Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  Maqashid Al-Syariah dan Kebebasan Berkeyakinan (2)

Mencoba Meraba Makna Batin Ayat Kursi

"Allah. Tak ada pujaan kecuali Dia. Yang Selalu Hidup dan Jaga (Mengawasi/Melindungi/Memelihara). Tak menghinggapinya rasa kantuk (keterlenaan), tak juga tidur (ketaksadaran). Di bawah genggaman Wujud/Kuasa-Nya semua yang di lelangit (fisik dan ruhani) serta di bumi. (Begitu luhur dia sehingga) tak ada yang mampu membantu menghubungkan (kita, yang fakir) dengan-Nya kecuali sesiapa yang diberi izin/kemampuan untuk itu. Tak lolos dari pengetahuan-Nya apa saja yang dikemukakan atau disembunyikan oleh mereka (para makhluk-Nya). Dan tak ada yang bisa menguasai sedikit pun dari ilmu-Nya kecuali yang Dia kehendaki/beri kemampuan untuk itu. Sedemikian jembar kursi-kendali (kemahatahuan)-Nya (atas segala sesuatu) sehingga mencakupi lelangit dan bumi,. Dan tak membuatnya lelah pemeliharaan keduanya, sedang Dia Mahaluhur dan Maha Agung" (QS. Al-Baqarah [2]: 255).

Ayat ini bicara tentang Allah Yang Maha Transenden (Munazzah/Berbeda dan Terpisah dari ciptaan-Nya) dengan segala Kuasa, Pengetahuan, dan Pengendalian terus-menerusnya atas semua Ciptaan-Nya, tentu dengan merujuk kepada ciptaan-ciptaan-Nya. Lalu, meski seolah sepintas, Allah menyisipkan suatu hal penting di ayat ini. Yakni, tentang adanya perantara-perantara (Rasul-rasul dan Nabi-nabi, serta para awliya')-Nya yang dekat dengan-Nya, memiliki makrifat tentang-Nya, dan dapat menampung imanensi (keintiman)-Nya dengan makhluk-Nya, berkat maqam ruhani mereka. Sehingga melalui mereka kita bisa berharap dapat mencapai (setidaknya maqam-maqam tanzzul)-Nya.

Menarik bahwa ayat tentang para pemberi syafaa'at itu diletakkan di tengah, sejajar dengan peran perantaraan-Nya. Lalu, seolah Allah Swt. tak ingin pembacanya salah paham dengan mengira bahwa Allah bisa dicapai sepenuhnya, menutup lagi dengan ayat-ayat yang menekankan sifat Transendensi-Nya. Jadi, pengungkapan sifat Imanensinya, dihimpit kanan-kiri/atas-bawah oleh ayat-ayat yang menegaskan Transendensi-Nya. Bahwa setinggi apa pun maqam ruhani seseorang, yang bisa diraihnya hanyalah tanazzul-Nya yang Imanen itu. Nabi Muhammad Saw. Sang Insan Kamil (al-Insan al-Kamil) pun paling jauh "hanya" bisa mencapai martabat tanazzul Ahadiyah-Nya. Sedang, Dzat-Nya selalu tinggal sebagai Ghaybul Ghuyub (Yang Gaib dari semua Yang Gaib), dan tak pernah tercapai manusia.

Baca Juga:  Maqashid Al-Syariah dan Kebebasan Berkeyakinan (2)

Ayat ini mencakup tentang Allah Swt. dan alam semesta selebihnya (maa siwa-Allah) dan (cara ber)-hubungan makhluk dengan-Nya. Inilah "koentji". Mungkin itu sebabnya ia disebut ayat Al-Qur'an yang paling agung. Wa-Allah a'lam

Previous Article

Ibnu Rusyd: Syariat dan Takwil

Next Article

Orang-Orang yang Lari dari Kemerdekaan

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *