Ini adalah bagian tentang mengunggulkan beberapa ayat al-Qur’an di atas yang lain, yang membuat Anda bertanya-tanya dan menduga bahwa keterangan mengunggulkan beberapa ayat di atas yang lain. Padahal, Allah Swt. adalah pemilik semua ayat. Lalu mengapa ada perbedaan? Mengapa ada ayat yang lebih mulia daripada yang lain?
Jawabannya adalah bahwa jiwa tidak dapat membedakan antara ayat, surah yang berisi ayat Al-Ikhlas dan ayat utang-piutang. Demikianlah jiwa Anda yang selalu berteriak, melebihi ulama, meskipun Anda hanyalah taklid. Karena posisi Anda hanyalah taklid, ingatlah posisi Anda dan bergabunglah dengan orang yang diberi risalah—Rasulullah Saw. yang menunjukkan bahwa ayat-ayat tertentu lebih mulia daripada yang lain.
Dalam hal keunggulan al-Qur’an yang bersifat qhawari (bersifat suara yang menghempas karena isi pesannya yang kuat), seperti dalam sabda Rasulullah Saw., “Pembukaannya al-Qur’an itu adalah al-Qur’an yang paling mulia. Ayat Kursi itu adalah pemimpin semua ayat-ayat al-Qur’an, dan ayat Qul huwallahu ahad itu sama dengan sepertiga al-Qur’an dan hadits lainnya. Jika Anda menginginkannya, carilah keterangan-keterangan ini.
Sekarang, kata Imam Al-Ghazali, saya akan mengingatkan Anda tentang makna hadis-hadis ini serta penjelasan tentang mengapa beberapa surat lebih baik daripada yang lain. Saya juga akan mengurutkan al-Qur’an menjadi tujuh tingkatan, yang mungkin sudah Anda kenal. Anda akan mengetahuinya ketika Anda memeriksa al-Qur’an. Kami, lanjut Al-Ghazali, membatasi bagian-bagian al-Qur’an menjadi sepuluh kategori hierarkis.
Rahasia-Rahasia Surat Al-Fatihah
Jika Anda merenungkan, Anda akan menemukan bahwa surat Al-Fatihah, meskipun ringkas, mengandung delapan kandungan. Salah satunya adalah “Bismillahi”, yang mengatakan tentang dzatnya Allah Swt., dan “Arrahmanirrahim”, yang mengatakan tentang sifat dzatnya Allah Swt. Kekhususan dari sifat ini adalah bahwa itu akan menarik semua sifat lainnya, seperti ilmu, qudrah, dan sebagainya.
Sifat tersebut terkait dengan makhluk ciptaan dan karena itu disayangi oleh penciptanya, dan karena hubungan antara Pencipta dan ciptaannya, membuat makhluk rindu terhadap penciptanya dan mendorong mereka untuk menaati Allah Swt. Ini berbeda dengan sifat marah, yang membuat sedih dan menakutkan dan tidak mendorong mereka untuk menaati Allah Swt.
Selanjutnya, frasa atau kalimat “Alhamdulillahirabbil alamin” mengandung dua hal: Pertama, itu adalah pokok pujian; makhluk bersyukur kepada Tuhannya dalam bentuk ini, yang merupakan jalan yang pertama dan separuh dari jembatan shiratal mustaqim. Mengapa hal ini terjadi? Karena amal adalah bagian dari iman (yaitu iman yang dilaksanakan atau bertindak), dan iman terdiri dari dua bagian: syukur dan sabar.
Anda dapat membaca bagian kitab Ihya’ Ulumuddin tentang syukur dan sabar jika Anda ingin mengetahui hakikat-hakikat ini. Syukur lebih penting daripada sabar, dan ini sama seperti rahmat berada di atas kemarahan. Sifat ini adalah inti cinta, serta kenyamanan dan getaran kerinduan.
Dalam hal sabar terhadap ketentuannya (cobaan hidup), Allah Swt. menghilangkan ketakutan dan kecemasan, dan sabar tidak lepas dari kesedihan dan kesulitan. Dan jalan menuju Allah SWT. adalah melalui cinta, dan melakukan amalan dengan cinta lebih penting daripada dengan ketakutan.
Tak hanya itu, dan dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Anda akan mengetahui lebih banyak tentang rindu kepada Allah. Rasulullah Saw. bersabda, “Orang yang pertama dipanggil kepada surga adalah orang yang banyak memuji (bersyukur) Allah SWT setiap saat.”
Anda Tahu! Kalimat “Alhamdullilahirablil alamin” adalah frasa paling sempurna yang mencakup semua tindakan yang dilakukan oleh Allah SWT., termasuk penciptaan alam-alam, yang menunjukkan sang pengelola seluruh alam-alam, yang menunjukkan bahwa seluruh alam diciptakan oleh Allah SWT. sebagai satu-satunya pencipta.
Dan hubungan yang paling penting antara Allah Swt. dan alam adalah hubungan antara Dia dengan manusia. Ini termasuk peran-Nya sebagai pencipta, pemberi rezeki, pemberi ilmu, dan yang paling penting adalah sebagai pengelola, pengurus, atau penjaga. Posisi ini adalah yang terbaik dan paling sempurna dalam memuliakan Allah Swt. sebagai penjaga.
Dan firman Allah, “Arrahmanirrahim”, mengacu pada sifat yang sama dan berbeda. Jangan pernah menganggap pengulangan ini sia-sia karena, meskipun diulang, artinya berbeda. Karena pengulangan “Arrahmanirrahim”,sebelum “Malikiyaumiddin” memiliki dua keuntungan besar yang signifikan dalam menafsirkan secara rinci jalan rahmat yang diberikan kepada makhluk, sedangkan definisi pengulangan itu berarti tidak ada keuntungan tambahan.
Faedah pertama adalah mengarahkan penciptaan alam raya ini (dari yang tidak ada menjadi ada), dan sesungguhnya Allah Swt. menciptakan setiap alam raya secara sempurna, dan Dia memberikan kebutuhan setiap alam raya (makhluk). Alam yang terdiri dari serangga, lalat, laba-laba, dan lebah adalah salah satu ciptaan Allah SWT. Wallahu a’lam bisshawab.