Karen Armstrong dan Dunia yang Diimpikannya

Nama Karen Armstrong bukanlah nama yang asing bagi pembelajar kajian agama-agama. Ia dikenal sebagai seorang penulis yang sangat produktif, yang buku-bukunya banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Hemat saya, selain produktivitas dan kecemerlangan dari karya-karyanya, hal lain yang perlu kita apresisiasi dari sosok Armstrong ini, yakni visinya tentang sebuah dunia yang diimpikannya, yang bahkan perlu kita perjuangkan bersama-sama dan hal ini menjadi tugas penting bagi kita sebagai anak manusia.

Adapun visi dunia yang saya maksudkan, yaitu membangun komunitas global yang di dalamnya semua orang dapat hidup bersama dalam sikap saling menghormati. Saya rasa visi dunia tersebut harusnya menjadi visi kita bersama yang perlu untuk terus kita upayakan, dan merupakan salah satu tugas utama kita sebagai seorang anak manusia.

Akan tetapi, ada beberapa hal yang menjadi kegelisahan Karen Armstrong, dan saya kira kegelisahan itulah yang melatarbelakangi atau memotivasi seorang Armstrong dalam menuliskan karya-karyanya, dan hal tersebut tentu wajar, mengingat setiap penulis pasti mempunyai nilai atau visinya masing-masing yang akan memengaruhi karya-karyanya. Adapun kegelisahan yang saya maksud, beberapa di antaranya, yaitu agama kerap kali dipandang sebagai sumber permusuhan, perpecahan bahkan peperangan. Pada sisi yang lain, agama yang kerap dipandang sebagai sumber konflik tersebut, tidak bisa dilepaskan juga karena adanya fenomena kekerasaan yang dilakukan oleh segelintir pemeluk agama dengan menggunakan justifikasi teologi sebagai basis legitimasinya.

Dua hal itulah yang kemudian berusaha dibantah oleh Karen Armstrong, sambil berusaha menunjukkan bahwa sesungguhnya inti dari ajaran agama adalah belas kasih (compassion). Ajaran belas kasih ini, yang dapat juga disebut sebagai “kaidah emas”, sesungguhnya terdapat dalam setiap ajaran agama, “jangan perlakukan orang lain dengan cara yang tidak Anda inginkan untuk diri Anda sendiri”, atau bisa juga “selalu perlakukan orang lain sebagaimana Anda inginkan untuk diri Anda sendiri”.

Baca Juga:  Saluran Cerna yang Menakjubkan

Pada dasarnya, setiap agama bersikukuh bahwa ajaran kasih sayang tidak hanya berlaku bagi kelompoknya sendiri, juga berlaku bagi kelompok lain, bahkan kepada musuhnya sekalipun. Agama selalu mengajarkan kepedulian untuk semua orang. Poin inilah yang berusaha Armstrong gelorakan sebagai inti dari kehidupan spiritualitas dalam agama.

Lalu, bagaimana dengan fenomena kekerasaan dalam umat beragama? Armstrong berargumen bahwa sebenarnya yang menjadi penggerak soal kekerasaan, konflik, dan semacamnya yang melibatkan orang-orang beragama, sebenarnya dilatar-belakangi oleh kerakusan dari sikap manusia itu sendiri. Itu artinya, yang sesungguhnya menjadi sebab fenomena tersebut adalah kepentingan yang bersifat non-agama, hanya saja kekerasan itu kemudian dibungkus dengan retorika agama.

Dalam pemahaman saya, argumen Armstrong memang sangat beralasan. Kita bisa meninjau misalnya kekerasan “atas nama agama” dalam konteks kontemporer, di satu sisi, memang terjadi karena dangkalnya pemahaman, hal ini dikemukakan juga oleh cendikiawan muslim seperti Abdurrahman Wahid. Akan tetapi, pada sisi yang lain, fenomena kekerasan berbasis agama, justru lebih banyak dilatar-belakangi karena persoalan-persoalan ekonomi politik. Lalu, menjadi persoalan penting lainnya, dan bahkan bersifat fundamen, yaitu apa yang bisa kita lakukan, sebagai anak manusia, lebih spesifiknya lagi, sebagai umat beragama untuk mewujudkan komunitas global yang di dalamnya setiap orang dapat hidup bersama dan saling menghormati?

Mengaplikasikan “Kaidah Emas” dalam Ranah Praksis

Di satu sisi, kita memang menyadari sepenuhnya bahwa tiap-tiap agama mempunyai perbedaan. Akan tetapi, pada sisi yang lain, dibandingkan membenturkan perbedaan-perbedaan dalam masing-masing agama, yang lebih baik dan ini menjadi keharusan, yakni mencari suatu titik yang dapat mempertemukan antar agama tersebut.

Adapun titik temu itu, yaitu “kaidah emas” yang menjadi inti dari kehidupan spiritual dalam beragama. Kaidah emas itu, dalam pemahaman Armstrong, yaitu “melihat ke dalam diri kita sendiri, menemukan apa yang membuat kita tersakiti, dan kemudian menolak, dalam keadaan apapun, untuk menimbulkan rasa sakit itu pada orang lain”. Dan “kaidah emas” ini harus diaplikasikan dan hanya bermakna bagi spiritualitas kita, ketika mempunyai kekuatan praksis.

Baca Juga:  MERAYAKAN TANGAN TUHAN DALAM FILM-FILM BESUTAN MIZAN (Bagian 2)

Mari sejenak kita renungkan, bagaimana ketika tiap-tiap orang mempunyai kesadaran dan menerapkannya, bahwa orang lain menginginkan dihormati, dicintai, dan dipedulikan, sebagaimana yang juga kita ingin orang lain lakukan kepada kita. Maka dunia yang lebih damai, penuh cinta, penuh kepedulian, dan bukannya dunia yang penuh caci maki, kebencian dan semacamnya, yang akan terwujud.

Dalam konteks itulah, tiap-tiap orang beragama harus mau berupaya untuk mengaplikasikan “kaidah emas” dalam ranah praksis, sebagai pengejewantahan dari inti spiritualitasnya. Tentu saja untuk membangun dunia yang lebih baik, dan dalam melakukannya, tiap pemeluk agama harus terbuka bekerja sama dengan pemeluk agama lainnya, bahkan dengan mereka yang tidak beragama.

Dalam konteks saya sebagai seorang muslim, saya pun selalu ingat dengan pesan Abdurrahman Wahid, bahwa diperkenankan bagi seorang muslim untuk bekerjasama dengan pemeluk agama lain, untuk kepentingan duniawi, seperti mewujudkan keadilan sosial, kesejahteraan, kedamaian, dan sebagainya. Dan kerjasama itu, tentu saja dimulai dengan adanya keterbukaan untuk berdialog. Hal itu juga yang menjadi titik tekan dari seorang Armstrong, tentu saja, sekali lagi, untuk mewujudkan dunia yang lebih baik, lebih damai, dan tiap-tiap orang bisa saling mencintai, mempedulikan, dibanding membenturkan identitas-identitas keagamaan. Dengan begitu, klaim agama sebagai “sumber kasih” akan mendapatkan pembuktian historisnya sepanjang zaman.

0 Shares:
You May Also Like