Karunia dan Cobaan

Kita sering merasa bahwa lebih banyak cobaan dibanding karunia yang diberikan Tuhan. Padalah karunia Tuhan tidak pernah berhenti setiap detik diberikan kepada kita, sementara cobaan dari-Nya hanya sesekali dan itu pun selalu ada jalan keluar yang dipermudah oleh-Nya, asal kita mau membuka hati.

Karunia Tuhan yang luar biasa seolah-olah menjadi hal yang biasa karena sudah menjadi kebiasaan dan rutinitas kita. Suatu hal yang luar biasa dan sangat berharga, bila menjadi rutinitas akan menjadi biasa dan kurang berharga. Makna dari kata “Allah” sendiri adalah sesuatu yang sangat menakjubkan. Segala sesuatu tentang Allah dan tajalli-Nya pasti sangat menakjubkan dan luar biasa. Hanya karena sudah menjadi kebiasaan dan rutinitas, kita menganggapnya biasa.

Cukup kita melihat diri kita sendiri sebagai contoh. Setiap detak jantung kita adalah caranya bertasbih yang luar biasa, kepada-Nya. Setiap desir aliran darah yang tak pernah berhenti sekejap pun untuk memberi nutrisi tubuh kita, adalah luar biasa. Setiap saat usus kita yang luar biasa, dapat membedakan satu persatu zat yang berguna untuk dicerna dan diambil, serta zat yang tidak berguna atau berbahaya, untuk ditolak oleh tubuh kita. Setiap detik ginjal kita yang luar biasa menyaring zat kotor dan toksik bagi tubuh, dengan efektifitas yang tiada taranya. Mesin cuci darah yang paling canggih di dunia pun, sama sekali tidak bisa menggantikan fungsi ginjal yang berukuran kecil tersebut. Setiap hembusan nafas kita adalah luar biasa, untuk mengambil oksigen bagi tubuh kita.  Setiap saat indra kita yang luar biasa menakjubkan,  dapat melihat, mendengar, mencium, merasa dan meraba, dengan keajaiban yang tiada taranya. Belum lagi karunia di luar tubuh kita yang tak terhingga jumlahnya. Demikian luar biasa tak terhingga karunia-Nya yang menakjubkan itu, sehingga tidak mungkin dapat dituliskan.

Baca Juga:  Islam dan Kehendak Bebas Manusia (2): Metodologi Pembacaan Holistik dan Non-Reduksionis

“Dan seandainya semua pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah…” (QS Luqman [31]:27).

Semuanya itu merupakan karunia-Nya yang sebenarnya hanya dipinjamkan kepada kita. Kita merasa seolah-olah itu memang hak kita, merupakan hal biasa saja, dan sering dianggap kurang berharga. Begitu karunia itu dicabut sedikit saja, barulah kita merasakan bahwa hal itu sebenarnya luar biasa, menakjubkan, dan sangat berharga.

4 Shares:
You May Also Like