Our Case Work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligule eget dolor. Aenaen massa, Cum soolis natoque penatibus et magnis dis parturient montes nascetur ridiculus mus

slider1

BRANDING


slider2

BRANDING


slider3

BRANDING


Baca Juga:  Bersembunyi dalam Rahasia Tuhan

Membudayakan Filsafat, Haram?

Pernahkah Anda mendengar tentang satu anggapan bahwa filsafat itu menyesatkan? Atau, mendengar tentang adanya anggapan yang mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu yang mengantar pembelajarnya tidak beragama dan tidak bertuhan? Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini tidak populer didengar oleh Anda. Tetapi, pada kenyataannya, di luar sana yang luas, dengan beraneka corak pandangan dan latar belakang orang-orangnya dalam menafsirkan agama dan ajaran di dalamnya, anggapan-anggapan itu akan Anda temukan pada banyak forum. Lebih-lebih jika Anda adalah pemerhati corak pikiran dalam keagamaan dan peneliti di sekitar bidang itu. Tentu, anggapan-anggapan itu akan Anda temukan dengan sangat mudah di sekitar Anda.

Akan tetapi, pada sisi lain yang berbeda, banyak pula yang pada akhirnya terkagum-kagum dengan filsafat. Bahkan, di antara sebagian dari mereka yang terkagum-kagum itu juga mulai tertarik untuk serius dalam mempelajari filsafat. Mungkin, mereka-mereka yang tergolong muda dan begitu tertarik dengan filsafat belakangan ini diakibatkan oleh pengaruh dari virus kefilsafatan yang disebarkan secara masif di youtube oleh Masjid Jendral Sudirman Sleman Yogyakarta dengan 'Ngaji Filsafat'-nya yang diasuh dan diampu langsung oleh Dr. Fahruddin Faiz, dosen filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan penulis buku-buku filsafat yang telah mengkaji begitu banyak topik dan tokoh filsafat dengan cara yang unik dan menarik di Ngaji Filsafat.

Memang, dua realitas fenomena di sekitar filsafat itu benar-benar hidup di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Yang satu beranggapan filsafat adalah ilmu yang membahayakan hingga diharamkan untuk dipelajari karena menyesatkan dan menjauhkan pembelajarnya dari Tuhan dan agama. Sementara yang satunya lagi justru sebaliknya, menularkan virus-virus cinta dunia filsafat pada siapa pun untuk kemudian tertarik memahami filsafat dan mempelajari filsafat dengan cara yang benar.

Lalu, apa yang penting dibaca dari fenomena-fenomena itu? Apa juga manfaat dari mengangkat dua realitas polemik itu dewasa ini? Apakah masih berguna untuk diketahui bagi generasi muda? Apakah masih relevan juga untuk saat ini?

Perlu kita ketahui bersama bahwa adanya anggapan haram mempelajari filsafat pasti didasarkan pada suatu alasan. Ada dasar pijakan yang digunakan mengapa muncul anggapan yang demikian. Jika anggapan itu tidak memiliki alasan, maka anggapan itu lemah dan tidak perlu dipikirkan terlalu serius. Toh, setiap orang berhak beranggapan, meski anggapannya itu bisa saja tidak berdasar. Jadi, biarkan saja! Tetapi, yang demikian itu jarang terjadi. Biasanya, setiap anggapan yang diikuti oleh orang banyak pasti memiliki alasan atau dasar yang cukup kuat. Minimal, alasan atau dasar dari anggapan itu mampu untuk membuat orang lain terpengaruh dan memiliki anggapan yang sama.

Misalnya ada soal diharamkannya filsafat untuk dipelajari bagi beberapa orang atau kelompok yang bisa jadi disebabkan oleh karakter dari filsafat yang radikal. Barangkali, tafsir radikal ini lah yang perlu dibenahi dan dicari titik tengah arti maknanya jika disebabkan oleh masalah itu. Jangan-jangan, selama ini mereka yang mengharamkan filsafat karena salah memaknai radikal. Hal itu bisa saja terjadi.

