ZIARAH (Bagian 7)

Sekarang soal  mengikuti (atba’) Ahlul Bayt as, yang merupakan bagian penting dari judul konferensi ini. Selain saya bahas dalam makalah saya, dan juga saya sampaikan dalam jawaban saya ketika tim Yayasan Inki mewawancarai saya untuk podcast mereka, saya juga sampaikan soal ini secara langsung kepada Sayed Ammar al-Hakim, ketika saya bersama beberapa peserta lain beraudiensi dengan beliau. Begini…

Meski ada yang berteori—al. A. Hasymi—bahwa Islam yang pertama kali masuk ke Nusantara melalui Aceh adalah Islam mazhab Syiah—tidak diragukan lagi bahwa Islamisasi Nusantara sepenuhnya mengambil bentuk Sunnisme. Meskipun demikian, kenyataan bahwa ajaran Islam tersebut bersifat  mistikal, terbukti telah membawa bersamanya pengaruh-pengaruh—atau, setidaknya, kesamaan-kesamaan—dengan ajaran-ajaran Syi’ah tertentu. Termasuk, misalnya, beberapa shalawat yang dibaca Syi’ah, yang sampai sekarang masih dibaca dengan penuh gairah di lingkungan pesantren dan komunitas Islam tradisional. Bahkan, di kalangan yang sama, ada pula wirid-wirid tertentu yang secara jelas menyebutkan keutamaan lima orang (Imam) keturunan Ahlul Bait. Demikian juga dalam hal tradisi ziarah kubur, haul, tahlilan, pembuatan kubah di atas kuburan, dsb. Juga tradisi pembacaan shalawat Diba’—yang oleh Gus Baha malah disebut sebagai karangan penulis Syiah—itu. Di samping juga penggunaan buku teks yang ditulis oleh penulis Syiah (Zaydi) seperti Nayl al-Awthar. Belum lagi tradisi Tabut—mengarak jenazah Sayidina Husain, yang terbunuh di Karbala setiap 10 Muharram—yang sampai sekarang masih dipertahankan di berbagai daerah di Indonesia.

Yang lebih penting lagi, dalam hal ini, adalah kebersambungan silsilah semua tarekat, yang diakui di kalangan Ahlus-Sunnah di Indonesia, kepada tokoh-tokoh yang diterima Syi’i sebagai Imam-Imam mereka. Bahkan, kecuali Naqsybandiyah, semua tarekat tersebut berujung pada Sayidina Ali. Naqsybandiyah pun, meski berujung pada Sayidina Abubakar, tetap saja sebelumnya melewati Sayidina Ja’far al-Shadiq. Pada umumnya, silsilah tersebut setidaknya mencakup (tokoh-tokoh yang diyakini kaum Syiah sebagai) Imam-Imam mereka mulai dari Imam Ja’far hingga Imam Ali.

Baca Juga:  Isra Mikraj: Rahasia Perjalanan Suci Nabi Muhammad

Ajaran-ajaran Islam sufistik yang dianut mayoritas Muslim Ahlus-Sunnah di Indonesia ini telah menjadikan substansi ajaran kecintaan kepada Ahlul Bayt tidak asing bagi mereka. Bahkan, salah satu tarekat yang penting di Indonesia—yakni Tarekat ‘Alawiyah—malah secara khusus dikembangkan oleh para ulama besar dari keturunan langsung Nabi saw, yang berasal dari Hadhramawt. Tarekat ini juga  meyakini ajarannya sebagai ditransmisikan melalui silsilah emas (silsilah dzahabiyah), yang semua mata rantainya disusun oleh para ulama besar mereka—hingga berujung pada Rasulullah saw.  Yakni, melewati Sayidina ‘Ali al-‘Uraydhi, putra Sayidina Ja’far al-Shadiq, terus ke ayah-ayahnya sampai Sayidina ‘Ali bin Abi Thalib. Bukan saja, sudah tentu, tarekat para keturunan Rasul saw ini dipenuhi dengan ajaran ittiba’ para Imam dalam garis keturunan Rasul ini, ajarannya juga amat menekankan kecintaan kepada keluarga Nabi. Bahkan kecintaan kepada Ahlul Bayt adalah jalan kesematan, sebagai “Bahtera Nuh.” Nah, kenyataannya, ajaran Tarekat ‘Alawiyah berperan amat besar dalam membentuk cara pemahaman Islam di Indonesia.

