Create Your Own Religion (2)

Di antara salah satu respon yang simpatik adalah bahwa, bisa jadi yang dimaksud oleh Prof. Andani adalah agama dalam makna interpretasi individu-individu tentang agama yang bisa berbeda-beda. Dengan kata lain, kalimat “bikin agamamu sendiri” bisa bermakna rumuskan dengan bebas dan personal penafsiran individualmu tentang agama. Yakni, apakah pengertianmu tentang agama bagimu; atau, mungkin, apakah pengertianmu tentang Tuhan. Juga tentang kenabian, kitab suci, ritus-ritus. Dan sebagainya. Karena memang, di dunia akademik khususnya, ada kesepakatan tentang apa itu (yang merupakan unsur-unsur pembentuk) agama. Meski, mungkin, ada puluhan definisi agama di buku-buku studi agama standar, tetap ada hal-hal yang secara fenomenologis disepakati sebagai merupakan unsur-unsur pembentuk agama. Termasuk di dalamnya, gagasan tentang sesuatu “yang ilahi (divine)”, tentang hal-hal yang suci (sacred); dan juga, pada umumnya, juga gagasan tentang kitab suci dan soal-soal keakhiratan (eskatologis).

Jika dalam penugasan tersebut gagasan-gagasan ini masih dipertahankan, maka “membikin” agama kita sendiri bisa bermakna merumuskan pemahaman atau gagasan-gagasan kita tentang unsur-unsur pembentuk agama seperti itu. Pertanyaannya terkait hal ini, apakah (unsur-unsur pembentuk agama ini) memang bisa/boleh dipahami secara berbeda-beda oleh individu-individu berbeda? Bukankah agama itu satu, bukankah kebenaran—apalagi yang bersumber dari Tuhan—itu satu?

Sebelum yang lain-lain, mungkin perlu kita tegaskan di sini, bahwa memang pada kenyataannnya, individu-individu—atau kelompok-kelompok dalam umat beragama—bahkan dalam kelompok agama yang sama—cenderung berbeda dalam memahami gagasan tentang Tuhan, tentang kehidupan akhirat, tentang tafsir atas kitab suci, maupun tentang hal-hal yang sakral dalam agama. Kenyataannya, dalam Islam, ada banyak mazhab/manhaj—dalam teologi (ketuhanan), dalam memahami kehidupan akhirat (termasuk soal kebangkitan kembali), apalagi dalam tafsir, validitas dan pemaknaan tradisi kenabian (hadis dan sunnah), lebih-lebih dalam praktik-praktik ritual. Semua pemeluk Islam sepakat bahwa Tuhan itu ada, dan esa.

Baca Juga:  Al-Qur’an Hadir untuk Kepentingan Manusia dan Tawaran Membaca Kitab Suci

Tapi, dalam hal tauhid (asma’, sifat, dan af’al/tindakan-tindakan) Tuhan, ada model pemahaman Tauhid Mu’tazilah, Asy’ariyah, Syi’ah, dan model tasawuf (khususnya tauhid wujudi/wahdatul wujud). Bahkan, menurut Ibn ‘Arabi, bukan hanya kelompok-kelompok, bahkan individu-individu bisa memiliki gagasan berbeda tentang Tuhan. Disebut sebagai “Tuhan yang diyakini” (al-ilah al-mu’taqad). Dengan kata lain, Tuhan yang diyakini ini adalah “bikinan” atau bentukan keyakinan individu-individu yang meyakininya itu. Inilah, menurut Ibn ‘Arabi makna hadis qudsi: “Aku adalah sesuai persangkaan hamba-Ku tentang-Ku”.

“Karena itu”, kata Ibn ‘Arabi lebih jauh, pujian seorang individu kepada apa (Tuhan) yang dipercayainya adalah sesungguhnya pujiannya kepada (Tuhan yang) dirinya sendiri (bikin/bentuk). Itulah sebabnya mengapa seseorang mencela kepercayaan orang lain. Jika ia menyadari persoalan yang sebenarnya (yakni, bahwa Tuhan sejatinya tak seperti yang ia yakini, karena bukankah “tak ada sesuatu pun—yang bisa digagas—yang mirip Dia”. Tentu, ia tidak akan berbuat demikian itu. Jika ia mengetahui apa yang dikatakan oleh al-Junayd, “Warna air adalah warna bejana yang ditempatinya”, ia akan memperkenankan apa yang dipercayai setiap orang yang mempunyai kepercayaan dan mengakui Tuhan dalam setiap bentuk dan dalam setiap keyakinan. Karena sesungguhnya, seperti dia sendiri, gagasan orang lain tentang Tuhan, meski tidak sejati, sama tidak sejatinya belaka dengan gagasannya sendiri. Tuhan kepercayaan adalah ciptaan bagi yang mempersepsinya.

Nabi pun menceritakan bahwa pada hari Kiamat kelak, Tuhan akan menampakkan diri-Nya kepada umat manusia dalam berbagai bentuk, yang tiap-tiap bentuk—yang tak sesuai dengan gagasan seorang individu tentang Tuhan yang diyakini (ilah mu’taqad)-nya—itu akan ditolak oleh orang itu, karena dia tidak mengenalinya. Seorang individu, hanya akan menerima kehadiran Tuhan yang sesuai dengan apa yang diyakininya. Individu lain juga hanya akan menerima kehadiran Tuhan yang sesuai dengan keyakinannya, yang berbeda dengan keyakinan oramg lain. Meski, akhirnya, setelah Tuhan menyingkap hijab pada diri setiap orang, semua orang atau kelompok itu akan menyadari bahwa sebenarnya Tuhan yang menampakkan diri-Nya dalam berbagai bentuk itu adalah penampakan dari Tuhan yang satu dan sama; Tuhan yang itu-itu juga, bukan Tuhan yang lain/berbeda. (Bersambung)

Baca Juga:  Godaan yang Bertingkat
1 Shares:
You May Also Like