Jika bukan tersebab itu, mungkin alasan-alasan diharamkannya mempelajari filsafat tersebab oleh satu produk dari pikiran dalam filsafat yang dianggap berbahaya untuk dipelajari. Boleh jadi, salah satu sebab filsafat dianggap berbahaya untuk dipelajari karena beberapa produk dari filsafat ada yang berlawanan dan tidak sesuai dengan sistem ketuhanan atau sistem akidah dalam agama (tidak sejalan dengan ajaran ketuhanan dalam agama). Sebab itu, beberapa orang atau kelompok memilih untuk mengharamkan mempelajari filsafat dengan maksud untuk mencegah setiap pembelajar agar tidak tersesat dengan isi filsafat yang acapkali membingungkan.

Tetapi, apakah sikap mengharamkan filsafat dengan alasan-alasan yang tersebut di atas itu tepat dan bijaksana? Tentu sangat tidak tepat dan sangat tidak bijaksana. Sangat tidak etis juga rasanya mengharamkan suatu ilmu atau dalam hal ini filsafat, tanpa memahami seluk beluknya secara dalam dan benar. Bagaimana pun, menghukumi perkara tanpa pendalaman atau pengkajian mendalam tentang perkara itu, dalam hal ini filsafat, tidak akan pernah ditemukan titik benarnya dari hasil penghukumannya. Jangan-jangan, yang dihukumi haram itu hanya sebagian kecil dari pikiran-pikiran yang diproduksi oleh orang Barat dalam berfilsafat. Sementara, peran penting filsafat yang begitu banyak dan positif diabaikan tersebab oleh itu hingga diharamkan.

Baca Juga:  Melacak Tradisi Filsafat Ismailiyah

Seharusnya, sebelum memahami produk-produk pikiran dari para pemikir dalam filsafat, apalagi pikiran dari pemikir Barat misalnya, akan lebih baiknya memahami dasar-dasar dari filsafat lebih dahulu. Misalnya tentang pembatasan atas arti dan makna filsafat yang tepat. Kemudian, tentang bagian-bagian dari filsafat yang harus dipahami lebih dahulu seperti misalnya membedakan antara filsafat sebagai metode pemikiran dan filsafat sebagai produk pemikiran.

Dua hal itu, filsafat sebagai suatu metode berpikir dan filsafat sebagai hasil pemikiran, tentu sangat berbeda, meski sama-sama menjadi bagian penting dalam filsafat. Sehingga, dengan memahami terlebih dahulu atas dua hal itu, seseorang akan jauh lebih bijaksana dan lebih baik dalam menilai filsafat. Dengan begitu, sikap mengharamkan filsafat tidak akan pernah muncul dan tidak akan pernah pula terlintas dalam pikiran, jika memahami dasar-dasar daripada ilmu filsafat. Karena telah memahami bagian-bagian dari filsafat dan perannya dalam kerja pikiran manusia sejak awal mempelajari.

Memang, filsafat identik dengan karakternya yang radikal. Tetapi, radikal yang dimaksud bermakna positif, yaitu bermakna mendalam, mengakar, dan mencapai titik yang paling dalam. Andaikan sebuah pertanyaan, maka makna dari radikal dalam filsafat ialah pertanyaan paling ujung dan paling akar yang jawaban dari pertanyaan itu tidak memunculkan pertanyaan lagi. Seperti itu lah gambaran dari makna radikal dari karakter filsafat.

Tampaknya, karakter filsafat yang radikal ini memang acapkali disalahtafsirkan sebagai alasan untuk kemudian filsafat diharamkan oleh beberapa orang. Tentunya, melihat pengharaman akan filsafat karena sebab yang demikian itu seperti ada yang mengganjal dan terlihat cukup lucu bagai sebuah komedi. Yaitu, ketika filsafat diharamkan karena karakter khasnya, radikal. Lebih-lebih, yang mengharamkan filsafat pada kenyataannya belum tuntas pula mengkaji filsafat. Bagaimana bisa, seseorang menghukumi atas suatu ilmu itu haram, sementara ia sendiri tidak cukup ahli dan paham atas ilmu itu. Pastinya, jika dibaca secara nalar sehat, penghukuman yang dilontarkannya itu tidak akan ditemukan titik keabsahannya, alias tidak perlu ditanggapi serius karena sangat lemah.

