Makna Iqra’

Oleh: KH. Husein Muhammad

Pengasuh Pondok Pesantren Dar at-Tauhid, Cirebon

Sudah begitu masyhur, 17 Ramadan Tuhan menurunkan wahyu pertama sekaligus menandai kenabian Muhammad bin Abdullah. Wahyu itu berbunyi “Iqra’ bismi Rabbik“, dan seterusnya.

Iqra’ secara literal bermakna ‘bacalah’. Tetapi ia kata bernuansa metaforis (majaz) yang padat makna. Ia mungkin bermakna : lihatlah dan pandanglah semesta, pikirkan dan renungkan inti manusia dan kebudayaan bangsa-bangsa. Lihatlah langit yang menaungimu, bumi yang menyanggamu. Lihatlah gunung gemunung yang bertengger gagah di puncak bumi dengan begitu kokoh. Pandanglah lautan biru yang membentang dan menukik ke dalam perut bumi.

Pikirkan O, Muhammad. Siapakah yang menciptakan semua itu? Lihatlah dirimu sendiri dan renungkan dalam-dalam. Kau sebelumnya hanyalah air mani yang menjijikkan, lalu membentuk darah, daging, tulang dan seterusnya menjadi dirimu sendiri yang indah. Lalu akan menjadi apakah kau kelak? Bukankah kau akan kembali menjadi tulang-belulang yang tertimbun di perut bumi dan yang tak berharga?

Lihatlah tingkah laku manusia-manusia di sekelilingmu! Bukankah kau lihat, mereka rajin memperbudak manusia, menindas mereka yang miskin, merendahkan kaum perempuan begitu rendah? Perhatikan, O. Muhammad, para pemimpin kaummu itu. Mereka begitu congkak, arogan dan munafik.

Sesudah itu, melangkahlah engkau wahai Muhammad. Bebaskan bumi manusia dari sistem penindasan dan pembodohan. Selamatkan umat manusia dari cengkeraman para kapitalis dan kaum borjuis itu. Bawakan lilin, cerahkan kaummu. Beri mereka pengetahuan. Mengenai ini Alquran menyatakan :

“Aku turunkan kepadamu kitab suci ini, agar kau membebaskan manusia dari situasi “gelap” menuju “cahaya”. (QS. Ibrahim [14] : 1)

Situasi gelap itu adalah kebodohan dan penindasan. Dunia bercahaya adalah dunia berpengetahuan dan keadilan. O. Muhammadku. Lakukan segera transformasi kebudayaan dunia secara sistemik menuju pencerahan dan keadilan. Bangun peradaban baru yang manusiawi. Bebaskan bumi manusia dari sistem perbudakan manusia atas manusia. Muliakan kaum perempuan. Ajaklah seluruh manusia menuju Tuhan bersama Tuhan. Cintai mereka, sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri.

Baca Juga:  Syaikh Ahmad Sirhindi: Pembaru Kajian Tasawuf di India

Dalam konsep agama-agama langit dan etika spiritual, pengabdian kepada manusia untuk kemanusiaan, meminjam istilah Mulla Sadra, adalah “al-Safar min al-Khalq ila al-Khalq bi al-Haq” (proses perjalanan dari makhluk untuk makhluk bersama Tuhan).

0 Shares:
You May Also Like