Jantung Al-Qur’an: Mengurai Pesan-Pesan Batin Surat Yasin (Bagian 2)

Sekarang, mari kita simak (pemahaman dan penyimpulan saya atas) tafsir—tepatnya, takwil—Ibn al-‘Arabi tentang ayat pertama surat Yasin ini. Menurut Sang Syaikh Akbar, huruf “sin” dalam ungkapan “Yasin”, adalah potongan dari kata “sayid”.*)

Makna kata “sayid” ini adalah “kepemilikan kendali/dominasi” (atas sesuatu). Seperti diungkapkan di ayat-ayat awal surat Yasin ini juga, “siyadah” (kepemilikan dominasi) yang dimaksud merujuk kepada Muhammad saw, Rasul yang diutus oleh Yang Maha Rahman bagi semesta alam. Yakni,  nur/ruh/hakikat Muhammad saw, bayangan/tajally Allah yang, pada gilirannya, jatuh ke atas/membayangi/mendominasi semua saja ciptaan (maa siwa Allah). Dalam sistem kosmologi Ibn al-‘Arabi, nur Muhammad memang adalah tajally pertama dari (napas) Sang Maha Rahman, yang darinya berturunan (ber-tanazzul) martabat-martabat wujud di bawahnya. Termasuk martabat arketip-arketip penciptaan (ala’yan ats-tsabitah/entitas-entitas permanen), yang merupakan model seluruh ciptaan di alam ciptaan. Maka, menurut Ibn al-‘Arabi, Surat Yasin terlahir  sebagai “jantungnya Al-Qur’an”, diawali dengan ungkapan “yasin” yang bisa dipahami sebagai bermakna: “Wahai Manusia (Sempurna), Wahai bayangan ar-Rahman (Sang Pengasih), Wahai Muhammad yang memiliki dominasi/mengayomi atas semua yang lain”.

Maka, ketika Allah mengejawantahkan surat ini ke dalam alam wujud, Dia berikan di dalamnya kelurusan (sebagai panduan jalan) dan (limpahan) kasih sayang (rahmah)—sebagaimana diungkap juga dalam ayat-ayat awal dalam surat Yasin ini. Dengannya terbukalah/terjawantahkanlah semua perkara, dari martabat (paling) tinggi, hingga (paling) rendah. Dari yang keilahian hingga yang paling materiel.

Lihatlah betapa sentralnya surat Yasin ini, menurut Ibn al-‘Arabi, ia kunci (pengetahuan tentang) segala urusan. Dan lihat jugalah betapa surat Yasin adalah (panduan) jalan lurus, dan dipenuhi rahmah (kasih-sayang).

Dalam surat Yasin sendiri, Allah—selain berulang kali menggunakan kata Rabb (Pemelihara, Perawat)—delapan kali memilih menggunakan kata-kata bentukan dari kata dasar “rahmah”, bahkan ketika menggambarkan  dahsyatnya momen tibanya hari kiamat—suatu hari yang mendahului permintaan pertanggungjawaban agung Allah kepada manusia atas semua amalnya. Termasuk amal-amal para pembangkang. Demikian pula, ketika mengaitkan dengan kemungkinan bencana yang Allah turunkan, Dia juga menggunakan isim Rahman.

Kenyataannya, sifat rahmah ini adalah sifat dominan Allah Swt. Dalam Al-Qur’an, Dia Sendiri wahyukan: “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (QS. al-A’raf [7]: 156). Sedang dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman: “Rahmat-ku mendahului/mendominasi murka-Ku”. Di ayat lain, Allah menyejajarkan isim Jalalah-Nya (“Allah”)—yang sekaligus adalah isim Jami’ (Nama Peggabung, yang mengandungi semua Nama Allah)—dengan isim ar-Rahman:

“Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asma‘ul husna)…”(QS. Al-Isra [17]:110).

Baca Juga:  Nilai Agama dalam Kehidupan Bernegara (2)

Maka, jika kita lihat dengan kaca mata (kasih sayang Allah) ini, kita akan dapati bahwa surat Yasin ini sesungguhnya sapaan lembut penuh kasih Allah kepada para manusia. Bukan saja jika kita pelihara konteks kasih-sayang—yang saya uraikan—ketika membacanya, kenyataannya dalam surat Yasin ini Allah mengungkap limpahan nikmat yang Dia tebarkan dalam kehidupan dan alam semesta. Termasuk nikmat pengutusan Insan Kamil, Muhammad saw, tentang diturunkannya Al-Qur’an yang penuh petunjuk kebijaksanaan, tentang nikmat jalan lurus, tentang nikmat surga yang dijanjikan, dan berbagai nikmat lain dalam kehidupan.

Bahkan juga ketika Allah menyampaikan kemungkinan—yakni, “jika Dia menghendaki”—untuk menjatuhkan hukuman-hukuman kepada manusia. Adalah isim ar-Rahman yang berperan di dalam itu semua. Sehingga, betapa pun juga, tampak bahwa dengan surat Yasin ini pada puncaknya Allah hendak “mengeluhkan”: “Duh, manusia yang kusayangi, kenapa kau masih membangkang juga padahal telah Kutebarkan petunjuk, nikmat, dan hikmah yang begitu banyak dalam kehidupanmu? Dan bahwa sesungguhnya kunci bagi kebahagiaan hidupmu, di dunia ini dan di akhirat nanti, terletak di tangan penuh kedermawanan-Ku? Dan kamu bisa memperoleh semuanya dengan suka rela tanpa harus Aku melewatkanmu ke dalam pelajaran-pelajaran berat (siksaan-Ku). Serahkan dirimu kepada-Ku untuk Kuurusi. Pasrahlah. Ingatlah, manusia yang kusayangi, kembalilah kepada-Ku. Sebelum kau menyesal nanti.”

­———

Belum percaya? Kali ini bacalah Surat Yasin, seperti seolah engkau belum pernah membacanya. Mudah-mudahan  engkau akan melihat apa yang  saya lihat betapa pun saya melihatnya dengan lambat-lambat, dan mendengar apa yang saya dengar, betapa pun saya mendengarnya dengan sayup-sayup. Dan mudah-mudahan Allah selalu memberi petunjuk kepada engkau semua, dan kepada saya. Wa bi ‘awni-Hi Ta’ aalaa…

Catatan

Baca Juga:  Membidik Kebahagiaan

*) Dari mana Ibn al-‘Arabi sampai kepada pemikiran bahwa huruf “sin” berasal dari potongan kata “sayid” ini, saya tidak bisa menjawabnya. Karena, sebatas wawasan saya, Ibn al-‘Arabi tak mengungkapkannya secara spesifik. Maklum, Ibn al-‘Arabi sendiri—meski amat setia pada Al-Qur’an dan hadis, sebagai dasar semua pemikiran/gagasannya—menyatakan bahwa apa saja yang diungkapkannya itu semua adalah hasil ilham atau penyingkapan spiritual/kasyf yang didapatnya. Paling banter, kita bisa memverifikasinya lewat pendekatan koherensi, atas sistem pemikiran /kebahasaan/‘irfan—sebut saja, kalau mau, language game—pemikir ini pada umumnya, atau berdasar sistem takwil spesifiknya atas ayat ini, atau pun dengan menggali kesejajaran dengan ayat Al-Qur’an tertentu, seperti yang saya coba lakukan juga sebisanya dalam tulisan ini.

1 Shares:
You May Also Like