Muhammad Iqbal itu Seorang Filsuf, Penyair, Teolog atau Sufi Kontemporer?

Nama Muhammad Iqbal dan karya-karyanya tentu sudah tak asing lagi di kalangan para sarjana dan kaum intelektual Muslim kontemporer. Tokoh yang dilahirkan di Siakkot, Punjab ini, dikenal sebagai seorang ulama besar yang sangat mampu memadukan pemikiran dan penyairan secara serentak. Banyak kalangan menyebutnya sebagai penyair-pemikir atau pun sebaliknya, pemikir-penyair.

The Development of Metaphysics in Persia, Asra-i Khudi, dan Payam-i Masyriq, serta The Reconstruction of Religious Thought in Islam adalah di antara karya-karya yang ditulis Muhammad Iqbal dalam mengekspresikan gagasan-gagasannya. Tentu, masih banyak lagi karyanya dengan berbagai varian seperti, puisi, prosa, artikel, dan surat-surat balasan dalam bentuk bahasa Urdu, Arab, Persi dan bahasa Inggris.

Misalnya, karya-karyanya yang sampai pada kita hingga saat ini didapati lebih banyak berupa tulisan puitis ketimbang tulisan-tulisan filosofis utuh, sebagimana para filsuf Muslim lainnya. Karya Iqbal dalam bentuk puisi diselesaikan dengan sempurna dan utuh.

Sedangkan karyanya, di bidang filsafat seperti, The Development of Metaphysics in Persia, yang diterbitkan sekitar 1908 lebih bersifat historis, dan The Reconstruction of Religious Thought in Islam terbit sekitar 1934 tersebut. Awalnya buku ini berjudul Six Lecture on The Reconstruction of Religious Thought in Islam, entah karena alasan tertentu dikemudian hari disederhanakan judulnya menjadi yang saat ini. Mulanya buku ini merupakan catatan yang disampaikan di kuliah-kuliah tentang Islam di Universitas Madras dan Heydrabad dan Aligragh dengan pernyataan-pernyataan yang merefleksikan pemikiran filsafat Islam Iqbal

Dalam terjemahan bahasa Indonesia, buku ini diterbitkan penerbit Mizan Pustaka dengan judul Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam (2016) lebih bersifat skolastik dalam berbagai konsepsinya. Meski demikian, karya-karya Iqbal tetap menampakkan kesatuan pemikiran antara karya dalam bentuk puisi dan karya filsafatnya. Walaupun, tentu harus diakui keduanya tak membuktikan kesatuan dalam cara pemaparannya. Mungkin kenyataan inilah banyak kalangan sarjana dan intelektual kontemporer menyatakan kalau Iqbal adalah seorang penyair, kemudian menjadi seorang pemikir atau filsuf.

Baca Juga:  Tasawuf sebagai Jawaban dari Keresahan Alam Pikir Milenial

Akan tetapi, tidak dengan M.M Syarif dalam tulisannya About Iqbal and His Thought, yang menyangkal dengan mengatakan dalam diri Muhammad Iqbal filsafat dan puisinya tak dapat dipisahkan, karya-karya puisi dan filsafatnya adalah karya-karya besar yang belum pernah terjadi pada pendahulunya. Oleh karenanya, bisa jadi puisi-puisi Iqbal besar karena pengaruh pemikiran filsafatnya yang bisa dan bisa jadi pemikiran filsafatnya besar karena puisinya besar.

Di samping dikenal sebagai penyair-pemikir atau sebaliknya, beberapa kalangan menyebut sebagai seorang sufi yang sering kali dinisbatkan pada banyak tulisan-tulisannya yang memiliki nuansa kesufian, dan maqamat para sufi. Misalnya, terkait masalah faqr, khauf, hazn dan juga terkait masalah estetika atau keindahan.

Uniknya lagi, Iqbal juga dianggap dan disebut memiliki kecenderungan pada konsep Wahdat al-Wujud layaknya Ibn ‘Arabi, di mana lebih mengutamakan latihan-latihan sufistik sebagai jalan dalam membersihkan diri dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

Dalam konteks ini, kita sebenarnya bisa melihat dan membaca kalau Iqbal ini seakan-akan sedang mengembangkan pemikiran wawasan filsafat Islam bercorak tasawuf falsafi atau tasawuf nadzari ke dalam wilayah dunia kontemporer. Walaupun wacana ini, sepertinya memang dirasa sangat sulit dipahami oleh pembaca dan pengkaji karya Iqbal karena dianggap kajian yang disajikan sudah menyatu dalam diskursus filsafat Barat kontemporer.