Maka, kalau pun belakangan ini tercipta konflik Sunnah-Syi’ah, hal itu lebih disebabkan karena warisan sejarah konflik politik kelompok Sunnah-Syiah sepanjang sejarah Islam—sejak masa-masa awal sepeninggal Nabi saw—khususnya, sekali lagi, akibat elemen ghuluw (ekstrem) di antara keduanya.

Ada pula faktor kontemporer yang ikut memperburuk kondisi relasi Sunnah Syiah ini. Yakni konflik geopolitik di Timur Tengah, di antara negara-negara yang mayoritas penduduknya bermazhab Syiah dan yang bermazhab Sunni. Khususnya tak lama setelah kemenangan Revolusi Islam di Iran dan apa yang disebut kebangkitan Syiah di Timur Tengah. Sayangnya, seperti biasa banyak orang terbawa arus—tanpa sadar. Kehadiran lulusan pusat-pusat pendidikan Salafi-Wahabi dari kawasan Arab, yang sedikit banyak menggotong warna sektarianisme Sunnah-Syiah, ikut memperkuat kecenderungan konflik ini. Harus diakui pula, khususnya terkait generasi awal-awalnya, sikap sejenis dari sebagian lulusan pusat-pusat studi Syiah di, wilayah yang sama, juga ikut berpengaruh di dalamnya. Pemberontakan di Suriah dan ledakan ISIS menjadikan konflik ini mencapai puncak destruktifnya. Tapi, sekali lagi, hal ini sama sekali tak menutupi kenyataan bahwa, sesungguhnya, mayoritas Muslim Ahlus-Sunnah di Indonesia adalah pencinta Ahlul Bayt, yang tak kalah adreng dibanding Syiah. Meski, bedanya dengan Syiah—yang juga menjadikan ajaran Ahlul Bayt sebagai sumber langsung fikih dan teologi mereka—kecintaan Ahlus-Sunnah lebih bersifat emosional dan spiritual. Yang, jika kita kaitkan dengan ajaran tasawuf, kecintaan ini dipercayai sebagai sarana pemancaran “barakah” (limpahan spiritual) dari orang-orang suci ini kepada para pencintanya itu. Cara mayoritas ulama Ahlus-Sunnah dalam menafsirkan ayat penyucian Ahlul Bayt (QS 33:33), ayat mubahalah (QS 3:61), ayat permintaan Nabi saw agar kaum Muslim mencintai keluarganya (QS 42:23), dan begitu banyak hadis tentang keutamaan Ahlul Bayt (‘itrah), adalah nyaris setali tiga uang saja dengan pemahaman Syiah. Bahkan, sebagai satu contoh saja, tak kurang dari K.H. Hasyim Asy’ari, sang pendiri NU, amat menekankan hal ini,  dalam karya beliau berjudul An-Nurul Mubin fi Mahabbati Sayyidil Mursalin. Dengan catatan, menurut K.H. Hasyim Asyari, berbeda dengan Syiah Rafidhah (Syiah Penolak Sahabat), Ahlus-Sunnah tak menolak kemuliaan sahabat yang dimuliakan Ahlus-Sunnah.

Baca Juga:  Tasawuf sebagai Jawaban dari Keresahan Alam Pikir Milenial

Maka, jika saja semua pihak dapat membawa diri lebih baik dengan menjalankan nilai-nilai persaudaraan Islam dan lebih mengutamakan tugas-tugas kewargaaan (civic duties) mereka terhadap sesama mereka—melintasi sekat-sekat kekelompokan apa pun—bisa diharapkan bahwa konflik-konflik tersebut akan bisa diminimalisasikan, dan semua bisa berlomba-lomba menebarkan rahmat bagi semesta… (Bersambung)

0 Shares:
You May Also Like