Lalu, alasan apa yang sebenarnya menjadi pijakan penghukuman haram atas filsafat untuk dipelajari? Tidak ada alasannya. Sebab itu, sampai kapan pun, filsafat tidak pernah bisa dihukumi haram untuk dipelajari. Ketika muncul orang-orang atau kelompok yang mengharamkan filsafat untuk dipelajari, mungkin ia menghukumi haram atas filsafat untuk dipelajari dirinya sendiri. Dan, itu sah-sah saja. Boleh jadi ia mengharamkan filsafat karena ia tidak suka dengan pelajaran berpikir. Atau, jangan-jangan, ia tidak suka filsafat karena punya pengalaman yang dianggapnya buruk ketika ia bertemu dengan orang-orang di lingkar pembelajar filsafat yang cenderung kritis dan dianggapnya menyusahkan. Sehingga, sebab-sebab yang tidak matang itu membuatnya mengharamkan filsafat untuk dipelajari bagi dirinya sendiri.

Tetapi menjadi kekeliruan yang fatal ketika orang tersebut memaksakan penghukumannya yang mengharamkan filsafat kepada orang lain dengan maksud agar orang lain tidak mempelajari filsafat sebagaimana dirinya. Tentu, yang dilakukannya ini justru sangat menyesatkan. Karena ia memaksakan anggapannya yang keliru dan sangat lemah argumentasinya kepada orang lain atas penghukumannya haram terhadap filsafat yang tidak pernah ditemukan kebenaran atas penghukumannya. Sebab itu, penghukumannya atas filsafat itu tidak akan pernah sah dan tidak akan pernah juga bertemu dengan kebenaran publik yang justru menghukumi sebaliknya, filsafat penting dan harus dipelajari.

Sampai kapan pun filsafat adalah satu ilmu yang sangat berguna dan dibutuhkan oleh manusia dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Ia berguna untuk menjawab banyak tantangan dan polemik yang dihadapi manusia dengan sistem analisisnya yang kritis dan tajam. Serta, ia berperan penting untuk menemukan kebenaran dalam pengembaraan manusia ketika mencari Tuhannya dalam agama dan keyakinannya. Belum lagi dengan perannya yang begitu besar dan sering digunakan dalam lingkar pendidikan, penelitian, dan penulisan, dengan metode berpikirnya yang kritis juga tawaran pembacaannya yang melimpah. Ini lah gambaran bahwa filsafat begitu berperan dalam kehidupan manusia dan segala bidang keilmuan.

Baca Juga:  PERTAMA KALI TERJAGA TENTANG KESATUAN TRANSENDENTAL AGAMA-AGAMA

Harus diakui bahwa ilmu pikiran sebagaimana filsafat akan selalu dibutuhkan dalam setiap bidang keilmuan. Tak ada satu bidang keilmuan apa pun yang tidak membutuhkan kerja pikiran atau kerja filsafat. Lebih dari itu, sifat mempertanyakan dan mempertajam suatu analisis atas suatu kajian keilmuan sangat kental dan khas akan kerja filsafat yang radikal. Dalam konteks ini, filsafat sebagai suatu metode memang sangat berguna dan selalu dibutuhkan dalam bidang keilmuan apa pun.

Untuk itu, bagi siapa pun yang sedang tertarik mempelajari filsafat, Anda mesti memahami tentang bagian-bagian penting dan dasar dari filsafat. Dalam hal ini, Anda mesti memahami filsafat sebagai sebuah metode dan filsafat sebagai sebuah produk. Dengan memahami secara mendalam dua hal tersebut, Anda akan mampu menggunakan filsafat secara tepat sebagaimana kebutuhan yang Anda perlukan. Jika Anda tidak memahami perbedaan di antara keduanya, rasa-rasanya Anda akan kesusahan dalam menggunakan filsafat sebagaimana seharusnya. Dan mungkin Anda akan terjerumus pada kebingungan pikiran yang tidak usai.

Membudayakan berfilsafat sudah semestinya disadari sejak dini. Minimal, Anda mengetahui bahwa ada satu ilmu yang membantu manusia mempertajam analisis kerja pikirannya atas apa pun. Tak lain, ilmu itu adalah filsafat. Lebih tepatnya, Anda perlu memahami metode-metode dalam filsafat sebagai salah satu wawasan yang penting untuk membantu Anda membaca atas banyak persoalan dan peristiwa dengan cara pandang yang lebih luas dan lebih kaya akan keterangannya serta argumentasinya. Dengan begitu, Anda akan jauh lebih bijaksana dalam menjawab dan menanggapi banyaknya polemik dalam masalah apa pun.

