Resiliensi Diri ala Sufi

Tulisan ini berawal dari pengalaman penulis ketika mengikuti acara pengabdian masyarakat yang diselenggarakan oleh Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi UIN Raden Mas Said Surakarta, di Pondok Pesantren Darul Afkar Klaten. Pengabdian ini bertemakan “Pendekatan Tasawuf Sebagai Upaya Mencapai Resiliensi Pada Masyarakat”. Tujuannya adalah bagaimana masyarakat dapat menjadikan nilai-nilai dalam tasawuf sebagai media ketika menyikapi masalah-masalah dalam kehidupannya secara individu maupun bermasyarakat.

Ada pepatah yang mengatakan, “Masalah terbesar seekor ikan adalah air, namun ikan tidak bisa hidup tanpa adanya air”. Begitu juga manusia, salah satu faktor yang terkadang menghambat perkembangan manusia dalam kehidupan adalah ‘masalah’ namun, realitanya tidak ada manusia di dunia ini yang tidak memiliki masalah. Masalah selalu berdampingan bersama manusia entah dalam senang maupun duka. Maka, yang menjadi persoalan bukan pada ‘masalah’ melainkan bagaimana manusia menyikapi sebuah masalah.

Filsuf stoik mengajarkan kepada kita, dalam menyikapi persoalan hidup diharapkan seorang individu untuk memprediksi masalah apa yang akan kita hadapi. Termasuk memprediksi sebuah kesulitan masalah yang tidak  dikehendaki, misal, saat merintis sebuah usaha seorang harus mempersiapkan mental jika suatu saat nanti usaha yang dibangunnya mengalami kegagalan. Hal ini bukan berarti mengiyakan sikap pesimis atas usaha yang dikerjakan. Akan tetapi, lebih pada bagaimana kita dapat memiliki penerimaan atas hasil dari apa yang diusahakan.

Dalam tasawuf, terdapat pembahasan mengenai dua wilayah yang saling berkaitan. Pertama, wilayah manusia yakni berupa usaha dan doa. Kedua, wilayah Tuhan yakni hasil, maksudnya adalah meskipun yang melakukan usaha dan doa adalah manusia namun perkara hasil, Tuhan yang menentukannya, begitulah rumus yang dibangun dalam ketauhidan. Dalam tasawuf, hal tersebut disebut sebagai tawakal, yakni sebuah sikap batin yang pasrah total kepada Tuhan, sebagaimana yang kerap dipraktikan oleh para sufi.

Baca Juga:  Guru Sufi tertentu Menerima Ajaran Tambahan dari Nabi di Luar Al-Qur’an dan Hadis. Benarkah ?

Jika sufi dipahami sebagai individu yang selalu berusaha meninggalkan perbuatan buruk dan kotoran-kotoran yang berada dalam hatinya (takhalli), dan individi yang selalu berusaha menghiasi dirinya dengan akhlak dan perilaku terpuji (tahalli), kemudian mengantarkan individu pada keadaan spiritual ketika seseorang merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya. Maka, setiap individu (muslim) berkesempatan menjadi sufi secara maknawiyah.

Pada umumnya, istilah sufi dinisbatkan pada seorang yang mengamalkan tarekat. Metafora tarekat sebagai “jalan” harus dipahami secara khusus, sehubungan dengan istilah syariat juga dipahami sebagai “jalan”. Dalam hal ini tarekat bermakna sebagai jalan yang bersifat khusus atau individual, yang memiliki kaitan erat dengan tasawuf. Tasawuf merupakan ilmu yang mengajarkan bagaimana individu mendekatkan diri kepada Tuhan yang berlandaskan  pada Al-Qur’an dan Hadis. Selanjutnya, dimodifikasi oleh para sufi (ahli tasawuf) sehingga menjadi formula keilmuan yang dapat dipraktekkan khalayak umum.

Fenomena tasawuf yang semakin diminati oleh banyak kalangan dari masyarakat pelosok desa sampai masyarakat yang berada di pusat peradaban kota menjadi salah satu bukti bahwa tasawuf masih relevan jika diterapkan di era modern. Tasawuf tidak sekedar menjadi ritual keagamaan, namun juga memiliki kontribusi dalam membantu manusia saat menghadapi problem kehidupan, salah satunya dalam bidang kesehatan tasawuf memiliki produk sufi healing yakni tasawuf dijadikan sebagai media penyembuhan penyakit fisik dan psikis.

