeini pernah menyatakan bahwa kekurangan dalam ibadah mahdhah (ritual) bisa di-“tebus” dengan amal-amal saleh. Tapi tidak sebaliknya. Kekurangan dalam amal saleh tak bisa ditebus dengan ibadah mahdhah.

Dalam hadis riwayat At-Thabrani Rasul Saw dicatat pernah berkata: “Fadhlul ilmi khairun min fadhlil ibadati”. Yang artinya: “Keutamaan ilmu jauh lebih baik daripada keutamaan ibadah”. Bahkan dikisahkan, Nabi Saw pernah memilih bergabung dengan kelompok yang sedang belajar di Masjidnya ketimbang yang sedang beribadah.

Akhirnya., Nabi pernah memerintahkan kaum Muslim untuk berbuat baik dan membebaskan anak perempuan Hatim ath-Thay dari dijadikan tawanan perang—salah seorang kepala suku Arab terkemuka di masa itu, yang bukan Muslim—karena “ayahnya (Hatim) adalah orang baik dan penolong orang-orang lemah”. Lihat, bagaimana Nabi Saw mementingkan amal saleh, bahkan meski pelakunya adalah non Muslim.

0 Shares:
You May Also Like
Read More

ZIARAH (6)

Baru di hari pertama konferensi, yakni di malam Welcoming Reception itu, saya sudah berbesar hati mendengar Sayed Ammar…