Apakah Milik Sufi?

Milik sufi bukan sekadar huruf dan tinta.

Tapi hati putih penaka salju.

Milik cendekiawan adalah

jejak-jejak pena.

Apakah milik sufi?

Jejak-jejak kaki.

Tapi bau rusalah kemudian pembimbingnya.

Setiap maju

Karena bau rusa lebih baik

ketimbang seratus langkah

mengikuti jejak-jejak?

Begitulah salah satu puisi Rumi dalam buku Belajar Hidup dari Rumi: Serpihan-Serpihan Puisi Penerang Jiwa karya Dr. Haidar Bagir. Beliau men-syarah puisi tersebut

Milik sufi bukan sekadar huruf dan tinta. Maksudnya pengalaman tasawuf atau pengalaman ketuhanan tidak bisa dihasilkan dari sekadar membaca buku. Karena pengalaman tersebut tidak bisa diungkapkan dengan utuh ke dalam kata, baik pembicaraan maupun tulisan. Tapi hati putih penaka salju. Yang bisa menangkap pengalaman ketuhanan adalah hati. Dan hati tersebut harus bening.

Milik cendekiawan adalah jejak-jejak pena. Cendekiawan adalah orang yang menggunakan akal dan logika. Sehingga bisa ditampung ke dalam bahasa: percakapan dan tulisan. Berbeda dengan pengalaman tasawuf. Karena luar biasa dahsyat tidak bisa ditampung dengan akal. Hanya bisa ditampung dengan hati yang bersih.

Apakah milik sufi? Jejak-jejak kaki. Milik sufi bukan cerita tentang perjalanan menuju Tuhan, tetapi harus melakukan perjalanan itu sendiri. Satu-satunya jalan untuk sampai kepada Tuhan adalah menjalani perjalanan itu sendiri. Bukan mendengar cerita perjalanan atau membaca kisah perjalanan seseorang. Perjalanan kita sendiri inilah yang disebut suluk.

Tapi bau rusalah kemudian pembimbingnya. Di dalam perjalanan hati kita akan mendapatkan pengalaman langsung. Rumi menggambarkan perjalanan tasawuf seperti perburuan. Di dalam perburuan, kita tidak bisa diberi tahu “Nanti kamu jalan lewat sini, lalu ke sini, maka ketemu rusa”. Tidak mungkin. Satu-satunya jalan kalau kita mau berburu rusa adalah dengan kita mencari tempat di mana rusa itu berada, bahkan sampai merasakan bau rusa tersebut. Jadi betul-betul mengalami secara, apa yang disebut di dalam Al-Qur’an, haqqul yaqin. Bukan hanya ‘ilmul yaqin, bahkan bukan hanya ‘ainul yaqin. Bukan hanya bilang “O rusanya di situ”, atau bukan hanya melihat rusa itu—karena rusa bisa dilihat dari jarak jauh. Namun, sampai membaui rusa tersebut.

Baca Juga:  Dosa & Ibadah dalam Bait Puisi Jalal al-Din Rumi

Setapak lebih maju. Sehingga bau rusa tersebut semakin terasa. Karena bau rusa lebih baik ketimbang seratus langkah mengikuti jejak-jejak. Rumi menggambarkan pengalaman tasawuf seperti membaui rusa tersebut, semakin mendekat, bahkan melihat sampai di depan mata kita. Itulah pengalaman tasawuf yang didapatkan dengan merasakan cita rasa spiritual (dzauq). Bukan dengan membaca orang yang pernah ber-suluk atau mendengarkan cerita orang yang pernah ber-suluk.

Guru sufi tarekat Naqshabandiyah, Syaikh Hisyam Kabbani, yang sekarang berdomisili di Amerika Serikat, menjelaskan dalam Bahasa Inggris tentang Knowledge of Taste

Scholars’ knowledge in front of Awliya is nothing, because Awliya’s knowledge is far above that of any scholar. That’s why Ibn Ajeeba said, al-ʿilm ʿilmaan ʿilmu’l-awraaq wa-ilmu’l-adhwaaq, “Knowledge is of two kinds: Knowledge of Papers (books) and Knowledge of Taste (spirituality).” We want the taste. When we buy honey we check its taste, but submit to Allah’s will, say, “Bismillaahi ‘r-Rahmaani ‘r-Raheem” and eat the honey of Heavens and Paradises.

Imam al-Ghazali dalam Al-Munqidz min al-Dhalal menerangkan bahwa menjelaskan pengalaman ketuhanan atau pengalaman tasawuf seperti menjelaskan rasa apel atau buah apa saja kepada orang yang tidak pernah atau belum pernah memakannya. “Bagaimana rasa apel? O, apel itu manis. Seberapa manis? Apakah ada rasa asamnya? Rasa asamnya bagaimana?” Susah! Cara paling baik untuk tahu bagaimana rasa apel ya dengan memakannya. Pengalaman tasawuf, kata al-Ghazali, tidak bisa dituliskan dan diomongkan. Kalaupun bisa dituliskan atau diomongkan maka akan tereduksi sehingga tidak lagi utuh.

23 Shares:
You May Also Like