Selain itu, tasawuf juga mampu dijadikan sebagai upaya seseorang untuk mendapatkan resiliensi diri. Dalam ilmu psikologi, resiliensi diri memiliki beberapa pengertian di antaranya, keberhasilan seseorang dalam beradaptasi dengan kondisi yang tidak menyenangkan (Garmezy, 1991). Kemampuan individu atau kelompok untuk mencegah, meminimalisasi, atau bahkan mengatasi efek yang merusak (Grotberg, 2001). Kemampuan individu dalam mengatasi, melalui, dan kembali pada kondisi semula setelah mengalami kesulitan (Reivich dan Shatte, 2002). Sebuah pola adaptasi yang bersifat positif dalam menghadapi kesulitan (Riley dan Masten, 2005).

Baca Juga:  Belajar Pluralisme dari Al-Qur'an

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat dikatakan bahwa resiliensi diri merupakan sebuah seni yang dimiliki oleh individu dalam mempertahankan hidupnya meskipun mengalami berbagai macam permasalahan, kesulitan, kegagalan, dan keburukan, sehingga individu dapat mengambil hal positif di setiap kejadian yang menimpanya dan ia dapat kembali pada kondisi netral (semula).

Manfaat dari resiliensi di antaranya adalah individu yang memiliki resiliensi yang tinggi maka cenderung akan mudah bersosialisasi, memiliki kecakapan dan terampil dalam berpikir, kematangan sosial dan kemampuan menilai sesuatu dengan bijaksana, yakin pada diri sendiri dan percaya pada kemampuannya dalam mengambil keputusan serta memiliki spritualitas dan religiusitas yang unggul.

Kembali pada judul di atas, tasawuf memiliki beberapa ajaran yang dapat dijadikan sebagai upaya agar individu dapat mencapai resiliensi. Dalam resiliensi terdapat beberapa aspek di antaranya:

Pertama, aspek emotion regulation yakni kemampuan seseorang untuk tetap berada pada keadaan tenang dan terkendali meskipun pada kondisi yang menekan. Sebagaimana dalam tasawuf mengajarkan manusia untuk selalu mengingat Tuhan dengan zikir. Meskipun zikir tidak menggugurkan dari masalah yang dialami, namun zikir dapat membebaskan tekanan perasaan dan pikiran yang mereka alami karena adanya masalah atau kusilitan.

Kedua, aspek implus control (pengendalian diri). Resiliensi dapat dilihat dari bagaimana seorang dalam mengendalikan diri ketika dihadapkan dengan berbagai problem kehidupan. Pengendalian diri dalam tasawuf dapat dilacak dalam mujahadah an-nafs, yakni kondisi sabar saat ditimpa kesulitan. Sabar merupakan kondisi tenang dalam menghadapai masalah dan bukan kondisi diam tanpa melakukan apa-apa.

Ketiga, aspek optimist, yakni memiliki pandangan yang positif dalam kehidupannya sekalipun dalam keadaan dililit oleh masalah. Sebagaimana tasawuf mengajarkan yang namanya raja’ (berharap) maksudnya adalah berharap kepada Tuhan agar diberikan yang terbaik.

Baca Juga:  SASTRA DAN DAYA IMAJINASI

Keempat, aspek causal analysis (analisis sebuah masalah) ketika individu tidak memiliki kecapakan dalam menganalisis sebuah masalah dalam hidupnya maka ia akan rentan mengalami gangguan psikologis. Seorang cenderung mengalami gairah kehidupan ketik apa yang diupayakan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.

Sukses dan gagal merupakan salah satu hasil yang didapatkan manusia ketika ia melakukan sebuah usaha. Kegagalan yang sering menjadi kendala manusia, karenanya ia merasa kecewa, tidak ada gairah, dan enggan bangkit kembali. Dalam tasawuf kita diajarkan tawakal yakni kondisi batin atau hati yang pasrah kepada Tuhan akan segalanya. Tawakal merupakan sikap yang harus ditanamkan oleh seorang sufi sejak awal, maksudnya menyandarkan yang namanya usaha dan hasil kepada Tuhan. Tawakal itu gerak pasrah bukan diam menggenang.

0 Shares:
You May Also Like