Terlepas dari semua pandangan tersebut, yang harus diakui bersama adalah sebagai seorang penyair, Iqbal telah menyajikan karya-karya berupa puisi yang memadukan nilai-nilai filsofis, etika dan estetika dalam sebuah bentuk sangat menarik. Dan, sebagai seorang pemikir atau filsuf, Iqbal telah mewariskan karya bernuansa filsofis yang sangat sangat terkenal di kalangan intelektual. Yang tak hanya intelektual Timur akan tetapi juga intelektual Barat hingga abad dua satu ini. Dengan demikian, dapat dikatakan kedua karya Iqbal tersebut berjalan seimbang dan saling melengkapi satu sama lainnya.

Baca Juga:  Belajar Mencintai Sesama dari Kisah Para Bijak Bestari

Agak sulit memang memetakan sosok Iqbal dalam sebuah pemikiran utuh sebagai paradigma berpikir tanpa melihat fase sejarah kehidupannya di mana merupakan rotasi perkembangan berpikir sampai pada titik akhir dengan berbagai penyebutannya. Paling tidak ada tiga fase yang paling berpengaruh dalam pemikiran Iqbal. Seperti, fase awal ketika berada di Pakistan di mana ia dididik langsung orang tuanya dengan pelbagi disiplin ilmu pengetahuan keagamaan.

Fase berikutnya ketika berada di Eropa dan mulai berkenalan dengan filsafat dan perdaban Barat modern secara langusng, serta melibatkan diri dalam masalah religius-filosofis. Kemudian fase akhir terjadi ketika kembali lagi ke Pakistan, dan di sinilah Iqbal seperti berhasil mengelaborasikan serta memadukan gagasan-gagasan pembaharuan keislaman yang pada akhirnya dituangkan dalam berbagai karyanya.

Dari perjalanan panjang Iqbal ini ada banyak asumsi bermunculan tentang tokoh yang mempengaruhi. Ada yang mengatakan kalau Iqbal memiliki kecenderungan dan dipengaruhi pemikiran filsafat possitivisme August Comte, terutama ketika mengemukakan kalau Islam dan umatnya harus bisa menguasai serta mengelola alam dengan eksprementasi. Oleh karenanya, Iqbal sering kali diatributkan sebagai seorang possitivistis-eksprementalis.

Tak berhenti di situ, misalnya ketika berbicara dan mengkaji tentang filsafat khudi “diri”, “aku” Iqbal seakan-akan (entah benar atau tidak) dipengaruhi oleh pandangan filsafat Hegal dan juga terpengaruh dengan pandangan filsafat Nietzche dengan aliran Superman atau Insan Kamil-nya. Misalnya, Iqbal menyatakan kalau sikap individualisme merupakan dasar dari kehidupan manusia dan masyarakat. Diakui atau tidak, memang sangat sulit untuk mengindentifikasi dan mengkelompokkan sosok Iqbal dengan segala variasi pemikiran; apakah Iqbal sebagai seorang pemikir (filsuf), penyair atau seorang sufi kontemporer serta seorang pemikir dalam bidang teologi dan seorang eksistensial teistik ?

Baca Juga:  BAGAI DAUN-DAUN KERING DITERBANGKAN ANGIN DI MAKKAH DAN MADINAH (4)

Meskipun sulit dalam pengkaplingan pemikiran Iqbal pada beberapa term pemikiran, apalagi sampai dikenal sebagai seorang eksistensial, akan tetapi dapat diidentifikasi dengan merujuk pada paradigma berpikirnya yang secara umum mengacu pada prinsip; dinamika dan prinsip konsekuensi. Bagi Iqbal, Islam sudah mencakup prinsip “gerakan” berjalan selaras dengan manusia yang selalu bergerak di dunia yang selalu berubah.

Meski begitu, nyata-nyatanya, Iqbal lebih dikenal dengan predikat sebagai seorang penyair, filsuf dan pembaharu keislaman di zamannya, daripada seorang sufi kontemporer apalagi sebagai seorang teolog. Di sini, bukan berarti Iqbal tidak menyinggung sama sekali terkait dua hal ini.

Pada akhirnya, yang sangat pasti, dari berbagai indentifikasi terkait Iqbal, kalangan sarjana dan intelektual kontemporer yang telah mengkajinya lewat karya-karyanya di seputar tiga spektrum keilmuan, dengan menawarkan berbagai macam pemikiran yang dapat dikatakan cukup terbilang unik dan menarik serta barangkali kontradiktif dengan pemikiran-pemikiran pada umumnya.

6 Shares:
You May Also Like