Menggunakan filsafat sebagai suatu metode memang sangat disarankan. Lebih-lebih bagi manusia muda dengan segala polemiknya dewasa ini yang lahir bersama melesatnya transformasi teknologi dengan daya rusak psikologisnya yang luar biasa. Paling tidak, dengan cara pikir kritis yang telah dikonsepkan dalam kerja filsafat sebagai suatu metode, generasi muda mampu menggunakannya untuk kebutuhan ketenangan dan kebahagiaannya di tengah-tengah tawaran-tawaran ketenangan dan kebahagiaan yang ditontonnya di media sosial.

Belakangan ini, membudayakan berfilsafat agaknya menjadi pilihan yang sangat dianjurkan bagi setiap manusia, khususnya manusia muda. Memang, filsafat sebagai suatu metode memiliki banyak sekali dampak positif bagi pembelajarnya. Selain mendorong manusia lebih kritis dan lebih tajam dalam menganalisis, siapa pun yang mendalami filsafat sebagai metode dalam kerja pikirnya dengan cara yang tepat dan sesuai, ia akan lebih mudah tenang dalam menghadapi segala arus perubahan dan segala permasalahan.

Tampaknya memang filsafat harus dikenalkan sejak dini kepada pelajar. Mungkin di antara cara dan langkahnya ialah dengan memasukkan pembelajaran filsafat pada suatu wadah organisasi. Katakanlah misalnya, filsafat mulai dikenalkan kepada generasi kader NU dari tingkat ranting hingga tingkat Cabang Kota dan Kabupaten. Sebab, sebagian besar kadernya merupakan pembelajar, baik dari yang setingkat dengan Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah Pertama hingga Pesantren atau lulusan Perguruan Tinggi.

Tetapi, harus pula diperhatikan akan banyaknya kosakata dalam filsafat yang perlu dicari persamaannya dalam bahasa Indonesia dengan gaya bahasa yang ringan supaya mudah dipahami oleh pelajar jika masuk ke wilayah pembelajar. Lebih-lebih pada tingkat SD, SMP, dan SMA. Mungkin, penggunaan dan alur pemahaman yang diantar dengan gaya bahasa yang populer dan ringan adalah satu pilihan yang tepat sebagai pengantar memahami permukaan atau dasar-dasar dari filsafat. Tentu, tujuannya ialah agar makna yang terkandung dalam filsafat bisa dipahami dengan cukup mudah oleh pembelajar.

Jangan sampai, para pembelajar terkena virus buruk lebih dulu dari orang-orang yang mengharamkan filsafat. Sebab, pengharaman atas filsafat pasti keliru dan tidak ditemukan benarnya. Mungkin pada beberapa produk filsafat ada yang tidak sesuai dengan sistem ketuhanan, tetapi jika satu sebab itu kemudian filsafat diharamkan, pasti lah penghukumannya itu tidak lah sah dan tidak benar. Tampak pula sangat tidak bijaksana jika penghukuman haram atas filsafat dilakukan.

Sampai kapan pun mempelajari filsafat tidak bisa diharamkan. Justru dengan mempelajari filsafat lah manusia akan lebih terasah pikirannya. Tak itu saja, analisis manusia dalam membaca tentang permasalahan apa pun yang dihadapinya akan jauh lebih tajam dan jauh lebih baik. Sebab itu, filsafat mesti dibaca dan dipahami sejak dini oleh pelajar. Jika pada tingkat pendidikan setingkat SD, SMP, dan SMA, belum tersedia mata pelajaran filsafat, mungkin melalui ekstrakulikuler dan jam tambahan filsafat bisa dikenalkan.

Baca Juga:  Ayo Bertasawuf

Hanya saja akan lebih baik jika Anda sebagai pembelajar mulai menyadari akan kebutuhan Anda dengan filsafat. Semestinya, sebagai manusia yang masih beproses menuju kesadaran yang mencerahkan, Anda mesti sadar betul akan kebutuhan dengan filsafat. Rasa-rasanya, kebutuhan Anda akan filsafat tidak perlu dijembatani oleh orang ketiga atau dengan suatu sistem. Anda bisa memahaminya sendiri dan memulainya lebih serius mulai dari sekarang. Sebab itu, mulai lah memahami filsafat dengan dasar-dasarnya dan bagian-bagian pentingnya lebih dulu. Jangan sampai kemudian Anda menjadi satu generasi yang justru mengharamkan filsafat untuk dipelajari.

Selagi masih muda, sesekali bacalah filsafat dengan cermat. Tak perlu pikiran yang tinggi-tinggi dan pikiran yang serius-serius lebih dulu, mulai lah dengan yang mudah-mudah dan dasar-dasar. Itu akan lebih baik. Buat lah lingkar pelajar filsafat yang maju dan bertumbuh. Kelola pikiran dan jiwa dengan cara berpikir yang sehat dengan memahami filsafat dengan jalan yang tepat.

Jika Anda memahami filsafat dengan cara yang tepat, Anda akan lebih banyak jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dibingungkan selama ini. Analisis Anda akan jauh lebih tajam. Pembacaan Anda akan lebih luas. Kebijaksanaan Anda akan lebih melimpah.

Selain itu, Anda juga akan menemukan banyak sekali ketakutan dan kekhawatiran yang Anda rasakan selama ini sebenarnya tidak diperlukan dengan memahami filsafat. Dengan begitu, kecemasan Anda akan masa depan dan hari panjang esok hari tidak terlalu berlebihan. Bahkan, dengan filsafat pula, dalam hal ini pikiran yang ditawarkan filsafat Stoik misalnya, Anda akan menemukan satu ketenangan dan kebahagiaan yang sederhana dan meringankan. Dan itu sangat relevan dipahami di abad ini sebagai satu sikap dan solusi atas maraknya bencana psikologis pada jiwa muda dewasa ini.

Memang, pada beberapa sisi, permulaan orang-orang yang mulai memijakan kakinya untuk belajar filsafat ia akan tampak sedikit menjengkelkan dengan karakternya yang ngeyel (ncrekalan) dan radikal amatiran. Biasanya hal itu tersebab oleh sedikitnya pustaka yang baru dikonsumsi pikirannya. Tetapi, hal itu cukup lumrah dimaklumi beberapa orang, meski pada dasarnya bisa dihindari dengan cara menjadi pendengar yang baik dan berbicara seperlunya dengan isi yang penting-penting saja. Yang tidak penting tidak perlu dibicarakan. Lebih-lebih dalam forum resmi.

Membudayakan pikiran untuk berfilsafat sangat penting bagi pemuda, pembelajar, dan santri, dewasa ini. Dengan filsafat yang dipelajari dengan cara yang benar dan tepat, seseorang akan lebih mudah memilah dan memilih hingga mengambil hal-hal yang baik atau pesan-pesan yang dirasa perlu dan penting bagi dirinya. Semua masalah akan lebih mudah dijawab dengan penalaran yang tersistem dan sehat. Pikiran akan lebih terlatih untuk membaca kondisi apa pun dengan ketajaman analisis yang telah terasah karena memahami filsafat sebagai metode berpikir. Sebab itu, mempelajari filsafat sangat lah dianjurkan sejak dini. Dan, pengharaman atas filsafat tidak akan pernah dibenarkan oleh publik karena kelemahan argumentasinya. Justru dengan filsafat lah seseorang akan lebih melimpah pola pikir kebijaksanaannya. Ia akan lebih banyak pertimbangan dalam mengambil suatu sikap atas masalah apa pun.

Oleh sebab itu, pelajari lah filsafat dengan tertib. Mulai lah dari yang dasar-dasar lebih dulu dengan memahaminya secara matang sebelum ke produk-produk pikiran filsafat yang begitu beraneka ragam dengan dasar argumentasinya yang kuat. Sebab, tanpa memahami dasar dan bagian-bagiannya dengan matang, lalu terjun ke dalam produk-produk pikiran yang dihasilkan para filosof, dikhawatirkan akan terombang-ambing dalam ketidakjelasan dan kebingungan pandangan yang panjang. Ini lah salah satu bahaya dari filsafat yang dipelajari dengan cara yang tidak tepat. Lebih-lebih sebagai pembelajar, sudah seyogyanya membaca filsafat sebagai suatu pendekatan yang bisa digunakan untuk bertanya dan memahami suatu ilmu agar tidak terjerumus pada kesalahan-kesalahan yang fatal sebagaimana orang-orang yang mengharamkan filsafat misalnya.

Previous Article

Seandainya Aku Bukan Bagian dari Simurgh!

Next Article

Rasulullah: Tugasku Memperbaiki Akhlak Umat Manusia

Write a Comment

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *